Pesona Kuda dalam Puisi Arab

Belum pernah saya membaca buku sejarah bangsa-bangsa di dunia, seperti halnya bangsa Arab. Mereka dikenal rapih, terutama dalam men-dokumentasi-kan berbagai informasi tentang kekayaan sejarah bangsanya.  Tidak sekedar ilmu pengetahuan, agama, sosial, politik  dan budaya, bahkan tentang binatang seperti kuda sekalipun, mereka mencatatnya dengan teratur, karena kuda adalah bagian dari kehidupan mereka. Mungkin letak geografis dan pola kehidupan nomaden menjadikan masyarakat Arab  tidak hanya air dan pepohonan sebagai kebutuhan urgen, namun kuda juga merupakan sandaran kehidupan.

Memiliki kuda merupakan harta yang sangat bernilai, mereka merasa bangga seperti halnya memiliki seorang anak lelaki. Ibnu Rasyiq menggambarkan masyarakat Arab zaman Jahiliyah  dalam kitab al ‘Umdah ; mereka tidak pernah menyampaikan  ( tahniah ) ucapan selamat kepada orang lain kecuali dalam tiga momen, terlahirnya seorang anak, kesuksesan seorang penyair, dan kuda yang melahirkan. Maka tidak heran, jika kuda yang merupakan bagian dari kehidupan mereka menjadi tema menarik atau sekedar metafora telah memadati karya-karya dalam tradisi literasi mereka seperti puisi atau lainnya. Penyair besar Al Mutanabbi, dengan perasaan bangga dan sombong mengatakan dihadapan para pedengki ;

Kuda, malam dan sahara telah mengenaliku.

Begitu pula pedang, tombak, pena, dan kertas.

Aku berjalan seorang diri melewati ganasnya padang pasir.

Lembah dan dataran tinggi merasa takjub kepadaku.

Banyak sekali kita jumpai karya-karya mereka yang menginformasikan tentang jenis, ras, warna, postur, performa, kecerdasan, dan keistimewaan binatang ini, baik dalam literatur klasik ataupun kontemporer. Salah satunya adalah : Nasb al Khail fi al Jahiliyah wa al Islam wa Akhbariha, karya Ibnu al Kalaby ( w 206 H ), al Khail, karya al Ashma’i ( w 215 H ), al Khail, karya Abu ‘Ubaidah Muammar bin al Mutsana ( w 224 H ), Asma Khail al ‘Arab wa Fursaniha, karya Ibnu al ‘Arabi ( w 231 H ), Fadl al Khail Li al Hafizd al Dimyathi, karya Syarafudin Abdul Mukmin ( w 705 ), Qathr al Sail Fi Amr al Khail, karya Sirajudin al Bulqini ( w 805 ), Jar al Dzail fi ‘Ilm al Khail, karya Jalaludin al Suyuthi ( w 911 H ), Siraj al Lail fi Suruj al Khail, karya al Hasibani Bek, Jawab al Sail ‘An al Khail al Ashail, karya Abdullah bin al Husain ( w 1951 )  dan masih banyak karya-karya lainya.

Nasab, postur dan Warna Kuda Arab

Diantara hal yang menarik dalam diskursus ini adalah perhatian mereka yang tinggi terhadap nasab ras kuda, baik dari pejantan ataupun betina sehingga menjadi istimewa dengan terjaganya keutuhan keturunan yang tidak tercampuri dengan ras lainnya. Ibnu al Kalaby dalam Nasb al Khail fi al Jahiliyah wa al Islam wa Akhbariha menyebutkan ; kuda pertama menyebar di Jazirah Arab adalah kuda Zad al Raakib milik Nabi Daud AS diberikan oleh Nabi Sulaiman AS kepada penduduk suku Azdi ( Oman ) setelah beliau menikahi ratu Balqis, kemudian melahirkan al Hujais, al Dinaari, A’waj, Laahiq, al Wajiih dan seterusnya sehingga dikenal dengan keturunan khas ras kuda Arab.

Kuda Arab memang berbeda dengan kuda Eropa atau lainnya, terkenal cepat, berpostur tinggi, mudah beradaptasi dengan cuaca dan tangguh memikul beban berat dengan stuktur tulang yang sangat keras seperti gading dan memiliki tulang belakang yang berbeda, membuat kuda Arab memiliki pesona dengan penampilan dan kekuatan yang luarbiasa, seperti digambarkan dengan sempurna oleh al Asma’i dalam kitab al Khail melalui bait puisi Imru al Qais ;

Aku tak percaya akan kehilangan seekor kuda penyerang kala waktu dhuha.

Posturnya tinggi mempesona, tangguh dan enerjik.

Kuat lututnya, kokoh kaki tangannya, dan sedikit mengeluarkan keringat.

Memiliki pinggul kuat terbalut daging yang keras.

Catatan mereka tidak sebatas tentang nasab dan jenis kuda, namun warna juga menjadi perhatian serius. Kuda Arab terkenal memiliki warna-warna eksotis, paling banyak disukai adalah Adham ( hitam ) sehingga menambah pesona keindahan tersendiri. Jalaludin al Suyuthi menyebutkan dalam kitab Jar al Zdail Fi ‘Ilm al Khail menukil dari Abi ‘Ubaidah tentang warna-warna kuda, seperti Adham ( hitam ), Kumait ( merah kehitaman ), Asyqar ( merah campur kuning ), Ashfar ( kuning kemasan ), Asyhab ( putih campur hitam ),  Abrasy ( bercak-bercak ), Mulamma’ ( belang ), Muwalla’ ( belang hitam dan putih ),dan lain-lainnya. Seperti disebutkan oleh Ibnu Qalaqis dalam diwan syairnya ;

Kuda Adham bak burung Gagak berwarna hitam

Terbang tinggi diatas angin dengan gepakan sayapnya

Bergaun malam, dengan sabuk kendali bergerak bebas

Dikala fajar, dia datang dengan sorot kedua matanya yang tajam

Kuda Perang

Penyair-penyair Arab pra Islam banyak sekali merekam kisah-kisah heroik kuda kala berlaga di medan perang, karena memang memiliki peran strategis dikala perang sedang berkecamuk. Seperti terekam jelas oleh salah satu penyair mu’alaqat,  ‘Antarah bin Syadad al ‘Absi dalam puisi panjangnya.

Kala perang berkecamuk, saya tahan pasukan kuda musuh.

Dengan kuda tangguh, kokoh dan langkahnya cepat.

Mudah dikendalikan, bergerak dan berhenti.

lincah, dengan tali kendali kesana kemari.

Untuk beberapa alasan, kuda ras Arab telah menjadi kepingan mozaik dalam cacatan sejarah. Ketangguhan, postur ideal, warna yang eksotik, dan kecerdasan menjadikan keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan kuda lainnya. Wallahu ‘Alam bi al Shawab.