Dalam rangka refresh pasca Ujian Tengah Semester (UTS) genap, Ponpes Luhur ats-Tsaqofah menyelenggarakan wisata edukasi bagi segenap siswa-siswinya. Destinasi wisata yang dikunjungi adalah Jakarta, Bogor, dan Bandung. Khusus siswa-siswi kelas 9 Tsanawiyah, objek wisata yang dikunjugi adalah ziarah makam para pendiri Nahdlatul Ulama’ yang meliputi Jombang, Kediri dan Malang. “Aktivitas ziarah tak hanya bertujuan mengenalkan para pendiri NU kepada santri, namun juga berfungsi sebagai kontak spiritual antara guru dan murid yang sebentar lagi menghadapi ujian akhir,” ujar Ust. Ichsan, S.Pd.I wali kelas 9.1.
Rombongan bis yang terdiri dari 29 siswa, 10 siswi, dan 7 guru pembimbing itu diberangkatkan dari halaman ponpes Senin (25/03) pukul 16.00. Sebelum diberangkatkan, rombongan terlebih dahulu mendapat motivasi dan sambutan dari kepala madrasah tsanawiyah, Bpk. H. M. I. Shofwan Yahya, M. Hum. Sampai di Jombang Selasa (26/03) dini hari, rombongan langsung melaksanakan shalat subuh berjamaah di Ponpes Denanyar, sebelum melakukan aktivitas ziarah ke makam-makam pendiri NU seperti KH. Bisyri Syamsuri, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbulloh, KH. Wahid Hasyim, dan KH. Abdurrahman Wahid. Mereka juga berkesempatan mengunjungi Museum Islam Nusantara Hasyim Asy’ari (MINHA) di Tebuireng.
Sowan Masyayikh Lirboyo dan Napak Tilas Kamar Buya Said
Hari-hari berikutnya rombongan mengunjungi Ponpes Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Disana mereka berziarah ke makam masyayikh, sowan kepada para pengasuh, dan studi banding mengamati aktivitas para santri pondok pesantren salaf terbesar di Jawa Timur tersebut.
Satu hal yang berkesan di hati para santri adalah kunjungan mereka ke kamar Prof. Dr. KH. Sai’d Aqil Siraj, di kompleks asrama santri al-Ikhwan, Ponpes Lirboyo. Kamar selebar 3 x 4 meter tersebut adalah saksi bisu perjuangan pengasuh Ponpes Luhur ats-Tsaqafah tersebut saat mengeyam pendidikan di Pondok Pesantren Lirboyo selama 5 tahun, 1965 hingga 1970.
“Semangat kami benar-benar bangkit, setelah melakukan napak tilas ini. Kami jadi sadar bahwa proses menjadi seorang ulama tidaklah sederhana,” ujar Farhan Subhi, siswa asal Bekasi yang mengaku bercita-cita menjadi Ketua Umum PBNU itu.
Rangkaian acara wisata edukasi dan ziarah ditutup dengan tamasya ke Pantai Balekambang, Malang. Rombongan kembali menuju Jakarta pada Jumat (29/03). “Saya semakin bangga menjadi santri, sebab santri adalah tumpuan dan harapan negeri”, ungkap Chea, siswi asal Aceh menceritakan kesannya selama sowan kepada para masayikh Lirboyo.
Reporter : Dzul Fahmi
Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Tsaqafah. Bendahara LESBUMI PBNU 2015-2020.


