Menyikapi Wabah Virus Corona

Sejarah Wabah Penyakit dalam Islam

Wabah virus corona sudah dinyatakan sebagai pandemik, penyebaran penyakit yang luas di suatu kawasan, benua, atau di seluruh dunia. Tidak pandang usia, jenis kelamin, negara, suku, ataupun agama, seseorang bisa tertular virus corona.

Dalam literatur Islam, ulama menggunakan istilah al-wabâ` (الوباء) untuk mengungkapkan sebuah wabah penyakit yang menjangkit wilayah yang luas dan memakan banyak korban. Kemudian diantara jenis al-wabâ` yang terjadi adalah wabah Thâ’ûn, sebuah penyakit semacam bisul.[1]

Menurut Ibn Qutaibah, wabah penyakit yang menyerang secara masal dalam sejarah Islam pertama kali terjadi pada masa kepemimpinan Sayidina Umar bin Al-Khaththab. Saat itu, wabah penyakit Thâ’ûn terjadi di wilayah Syam (Suriah), yang kemudian dikenal dengan nama wabah ‘Amwâs. Banyak sahabat yang meninggal karena wabah ‘Amwâs, diantaranya Abû ‘Ubaidah bin Al-Jarrâh, Mu’adz bin Jabbal beserta kedua isterinya dan puteranya. Kemudian pada masa Abdullah bin Al-Zubair terjadi wabah Al-Jârif. Lalu pada masa Abdul Mâlik bin Marwân terjadi wabah Thâ’ûn Al-Futyât di daerah Basrah, Syam dan Kufah. Lalu Thâ’ûn ‘Adî bin Arthâh pada tahun 100 H. Kemudian pada tahun 127 H. terjadi Thâ’ûn Ghurâb. Lalu ada Thâ’ûn Muslim bin Qutaibah pada tahun 131 H.

Sedangkan menurut Abû Al-Hasan Al-Madâyinî, wabah penyakit terbesar yang masyhur, khususnya Thâ’ûn, yang yang terjadi dalam sejarah Islam ada lima: Thâ’ûn Syirwaih pada masa Nabi Muhammad SAW yang terjadi di beberapa kota pada tahun 6 H, Thâ’ûn ‘Amwâs pada masa Sayidina Umar bin Al-Khaththab yang melanda Syam pada tahun 18 H., membunuh sekitar 25.000 orang, Thâ’ûn Al-Jârif pada masa Abdullah bin Al-Zubair pada tahun 69 H. yang menewaskan sedikitnya 70.000 orang setiap harinya selama tiga hari, diantaranya putra-putra sahabat Anas bin Mâlik yang berjumlah 83 anak, dan 73.000 anak-anak, lalu Thâ’ûn Al-Futyât pada tahun 87 H., lalu Thâ’ûn yang terjadi beberapa hari pada 131 H. dan menewaskan setidaknya 1000 orang setiap harinya, dan Thâ’ûn yang terjadi di Kufah pada tahun 50 H. yang menewaskan Al-Mughîrah bin Syu’bah.[2]

Anjuran Ketika Terjadi Wabah Penyakit di Sebuah Daerah

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhârî, Nabi Muhammad SAW. bersabda:[3]

إذا سمعتم به بأرض فلا تقدموا عليه وإذا وقع بأرض وأنتم بها فلا تخرجوا فرارا منه (رواه البخاري)

Ketika kalian mendengarnya (wabah) di suatu daerah, janganlah kalian mendatangi daerah tersebut. Dan jika wabah itu terjadi di daerah kalian berada, janganlah kalian pergi melarikan diri dari daerah tersebut.” (HR. Bukhari)

Sabda Nabi SAW di atas melarang kita mendatangi daerah yang dilanda wabah penyakit dan keluar dari wilayah yang dilanda wabah penyakit. Larangan ini ditafsiri secara beragam oleh para cendekia muslim dengan berbagai bentuk hukum. Sebagaian ulama memperbolehkan keluar masuk daerah yang dilanda wabah penyakit. Ulama lain ada yang menghukumi makruh. Dan ada juga ulama yang memvonis haram dalam hal ini.[4]

Hikmah di balik larangan meninggalkan daerah yang terkena dampak wabah tersebut, di antaranya:[5]

  1. Meminimalkan perasaan ‘jiper’ bagi orang-orang yang ditinggal pergi, yang ada di daerah yang dilanda wabah.
  2. Keluar dari daerah yang dilanda wabah penyakit tidak berguna bagi seorangpun jika dirinya juga terkena wabah tersebut. Bahkan, seandainya dia keluar maka justru akan membahayakan orang lain.
  3. Seandainya semua yang sehat pergi dari daerah tersebut, lantas siapa yang akan mengurus yang sakit?

Sedangkan hikmah di balik larangan memasuki wilayah yang terdampak wabah penyakit adalah seperti yang terkandung dalam ayat:

وَلَا تُلْقُوْا بِأَيْدِيْكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

Janganlah kalian jatuhkan diri kalian dalam kebinasaan” (QS. Al-Baqarah: 195)

 Lantas, Bagaimana Sikap Kita Menghadapi Wabah Virus Corona yang Sedang Terjadi ini?

Syariat mengajarkan kita untuk selalu berserah diri kepada Allah (tawakal). Di antara firman Allah SWT yang memerintahkan kita untuk bertawakal adalah:

وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّـلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

(Karena itu) hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 160)

Di sisi lain, Allah pun memerintahkan kita untuk berusaha, seperti yang terdapat dalam firmanNya:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Tawbah: 105)

Nabi Muhammad SAW pun mengajarkan kita untuk berusaha. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari disebutkan:[6]

عن علي رضي الله عنه قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم في جنازة فأخذ شيئا فجعل ينكت به الأرض فقال: ما منكم من أحد إلا وقد كتب مقعده من النار ومقعده من الجنة. قالوا: يا رسول الله أفلا نتكل على كتابنا وندع العمل ؟ قال: اعملوا فكل ميسر لما خلق له أما من كان من أهل السعادة فييسر لعمل أهل السعادة وأما من كان من أهل الشقاء فييسر لعمل أهل الشقاوة ثم قرأ فأما من أعطى واتقى وصدق بالحسنى… (رواه البخاري)

Dari Sayyina Ali RA, ia berkata; Suatu ketika Rasulullah SAW berada dalam rombongan pelayat Jenazah, lalu beliau mengambil sesuatu dan memukulkannya ke tanah. Kemudian beliau bersabda: “Tidak ada seorang pun, kecuali tempat telah ditulis di neraka dan tempat di surga.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kalau begitu, bagaimana bila kita bertawakal saja terhadap takdir kita tanpa beramal?” Beliau menjawab: “Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan kepada yang dicipta baginya. Barangsiapa yang diciptakan sebagai Ahl Al-Sa’âdah (penduduk surga), maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan Ahl Al-Sa’âdah. Namun, barangsiapa yang diciptakan sebagai Ahl al- Syaqâ` (penghuni neraka), maka ia akan dimudahkan pula untuk melakukan amalan Ahl al- Syaqâ`.” Kemudian beliau membacakan ayat: “Dan barangsiapa yang memberi dan bertakwa serta membenarkan kebaikan…” (HR. Al-Bukhari)

Allah SWT memerintahkan kita untuk bertawakal dan berusaha dalam menghadapi masalah apapun, termasuk wabah virus corona ini. Tawakal saja, tanpa usaha (ikhtiar), tidak dibenarkan dalam Islam. Seperti halnya orang sakit, dia harus berobat di samping bertawakal kepada Allah atas kesembuhannya dan meyakini hanya Allah yang bisa menyembuhkannya. Berikhtiar dan menyandarkan kepada Allah atas usaha yang kita lakukan merupakan bentuk nyata dari tawakal dan keimanan.[7] Kita pasrahkan (tawakal) semua yang sedang dan akan terjadi kepada Allah sembari berusaha semampu kita untuk menjaga diri dengan ikhtiar batin (berdoa) dan ikhtiar lahir (mengikuti panduan-panduan kesehatan dari instansi terkait).

Berikhtiar bukan berarti kita menghindari takdir. Takdir Allah pasti terjadi. Sahabat Umar bin Al-Khaththab berkata:[8]

نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ إِلَى قَدَرِ اللَّهِ

Kita menghindar dari takdir Allah menuju takdir Allah (yang lain).”

Selain tawakal dan ikhtiar, kita juga harus optimis terhadap situasi yang terjadi. Kita harus yakin doa kita akan diijabah Allah. Kita harus husn al-zhann (berprasangka baik) bahwa Allah pasti akan menurunkan rahmatNya kepada kita. Allah berfirman dalam sebuah hadis Qudsi:[9]

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي (رواه البخاري)

Aku berada dalam prasangka hambaku.” (HR. Al-Bukhari)

Kita tidak boleh pesimis dalam menghadapi wabah corona ini (al-khawf). Kita harus optimis (al-rajâ`) dalam menghadapinya, optimis atas tawakal dan usaha (ikhtiar) kita diterima dan dikabulkan Allah.

Ibn Hajar Al-‘Asqalânî menjelaskan bagaiman kita harus bersikap (adab) dalam menghadapi wabah penyakit dalam kitab Badzl Al-Mâ’ûn fî Fadhl Al-Thâ’ûn, yakni:[10]

  1. Memohon perlindungan dan keselamatan kepada Allah SWT dari penyakit.
  2. Sabar dan rida terhadap takdir dan ketentuan Allah yang menipanya.
  3. Selalu berprasangka baik kepada Allah (husn al-zhann).
  4. Menjenguk orang yang sakit.[11]

Sikap-sikap seperti ini merupakan pengejawantahan aspek akidah (iman), syariat (Islam), dan akhlak (ihsan) kita. Wa Allâh A’lâm bi Al-Shawâb.

 

____________________________

[1] Abû Zakariyyâ Yahyâ bin Syaraf Al-Nawawî, Al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim, Jilid VII (Kairo: Dâr Al-Hadîts, 1994), h. 466.

[2] Al-Nawawî, Al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim, Jilid I, h. 147-148.

[3] Muhammad bin Ismâ’îl Al-Bukhârî, Al-Jâmi’ Al-Shahîh, jilid IV (Surabaya: Al-Haramain, t.th), h. 14.

[4] Lebih detail lihat Al-Nawawî, Al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim, Jilid VII, h. 467 dan Ibn Hajar Al-‘Asqalânî, Fath al-Bârî Syarh Shahîh Al-Bukhârî, Jilid X (Beirut: Dâr Al-Ma’rifah, 1379 H), h. 214-216, dan Ibn Hajar Al-‘Asqalânî, Badzl Al-Mâ’ûn fî Fadhl al-Thâ’ûn (Riyad: Dâr Al-‘Âshimah, t.th), h. 219-240.

[5] Ibn Hajar Al-‘Asqalânî, Fath al-Bârî, Jilid X, h. 216.

[6] Al-Bukhârî, Al-Jâmi’ Al-Shahîh, jilid III, h. 216.

[7] Mushthâfâ Dîb Al-Bughâ & Muhyiddîn Mistû, Al-Wâfî fî Syarh Al-Arba’în Al-Nawawî, (Damaskus: Dâr Al-Kalim Al-Thayyib, 2007), h. 130-131.

[8] Al-Bukhârî, Al-Jâmi’ Al-Shahîh, jilid IVh. 14.

[9] Al-Bukhârî, Al-Jâmi’ Al-Shahîh, jilid IV, h. 297.

[10] Ibn Hajar Al-‘Asqalânî, Badzl Al-Mâ’ûn fî Fadhl al-Thâ’ûn, h. 345-357.

[11] Di tengah wabah corona sekarang ini, tidak memungkinkan bagi kita untuk menjenguk orang yang sedang terpapar virus corona. Adab yang keempat ini bisa kita artikan dengan membantu orang-orang yang bergelut dengan virus corona, baik penderita maupun petugas medis, dalam bentuk mendoakan, memberi motivasi atau semangat, bantuan sumbangan materi kepada para korban wabah corona dan para petugas medis yang berjibaku mengobati mereka.