Mati karena Pikiran

Sekilas tak ada yang berubah. Wajah alam tetap sama dari hari ke hari. Sinar mentari berkilauan pada apapun yang disentuhnya. Gemerisik dedaunan yang ditiup semilir angin. Kupu-kupu yang terbang menyelinap di antara tanaman liar. Semuanya adalah teman seperjalanan Suharjo di siang berangin itu. Denting suara mangkuk baksonya berpadu dengan musik alam di jalanan kampung yang tampak lengang. Ketenangan terbayang pada wajah lelaki tua tersebut. Kakinya melangkah ringan mendorong gerobak, siap menjalani hari baru di musim corona ini.

Suharjo sadar suara panggilan sendok di atas mangkuknya tidak lagi menggugah pelanggan seperti dulu. Suasana sepi seperti ini sudah berlangsung hampir sebulan semenjak pemerintah memberlakukan ketentuan berdiam di rumah bagi seluruh warganya. Sebuah upaya pencegahan demi menghentikan penyebaran wabah virus yang tengah menghantui rakyat dunia.

Virus ini dikenal Suharjo dari pemberitaan yang bertubi-tubi muncul di semua acara televisi. Sang istri seringkali mengeluh karena berita tersebut mengganggu keasyikannya menonton sinetron favoritnya. Sebelum wabah ini mencengkeram para penduduk negeri, suami-istri tersebut rutin membuat bakso dini hari untuk kemudian dijajakan di waktu siang. Namun, kepanikan dan aturan mengunci diri di dalam rumah membuat jualan bakso Suharjo tidak pernah habis tiap harinya.

Di jalanan yang dilewati oleh Suharjo kali ini biasanya ibu-ibu sering berkumpul di teras rumah membicarakan berbagai persoalan. Mulai dari si perempuan A yang tidak kunjung menikah meski sudah berusia matang, si laki-laki B yang kikir bersedekah di hari Jumat, atau si pasangan C yang kerap terdengar bertengkar di malam hari. Pada kesempatan itu, dengan santainya Suharjo pasti akan melipirkan gerobaknya tidak jauh dari kerumunan heboh tersebut. Tetapi sekarang, tidak seorang pun bisa ditemukan. Bahkan seekor kucing seperti enggan melintas di hadapannya.

Setelah beberapa jauh berjalan, Suharjo tiba di kelokan yang membawanya ke jalan raya. Sebuah posko ojek online terlihat di kejauhan, jelas dari warna hijau jaket mereka yang sedang mangkal. Seperti ditarik oleh harapan yang samar-samar, dirinya melangkah pasti ke arah posko tersebut. Semua tukang ojek tersebut sedang berkonsentrasi pada layar ponsel mereka, menantikan tangkapan orderan. Denting mangkuk Suharjo mengusik salah satu di antaranya. Sambil menyeringai seraya menghembuskan asap rokok, dia memanggil tukang bakso tersebut agar mendekat.

“Sini, bang!” serunya.

“Barangkali semangkuk bakso akan membawa keberuntungan untuk perutku yang lapar.”

Suharjo segera berhenti, lalu menyiapkan semangkuk bakso komplit untuk tukang ojek yang warna hijau jaketnya sudah memudar itu. Tak lama dia serahkan sajiannya tersebut yang langsung disantap tanpa aba-aba. Di kanan-kirinya, tukang-tukang ojek lain saling mengeluh dan memisuh karena dari pagi belum dapat satu orderan pun. Mendengar ini Suharjo hanya tersenyum samar. Pandangannya menyasar pada belitan kabel listrik yang dihinggapi burung-burung gereja. Beberapa minggu lagi akan memasuki bulan Ramadan, dia masih mempertimbangkan apakah akan mudik atau tidak.

Tanpa diduga sebuah mobil patroli berhenti di depan posko tersebut. Para tukang ojek terkejut dan segera berdiri ketika polisi-polisi yang menggunakan masker turun dan mendekati mereka.

Suasana tegang. Tukang ojek yang sedang makan bakso menyembunyikan mangkuk di belakang punggungnya. Takut kalau-kalau aktivitas makannya tersebut bisa mendatangkan malapetaka lain. Seorang petugas bertubuh sedang mengeluarkan bungkusan masker, lalu membagikannya satu per satu kepada para tukang ojek online tersebut. Termasuk Suharjo. Seorang lagi yang kelihatannya pemimpin mereka meminta para ojol segera membubarkan diri dan mengingatkan mereka soal aturan jarak sosial.

Seorang demi seorang, pengemudi-pengemudi tersebut meninggalkan lapaknya dengan wajah muram. Dongkol dan kecewa, tapi juga tidak berani membantah. Pembeli bakso Suharjo bahkan lupa membayar baksonya. Suharjo pun lupa menagih. Dia hendak beranjak juga dari tempat itu. Namun, para polisi justru duduk di pos kayu dan memesan bakso padanya. Suharjo segera menyiapkan sajiannya. Sambil bekerja, dia turut mendengarkan percakapan petugas-petugas razia tersebut.

Keluhan atas ketidakpedulian warga mengenai aturan pencegahan virus, keputusan pemerintah pusat dan daerah yang sering saling berlawanan, pilihan untuk menyelamatkan nyawa penduduk atau kepentingan ekonomi negeri, kesulitan hidup para karyawan yang di-PHK dan pedagang kecil yang kehilangan pendapatan harian, akses, fasilitas, dan pelayanan kesehatan yang belum maksimal untuk pasien corona, banyaknya kematian para pejuang medis yang justru ditolak jasadnya, kegamangan situasi maupun ramalan masa depan, dan hal lain seputar itu.

Lima mangkuk bakso terhidang. Mereka mulai menyantapnya sambil tenggelam dalam pikiran masing-masing. Ketika sudah selesai makan, petugas terdekat menyodorkan uangnya ke Suharjo. Ia membuka laci untuk mengambil kembalian, polisi tersebut menepuk bahunya.

“Tidak perlu kembali.” ujarnya sambil tersenyum.

Suharjo menatap polisi berkumis tipis itu tanpa berkata-kata. Kepalanya mengangguk sebagai ungkapan rasa terima kasih.

Ia lalu melanjutkan perjalanannya dengan hati gembira. Setelah berkeliling di jalan-jalan kosong, Suharjo mendengar suara hujan yang bergerak dari kejauhan. Terburu-buru ia mencari tempat berteduh. Tubuhnya telah basah sebagian saat mencapai sebuah bengkel kecil yang sedang tutup. Suharjo berdiam di sudut untuk menghindari terpaan hujan yang terbawa angin. Dia menyalakan sebatang Samsu untuk menemani pikirannya yang berkelana di tengah hujan.

Saat sedang asik menikmati bentuk-bentuk ajaib asap rokoknya, seorang pengendara motor berhenti di depannya dan ikut masuk untuk berteduh. Mempertimbangkan hujan mungkin masih lama reda, pengendara yang ternyata perempuan muda itupun memesan semangkuk bakso. Sewaktu mengaduk kuah di panci besarnya, Suharjo tiba-tiba bersin. Dia tidak mampu menahan dorongan alam tersebut.  Calon pembelinya menyaksikan ini dengan tatapan ngeri.

“Pak, maaf saya tidak jadi beli.” sergahnya.

Terburu-buru perempuan tersebut menyalakan sepeda motornya dan pergi menerjang hujan. Suharjo melongo bingung. Ia tidak percaya dengan apa yang dialaminya, hingga tak mampu berkata-kata.

Setiba di rumah Suharjo menceritakan pengalamannya tersebut pada istrinya, Hartini. Lalu menduga-duga, apakah mungkin sikap perempuan tersebut karena menganggap dirinya bervirus. Istrinya tercenung sesaat, lalu berkata untuk menghibur suaminya bahwa itu tidak mungkin. Namun diam-diam, istrinya ikut mempertimbangkan kemungkinan tersebut. Kalau memang benar suaminya positif corona, virus tersebut tentunya sudah menulari dirinya sendiri dan anak mereka.

Malamnya, Suharjo sulit memejamkan mata karena kecamuk pikiran yang terus menerornya. Benarkah tubuhnya membawa virus corona. Darimana dan bagaimana dia bisa tertular. Mengapa dengan sebuah bersin seseorang begitu mudahnya dicap bervirus. Apa yang perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi dirinya yang sebenarnya.

Hingga matahari menyembulkan sinarnya saat fajar, Suharjo masih mempertanyakan nasibnya jika benar ia terjangkit corona. Akhirnya, karena lelah dengan pertanyaan-pertanyaan dalam kepalanya sendiri, Suharjo bangkit dari tempat tidurnya, lalu mandi. Tidak seperti biasanya, ia menggigil subuh itu. Segelas kopi panas dari Hartini mengawali harinya.

Kelelahan karena kurang tidur dan kecemasan terus-menerus membuat Suharjo tidak semangat berkeliling siang ini. Sedikit orang yang ditemuinya di jalan, terlihat menghindarinya dengan sengaja. Suara denting mangkuknya diabaikan. Pintu-pintu rumah tetap tertutup seperti menolak apapun yang ditawarkan dunia. Kenyataan ini semakin menguatkan kecemasan Suharjo. Dia memutuskan pulang ke rumah lebih cepat.

Saat berbaring istirahat, Suharjo agak meyakini bahwa dirinya telah tertular virus. Kalau sudah begini, bagaimana dia dapat terus berjualan. Sudah pasti dia nanti akan menulari para pembelinya. Lalu jika mengalami tuduhan tidak langsung seperti kemarin, bisa-bisa dia mati berdiri di samping gerobak baksonya. Kepanikannya terus tumbuh. Untuk sementara waktu Suharjo harus mengasingkan di rumah. Dia tidak ingin berita positif corona ini terendus oleh para tetangga dan pelanggannya.

Namun, berdiam diri di rumah bukanlah bagian dari sifat Suharjo. Keterkekangan ini justru memperuncing kepanikan dan melemahkan semangat hidupnya. Terlebih ditambah pemberitaan negatif media tentang parahnya situasi terkini penyebaran corona di tanah air. Berkali-kali ia mempertanyakan hal yang sama kepada istrinya, apakah virus ini memberi kesempatan dirinya untuk tetap hidup. Sang istri yang juga menyimpan keraguan dalam dirinya, tetap berupaya membesarkan hati suaminya bahwa ia hanya terserang demam biasa.

Suharjo semakin lemah dari hari ke hari. Demam berkepanjangan membuatnya sulit bangkit dari pembaringan. Panasnya tidak kunjung reda. Batuk-batuk menjadi irama kesehariannya. Ia tergeletak pucat. Tak mampu berobat. Dirawat seadanya oleh anak-istrinya.

Di luar rumah, desas-desus bahwa Suharjo positif corona telah menyebar secara mengagumkan. Tidak diketahui bagaimana mulanya. Istrinya gusar, ia mengadukan omongan-omongan menyakitkan tetangga mereka pada suaminya yang tergeletak tak berdaya itu. Mendengar cerita Hartini, Suharjo tiba-tiba diserang sesak nafas. Ketakutannya selama ini terjadi. Tetangga mereka mengetahui kondisi sakitnya yang lebih memalukan daripada sebuah kejahatan.

Harini terkejut mendapati suaminya bergelepar kesulitas bernafas.

“Pak, kenapa paakk?” istrinya panik mengguncang-guncangkan tubuh Suharjo. Tangisnya pecah.

Anak mereka yang masih duduk di kelas lima SD, berlari memasuki kamar karena mendengar jeritan ibunya. Menyaksikan kondisi ayahnya, ia ikut menangis histeris. Suharjo terlihat sangat menderita, ia seperti tercekik. Tak lama kemudian, tubuhnya berhenti bergerak, ia mati mendadak.

Berita kematian Suharjo membuat kerabat dan tetangganya enggan datang membantu, takut tertular. Jasadnya masih tergeletak di rumah. Menunggu diberkahi oleh pergantian hari. *