Solidaritas Asia Afrika Dalam Kenangan

“Meneropong masa lalu selalu menjadi pekerjaan yang paling menyedihkan. Dikala konflik menguat, kita dirudung kerinduan atas pemandangan sejarah yang harmonis. Dikala dramatisasi hadir dalam politik, kita dirudung sikap skeptis dan mati rasa atas euphoria.”

Iman Zanatul Haeri

Baru-baru ini saya memperkenalkan santri untuk mengenal langsung surat kabar pada era kemerdekaan. Tujuannya sederhana, agar mereka memahami jiwa zaman pada saat itu. Salahsatu lembaran Koran Sinar Matahari bertarikh 1943 yang saya tunjukan berjudul  “Perdjoeangan India Melawan Inggris tidak ada Kompromi”.

Saya kira, semangat yang dimaksud sudah hilang ditelan zaman. Orang-orang tidak lagi mampu memahami semangat orang-orang India untuk merdeka. Malah, kita sekarang dikejutkan oleh konflik yang semakin memanas antara India dan Pakistan. Konflik tersebut menjauhkan kita dari ingatan, bahwa pernah dalam sejarah, Bangsa India bersatu. Kita tidak sedang mengatakan bahwa keberadaan Negara Pakistan menjadi tidak relevan.

Dalam Sejarah, banyak nama yang kita sematkan pada Bangsa India. Seperti orang Gujarat, bangsa Keling hingga Hindustan. Dalam pelajaran Sejarah sendiri, India adalah bangsa yang memperkenalkan agama dan kebudayaan Hindu-Budha ke Nusantara. Warisan India meliputi bahasa Sansekerta, agama, system politik kerajaan, nilai-nilai kebudayaan, cerita pewayangan hingga pernak-pernik hiasan. Dennys Lombard menyederhanakannya dengan menyebut ‘proses Indianisasi’. Persepsi demikian sangat lumrah dipakai para Indonesianis (pakar Indonesia dari luar).

Hal ini berpengaruh terhadap penamaan ‘Samudra H-india’, padahal Samudra tersebut membentang dari Madagaskar, Sumatera hingga Australia Barat. Bahkan ketika mengawali proses Kolonialismenya, Belanda menyebut Nusantara sebagai “East Indies’ yang berarti India bagian Timur. Karena sudah dijajah, maka dirubah menjadi ‘Dutch East Indies’. Artinya India Timur kepunyaan Belanda.

Anggapan bahwa Nusantara hanya other atau ‘sisi kiri’ India masih kental. Wajar bila tokoh pergerakan Nasional memilih nama yang lebih baru dan modern—Indonesia, yang bisa melepaskan diri dari ikatan wacana pengetahuan kolonial. Setelah Perang Dunia Kedua, pemerintahan-pemerintahan kolonial hancur, dan bangsa-bangsa Asia Afrika mulai menggapai kemerdekaannya masing-masing.

SALING MEMERDEKAKAN

Setelah masa kemerdekaan berlalu, kini berdiri masing-masing Negara Indonesia, India dan Pakistan. Bersama dua Negara tersebut Indonesia pernah dalam satu forum; Konferensi Asia-Afrika (KAA), Gerakan Non-Blok (GNB) dan Organisasi Konferensi Islam (OKI). Kini memanasnya hubungan India dan Pakistan menggerakan sentimen agama Hindu dan Islam serta menghilangkan solidaritas yang pernah ada.

Padahal, setelah Proklamasi Indonesia, solidaritas antar bangsa—termasuk India dan Pakistan—turut membantu kemerdekaan kita. Para veteran Perang masa Kemerdekaan (1945-1949) sering mendapati tentara India-Pakistan sebagai pasukan Inggris (Sekutu) yang mogok berperang ketika berhadapan dengan tentara Indonesia. Mereka tidak punya alasan memerangi bangsa Indonesia, sebagian malah berada di pihak Indonesia.

Dalam film dokumenter yang dibuat oleh Joris Ivens berjudul Indonesia Calling (1946), terasa betul bagaimana ‘perjuangan kemerdekaan suatu bangsa’ didukung penuh oleh bangsa lainnya. Pada saat itu Kapal Belanda yang hendak ke Pulau Jawa dalam rangka Agresi Militer tertahan dipelabuhan-pelabuhan Australia karena secara tiba-tiba para buruh pelabuhan tersebut memilih mogok kerja.

Setelah diusut, ternyata para buruh yang berlatar bangsa Eropa, Cina, India, Pakistan dan lainnya bersepakat untuk membantu kemerdekaan Indonesia dengan cara mogok kerja di kapal Belanda. Dalam film tersebut juga muncul beberapa pengusaha Tiongkok di Australia yang memberikan sumbangan uang dalam rangka mendukung logistik kemerdekaan Indonesia. Ikatan solidaritas yang menjahit rasa persamaan antara buruh kulit putih, Cina, India dan Pakistan menjadi semangat baru bagi bangsa Indonesia untuk percaya diri atas kemerdekaannya.

Pada lain kesempatan, Konferensi Asia-Afrika (KAA) juga memberi ruang seluas-luasnya bagi solidaritas antar bangsa terjajah. Saat itu gagasan Soekarno yang anti kolonialisme-Imperialisme diterima oleh seluruh rakyat Asia Afrika. Salah satu dampaknya adalah keterangan pejuang anti kejahatan ras (Apartheid) Afrika Selatan, Nelson Mandela yang mengaku sering mendengarkan pidato Bung Karno di radio sejak muda. Belakangan, Mandela mengaku kunjungannya tahun 1990an ke Indonesia hanyalah napak tilas Soekarno—tokoh inspiratif baginya.

Jarang diketahui setelah KAA 1955, perjuangan dilanjutkan dengan resolusi Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) yang dilaksanakan di Bandung 10 tahun kemudian, dari tanggal 6-14 Maret 1965. Meskipun yang melakukan konferensi hanyalah perwakilan Islam, namun hasil rekomendasi konferensi ini meluas dan dapat diterima semua bangsa anggota Asia Afrika. Berikut isi deklarasi:

“bahwa adalah tugas jang sutji bagi setiap orang Islam untuk melenjapkan segala bentuk kedzaliman, penindasan, pemerasan, diskriminasi …”(KIAA, 1965:10)

Patut diketahui Ketua atau Presiden Dewan Pusat Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) adalah Ketua II PBNU, Yaitu KH Achmad Sjaichu (2008: 14; 2015: 496). Artinya Nahdathul Ulama menjadi saksi dan pelopor akan peristiwa penting, yaitu terjalinnya solidaritas antarbangsa. Mengenai masa-masa yang patut dikenang ini, Prof KH Said Aqil Siraj pernah menyampaikan bahwa raja Faisal bin Abdul Aziz yang naik tahta tahun 1964 berhasil mengembangkan nilai-nilai solidaritas antar bangsa. Berbeda dengan pendahulunya dan penerusnya, beliau berhasil mendamaikan Negara-negara Arab yang berseteru, selain bahwa didalam negeri ia berhasil menghapuskan perbudakan untuk pertama kalinya.

Bisa dikatakan bahwa para pemimpin politik yang hadir dan ikut dalam Solidaritas antarbangsa Asia-Afrika saat itu, seperti Indonesia, India, Pakistan, Mesir bahkan Arab Saudi merupakan generasi emas yang berhasil menyalin rasa solidaritas, yang terlepas dari segala bentuk diskriminasi. Kenyataan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa solidaritas antar bangsa bisa terbentuk kembali tanpa harus menghancurkan kebangsaan itu sendiri. Kita patut bangga sebab Indonesia terbukti sebagai pihak yang mempelopori semua itu.

Jakarta Selatan, 12 Maret 2019

 

Sumber:
Dokumen:
Deklarasi Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) 6-12 Maret 1965 di Bandung. Penerbit: Firma Harris
Buku:
Suryanegara, Ahmad Mansyur. 2015. Api Sejarah 2: Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bandung: Surya Dinasti.
Chisaan, Choirotun. 2008. Lesbumi: Strategi Politik dan Kebudayaan. Yogyakarta: LKiS.