Meninggalkan Salat Jumat Dimasa Pandemik

Tanya – jawab:

Assalamualaikum wr wb.

Bapak/ibu, ustadz dan ustadzah, dan para kiai yang saya hormati. Hari ini, Jumat, 8 Januari 2021, saya mengikuti shalat jumat di Mesjid Palapa Pasar minggu dengan protocol kesehatan. Saya kebetulan shalat di halaman/taman agar jauh dari kerumunan.

Namun saat hendak shalat, hujan turun deras sehingga makmum berkerumun di dalam mesjid dan titik-titik yang tidak kena hujan. Artinya pilihannya dua, antara kehujanan dan berkerumun dengan yang lain. Sedangkan saya memilih untuk tidak melanjutkan shalat jum’at dan pulang ke rumah.

Pertanyaannya, apakah tindakan saya melanggar syariat Islam?

Waalaikum salam wr wb.

 

Bismillahirrohmanirrohim,

Penanya yang dirahmati Allah SWT. Shalat jumat merupakan kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dewasa yang merdeka, berakal, sehat dan juga bukan musafir. Kewajiban ini tentu mengikat pada orang tersebut sebagai dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-Jumuah : 9

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْاْ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُواْ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

 Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat jumat, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Perlu kita ketahui bahwa kata فاسعوا merupakan fiil amar dari masdar سعي yang berarti lari kecil. Dalam tafsir jalalain dijelaskan bahwa makna dari kata فاسعوا adalah فامضوا yang artinya bergegaslah. Mukmin yang diwajibkan untuk bergegas adalah mereka yang sehat secara fisik, dalam arti shalat jumat tidaklah wajib bagi mereka yang sakit juga bagi mereka yang hawatir/takut akan bahaya. Keterangan ini diperkuat dengan 2 hadis yang diriwatkan oleh Abu dawud RA

 Dari thoriq bin syihab RA,sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Jumat itu wajib atas setiap muslim dengan berjamaah, kecuali empat golongan: hamba sahaya, perempuan, anak-anak dan orang sakit.

(عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ، رضي الله عنه أن النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً : عَبْدٌ مَمْلُوكٌ ، أَوِ امْرَأَةٌ ، أَوْ صَبِيٌّ ، أَوْ مَرِيضٌ (رواه ابودوود

Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menyimak munadi/ muadzin (beradzan), dan tidak ada udzur yang menghalanginya untuk mengikuti (sholat), maka shalatnya tidak diterima. Para sahabat bertannya: apakah udzur itu? Beliau menjawab:takut atau sakit.”

Pandangan ini diperkuat oleh pendapat seorang mufti mesir Dr. Syauqi Allam. Menurut Beliau, menjaga jiwa merupakan tujuan disyariatkannya agama islam. Sedangkan keselamatan manusia atas jiwanya, derajatnya lebih tinggi di mata Allah dibandingkan dengan Baitul Haram.  Allah berfirman dalam surat Al-Baqoroh : 195

وَأَنفِقُواْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓاْ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan dan berbuat baiklah karen sesnungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Dan Rasulullah bersabda,

(لا ضرر ولا ضرار (رواه ابن ماجه والدرقطنى

 Tidak boleh melakukan sesuatu yang berbahaya dan menimbulkan bahaya bagi orang lain.

 Dapat ditarik kesimpulan bahwa shalat jumat tidaklah wajib bagi mereka yang positif covid-19 atau mereka yang hawatir akan tetular virus covid-19. Jadi, keputusan Bapak untuk tidak berkerumun ketika hujan datang itu tidaklah melanggar syariat. Namun tetap sholat dzuhur ya Pak…

Yang kedua, hukum memutus ibadah wajib tanpa ada uzur adalah haram. Syekh Muhammad bin Salim bin Sa’id Babashil mengatakan:

 ومنها (قطع الفرض) أداء كان أوقضاء ولو موسعا وصلاة كان أو غيرها كحج وصوم واعتكاف بأن يفعل ما ينافيه لأنه يجب إتمامه بالشروع فيه لقوله تعالى ولا تبطلوا أعمالكم ومن المنافي أن ينوي قطع الصلاة التي هو فيها ولو إلى صلاة مثلها

Di antara makshiat badan adalah memutus ibadah fardlu, baik ada’ atau qadla’, meski ibadah yang dilapangkan waktunya, baik ibadah shalat atau lainnya seperti haji, puasa dan i’tikaf. Memutus ibadah fardlu maksudnya dengan sekira melakukan perkara yang merusaknya, sebab ibadah fardlu wajib disempurnakan ketika sudah berlangsung pelaksanaannya, berdasarkan firman Allah Swt, dan janganlah kalian membatalkan amal-amal kalian. Termasuk perkara yang merusak shalat adalah niat memutus shalat yang tengah dilakukan, meski berpindah niatnya menuju shalat yang lain. ( Is’ad al-Rafiq, hal. 121).

Namun bagaimana jika sholat jumat dalam kehujanan itu justru menimbulkan rusaknya smartphone atau menimbulkan sakit. dalam hal ini Syekh Abdul Hamid al-Syarwani mengatakan:

 أقول ويؤخذ من قولهم المذكور أيضا أنه لو جاء نحو المطر في الصلاة على نحو كتابه جازت له صلاة شدة الخوف إذا خاف ضياعه

 “Aku berkata, diambil dari ucapan para ulama yang telah disebutkan, bahwa bila datang semisal hujan di tengah shalat mengenai kitabnya, boleh melakukan shalat syiddah al-khauf bila khawatir tersia-sia (kitab itu rusak).”

Artinya ketika sholat lalu datang hujan, boleh untuk berpindah mencari tempat yang teduh untuk menyelamatkan smartphone atau karena hawatir sakit. Dalam keterangan lain Syekh Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab tuhfah al-muhtaj mengatakan ada sekelompok ulama yang membolehkan memutus sholat karena kehujanan :

بل قال جمع إن ذهب به بطلت الى أن قال وجوز بعضهم قطعه لمجرد فوت الخشوع به وفيه نظر

bahkan sekelompok ulama berpendapat, bila hilang kekhusyukan (dengan sebab kehujanan) maka batal shalatnya.  Sebagian ulama membolehkan memutus shalat karena hilangnya kekhusyukan, dan pendapat ini perlu dikaji ulang.

 

Kesimpulannya,

(1) Menghindari berkerumun dalam melaksanakan sholat jumat adalah anjuran yang disyariatkan agama.

(2) Bila mengikuti pendapat yang kuat, membatalkan shalat Jumat saat kehujanan di tengah shalat hukumnya haram.

(3) Apabila khawatir akan rusaknya smartphone atau susah menemukan tempat yang sepi dari kerumunan, kewajibannya adalah shalat di tempat yang paling aman dan paling memungkinkan.

(4) Kalo tidak memungkinkan untuk berteduh dan menghindari kerumunan, keputusan Bapak untuk walk out dari shalat jumat (diganti sholat dzuhur di rumah) merupakan tindakan yang tepat dan tidak melanggar syariat agama.