Kutukan
Peradaban

Ia caci maki habis peradaban dengan segala sifat keji karena sudah melahirkan tablet gila yang mereka namai radio dan televisi. Ya, radio dan televisi adalah dosis ekstra tanpa henti yang memaksa manusia menjadi gila tanpa terasa.

Dalam siaran berita ia mendengar kabar tentang pemberontakan kaum revolusioner miskin yang ingin merebut kembali wilayahnya. Dengan penuh semangat ia ikuti berita itu. Sekarang mereka telah merajalela ke daerah-daerah. Janji Tuhan seolah telah menjadi kenyataan. Ia putar gelombang radio ke setiap saluran. Ada lagu-lagu perjuangan, pidato-pidato, dan dialog-dialog. Jemarinya bergerak riang.

Ia berlaih ke pesawat televisi. Ia tekan tombol remot ke satu saluran. Seorang penyiar sedang berbicara dengan penuh semangat. Terlihat juga kerumunan orang banyak. Suasana berita sangat menyita perhatian. Penyiar mengalihkan laporan kepada seorang pemimpin yang sedang berpidato mengajak rakyat untuk menjadi sukarelawan dalam perlawanan yang sudah semakit dekat. Terdengar suara peluit. Ia gemetar takut kalau saja rakyat menolak ajakan pemimpin revolusi tersebut.

Ia lebih mendekat ke pesawat televisi. Ia sangat terkejut saat penyiar tiba-tiba menyampaikan berita pertandiangan sepak bola di sebuah stadion. Ia menduga berita tentang pemberontakan belum tiba waktunya. Mungkin harus menunggu barang satu jam lagi karena biasanya berita disiarkan tepat jam sepuluh.

Jam menunjukan angka sepuluh. Penyiar membacakan berita pertama tentang pemberontakan. Dengan penuh semangat penyiar membacakan berita itu. Intonasinya terasa kuat dan tajam. Ia gemetar ketakutan. Akhirnya berita tentang negaranya dimulai. Sebentar lagi sang pemimpin akan muncul seperti biasa untuk menyampaikan pidato yang berapi-api. Kali ini keringat akan lebih banyak bercucuran dari pada sebelumnya, dan memang harus seperti itu.

Di akhir berita, penyiar memberitahukan akan bergabung dengan saluran asing untuk menyiarkan kembali pertandingan bola yang sedang berlangsung di lapangan kebebasan. Ia tak putus asa, mungkin penyiar itu kurang lihai mengatur acara, karena program televisi di negaranya diatur sedemikian rupa oleh pihak stasiun asing. Atau mungkin juga hal itu dilakukan untuk persiapan kemunculan sang pemimpin, dan tentunya ini membutuhkan cukup waktu.

Ia masih menonton pertandingan bola. Imajinasinya melanyang-layang. Lapangan berubah menjadi medan perang. Para pemain menjadi bala tentara dan wasitnya menjadi penyiar tanpa tongkat Musa, yang bisa menjatuhkan puluhan pesawat dari jarak kejauhan dengan santai. Petualangan imajinasinya tak lama. Pertandingan telah usai. Dan penyiar mengabarkan bahwa program wawancara dengan sang pemimpin akan segera dimulai.

Ia senang, prasangkanya benar. Zaman yang ia alami mampu melahirkan para pahlawan setelah begitu lama dilanda keguguran yang menyebabkan janin-janin memburuk dan mati. Ia membenarkan posisi duduk walau masih saja terasa tak tenang. Sang pemimpin muncul tidak mengenakan pakaian medan perang seperti yang dikira, tetapi memakai kemeja sutra dipadu dengan jas mewah nan rapih. Harum parfum begitu menyengat sampai-sampai layar televisi sobek dan harum baunya tercium. Ia bersin dan mengosok-gosok kedua matanya. Ia sangat terkejut melihat layar televisi karena sang pemimpin sedang dalam pertemuan penting dengan dua penari wanita yang tersohor dengan keindahan ini dan itu.

Ia melompat ke arah televisi lalu dimatikan. Ia gusar. Televisi itu ia lempar dengan sepatu bot. Ia ludahi layarnya. Sedang sang pemimpin tetap santai dalam acaranya. Istrinya cepat-cepat menghampiri dan mendekapnya. Tetapi sang suami malah mendorongnya. Sang istri pun lari ke jalan meminta pertotolongan kepada para tetangga. Dengan seger, mereka datang menyaksikan aib dan cela.

Ia mencaci dan memaki, bukan pada sang pemimpin, dan tuhan mengetahui itu. Namun ia mencaci peradaban juga memaki kehidupan. Akhirnya Mereka membawanya ke rumah sakit jiwa. Kemudian dokter memeriksanya dan menulis di secarik keratas: gila staduim tinggi, harus dikurung beberapa saat!

Ia pun ditahan untuk sementara waktu. Sementara adalah rentang waktu yang aneh karena bisa pasang-surut. Dan sementara yang harus dijalaninya adalah seperti yang telah aku sampaikan di atas. Adapun sang istri, oleh para kerabatnya ia dituduh telah melakukan konspirasi. Kata konspirasi adalah istilah yang lebih populer dari pada roti. Mereka bilang kalau istrinya punya hubungan gelap dengan tetangganya. Juga ingin menguasai kekayaan dan televisi suaminya. Mereka pun mengusir sang istri dari rumah. Sang istri menerima dan membenarkan tuduhan itu karena sering mendengar, walaupun ia sendiri tidak tahu tetangga mana yang punya hubungan khusus dengannya.

Karena pengadilan tak bisa membagi harta warisan -sebab si gila masih hidup, maka para kerabatnya datang ke kuburan seolah-olah memastikan kematiannya. Setelah itu, mereka membagi harta peningglan termasuk televisi laknatnya itu. Dan karena aku adalah teman karibnya, tentu saja aku mendapatkan jatah, walaupun harus menerima bagian yang paling berharga, yaitu gilanya.

 

Diterjemahkan oleh Sofwan Yahya dari buku ملف مجنون (Dokumen Si Gila) karya Dr. Mahdi Imberesh 1991, dengan judul asli لعنة الحضارة.

Prof. Dr. Mahdi Imberesh. Pemikir dan penulis dari Libya. Lahir pada 1950 di Kota Surman, Libya. Meraih gelar Magister Sastra Bandingan dari Universitas Arizona – Amerika, Doktor Filsafat Sejarah Politik dari Universitas Leipzig – Jerman, dan Doktor Filsafat Peradaban dari Universitas Al-Fatih Libya.

Pada era Muammar Qaddafi, Mahdi Imberesh menempati posisi-posisi penting pemerintahan. Ia pernah menjabat Menteri Kebudayaan Libya, Duta Besar Libya untuk Jerman, Ketua Academy of Jamahiriya Thought, dan Wakil Ketua World Islamic Call Society. Karya-karyanya membicarakan keislaman, sastra, sosial, dan politik.