Puisi
Ayah

Ruang kedap suara – Deruh deras air hujan
Terombang-ambing oleh angin
Lecutan yang bergemuruh dan terbelah dilangit hitam keras
Kini memecahkan angan …
Hembusan angin yang menelisik tubuh
Tiba-tiba otak berputar perlahan
Bagai rubik yang mencari sisi semuanya
Imajinasi berangan jauh
Dan di sela itu ada satu kata,
Yang membuatku rindu, sendu, haru, resah, gelisah bercampur jadi satu
Ayah
Iya benar kata itu
Sebuah anugerah yang diciptakan
Hanya untuk aku seorang
Hembusan angin dari jendela
Seakan meracuni bola mata
Tak sampai masa berganti
Genangan air mata mengguyur membasahi pipi
Seakan langit, bumi
Angin, hujan
Batu, menjadi saksi
Akan kejadian ini
Dan bagaimana mungkin?
Terlahir tanpa seorang ayah
Lelucon kalau benar
Apa aku tak pernah bahagia? Tak mungkin.
Semua pasti adil
Sesuai yang semesta hadirkan
Seperti hal nya
Langit dan bumi
Api dan air
Perempuan dan laki-laki
Semuanya memiliki keistimewaan masing-masing.
Deen – XI.2