Riwayat Puasa Nabi
Adam AS

Apakah Semua Umat Sebelum Nabi Muhammad Disyariatkan Berpuasa?

Berbicara puasa umat-umat terdahulu, termasuk para nabinya, tentu tidak lepas dari ayat dalam surat Al-Baqarah: 183, yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

Ayat di atas, dari sudut kebahasaan (lughawi), memberikan pemahaman bahwa puasa sudah disyariatkan kepada umat-umat sebelum umat Nabi Muhammad SAW. Sejak Nabi Adam AS sampai Nabi Isa AS. Tentunya syariat puasa yang diwajibkan kepada orang-orang sebelum Islam memiliki tujuan dan cara tersendiri. Jumlah harinya mungkin bisa lebih atau kurang dari hari-hari puasa kita (umat Muhammad SAW).

Dari sudut logika (manthiqi) ayat di atas juga bisa dipahami bahwa “orang-orang sebelum kamu” yang dimaksud dari ayat di atas adalah umatnya Nabi Isa AS saja. Pemahaman ini berangkat dari kalimat “الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ” yang dianggap tidak mewakili semua umat, namun hanya sebagian saja. Hal ini dikarenakan lafaz yang umum, yang sebelumnya tidak dibatasi dengan lafaz al-kull (الكلّ) dipastikan memberikan petunjuk (dilalah) makna sebagian (al-ba’dh; البعض atau al-juz`; الجزء), dan diasumsikan (zhanni) memberi makna keseluruhan/ al-kull (الكلّ). Sehingga, kalimat الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ, yang merupakan kalimat yang umum, tidak menunjukkan makna semua orang-orang (umat) sebelum Nabi Muhammad SAW, tapi yang pasti hanya menunjukkan sebagian umat-umat terdahulu.

Berbeda apabila kalimat الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ diawali dengan lafaz al-kull (menjadi كُلّ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ), akan memberikan makna semua orang-orang terdahulu, mulai dari Nabi Adam AS sampai Nabi Isa AS. Oleh karenanya, dengan sudut pandang manthiqi, ayat tersebut tidak menyatakan bahwa puasa diwajibkan pada semua umat manusia sebelum Nabi Muhammad SAW, akan tetapi hanya umat yang benar-benar hidup sebelum Nabi Muhammad SAW saja, yakni umat Nabi Isa AS.

Terlepas dari kedua pemahaman tafsir tersebut, harus ada data yang sahih, yang secara eksplisit bisa menunjukkan ada dan tidak adanya puasa Nabi Adam AS. Hal ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana puasanya, berapa lama waktunya, hukum-hukum yang terkait dengan puasa Nabi Adam AS. Dan itu harus ditemukan jawabannya, baik jawaban yang menafikan puasa yang dilakukan Nabi Adam AS maupun yang jawaban yang memastikan adanya puasa yang dilakukan Nabi Adam AS.

Validitas Dalil Puasa Nabi Adam AS

Nabi Adam AS mengalami dua fase kehidupan, yakni kehidupan di surga dan dunia. Di surga, Nabi Adam AS dan isterinya dilarang oleh Allah SWT memakan buah dari pohon terlarang (QS. Al-Baqarah: 35 dan QS. Al-A’raf: 19). Akan tetapi larangan itu tidak terbatas oleh waktu (وقت مؤقت), yang biasa diperhitungkan dalam puasa syar’i,[1] dan hanya satu jenis makanan saja yang dilarang. Satu hal lagi, saat itu Nabi Adam AS berada di surga, dan surga bukan medan taklif. Allah SWT sendiri menjamin bahwa Nabi Adam AS tidak akan mengalami rasa lapar dan haus di Surga (QS. Thaha: 18-19).

Saat Nabi Adam AS dan Hawa turun ke dunia, tidak ada data sahih yang menyebutkan puasa Nabi Adam AS. Ada beberapa riwayat yang menyebutkan puasa Nabi Adam AS, akan tetapi riwayat-riwayat tersebut divonis palsu dan lemah. Di antaranya adalah riwayat yang berbunyi:

 افترض الله على أمتي الصوم ثلاثين يوما، وافترض على سائر الأمم أقل وأكثر، وذلك لأن آدم لما أكل من الشجرة بقى في جوفه مقدار ثلاثين يوما، فلما تاب الله عليه أمره بصيام ثلاثين يوما بلياليهن، وافترض عليَّ وعلى أمتي بالنهار، وما نأكل بالليل تفضل من الله عزوجل

Allah SWT mewajibkan puasa atas umatku selama 30 hari. Allah juga mewajibkan puasa atas umat-umat lainnya, baik lebih sedikit dari 30 hari ataupun lebih banyak. Hal ini dikarenakan Nabi Adam AS. ketika memakan buah dari pohon terlarang, masih tersisa di dalam perutnya selama kira-kira 30 hari. Saat Allah menerima taubat Nabi Adam AS, Allah memerintahkannya untuk berpuasa selama 30 hari 30 malam. Allah mewajibkan padaku dan pada umatku berpuasa pada siang hari. Apa yang kami makan pada malam hari adalah anugerah dari Allah Azza wa Jalla”.

Hadis di atas termasuk dalam hadis-hadis palsu dalam buku Kitâb Al-Maudhû’ât anggitan Ibn Al-Jauzi. Di dalam rantai sanadnya terdapat nama Musa bin Nashr yang oleh Al-Khathib dinilai tidak kredibel (ghair tsiqqah). [2]

Pun demikian dengan riwayat yang dinisbatkan pada Sahabat Ibn Mas’ud tentang puasa tengah bulan (أيام البيض) yang mengisahkan Nabi Adam AS di perintahkan turun ke bumi dalam keadaan hitam legam tubuhnya. Lalu Allah memerintahkannya untuk berpuasa pada hari ke-13, 14, dan 15. Dalam riwayat ini terdapat dua orang yang tidak disebutkan dalam rantai sanadnya sehingga ditengarai pendusta.[3]

Adakah Syariat Puasa Pada Nabi Adam AS dan Umatnya?

Meskipun tidak ada data yang sahih, bukan berarti kita menafikan syariat puasa Nabi Adam AS dan umatnya. Ada dan tidak adanya syariat puasa Nabi Adam AS perlu data yang valid dan sahih. Hadis-hadis Nabi SAW tidak ada satu pun yang sahih perihal puasa Nabi Adam AS dan umatnya. Yang ada hanyalah riwayat-riwayat yang memperkaya kisah-kisah nabi dan umat terdahulu sebagai ‘hiburan’ bagi orang-orang awam (meskipun banyak yang tidak sahih).

Demikian juga, tidak ada data yang menunjukkan tentang ketiadaan syariat puasa pada Nabi Adam AS. Oleh karena, kita tidak memvonis bahwa syariat puasa pada Nabi Adam AS dan umatnya tidak ada, begitupun sebaliknya. Masing-masing pendapat itu masih membutuhkan data dan dalil yang valid dan sahih. Wa Allâhu A’lam.

 

__________________________________

[1] Dalam syariat Nabi Muhmmad SAW puasa memiliki waktu terbatas, yakni mulai terbit fajar sampai tenggelamnya matahari pada bulan Ramadan setiap tahunnya.

[2] Ibn Jauzi, Kitâb Al-Maudhû’ât, Juz I (Madinah: Al-Maktabah Al-Salafiyyah, 1966), h. 186

[3] Al-Dzahabi, Tartîb Al-Maudhû’ât, (Beirut: Dâr Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1994), h. 146.