Puisi

Berpikirlah Tentang Garuda

Satu Juni, dasar negara dilahirkan Para pendiri bangsa bangga akan Pancasila Tampak elok dalam bingkai kelas Mencengkeram Bhinneka Tunggal Ika dengan keras, Sejenak aku berpikir Kutatap lamat-lamat burung Garuda itu Satu, aku merasa belum religius Badanku penuh dosa dan hina Dua, sikap subjektifku merongrong penuh angkara Akhlakul karimah, engkau di mana? Sejenak aku merenung Maafkan […]

Berpikirlah Tentang Garuda Read More »

Jejak Cinta di Padang Pasir

Di bentangan heningnya gurun yang tak berirama Jejakmu mengukir kisah cinta yang abadi Bukan sekadar jejak di pasir fana Akan tetapi risalah langit yang luruh ke bumi   Cakrawala menangis kala kau bersujud Bintang-bintang tersipu malu tak seindah nur di wajahmu Engkau mengembara dalam badai, tapi tak menggigil ragu Karena dalam dadamu, wahyu Ilahi menari

Jejak Cinta di Padang Pasir Read More »

Untuk Ibu yang Telah Pergi

Di setiap langkah yang kujalani Kau tak bisa selalu menemani Karna kau telah pergi untuk selamanya Tinggal kami semua Hari demi hari Sudah semestinya waktu terus berganti Telah genap 13 tahun hari ini Kau pergi dan tak kan kembali Waktu kita yang singkat Dan segala memori yang kita buat Tak kan ku biarkan menghilang Memori

Untuk Ibu yang Telah Pergi Read More »

Dunia

Kehidupan datang bagaikan gelombang Yang terkadang membuatku merasa di belakang Atau membuatku merasa menjadi Sang Pemenang Yang hidup dengan damai nan tenang Kemudian datang bagaikan warna Menghiasi kehidupan ini yang fana Walaupun fana tetap saja ada yang hina Dengan penyakit hati yang tidak akan sirna Hai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna Mengapa kalian terlena?

Dunia Read More »

Sekedar Bayang-Bayangnya

Samar-samar sesaat terasa Mengejar ke depan tertarik ke belakang Berdiri tegak bertahan, menahan Tangan terkepal keras, diri bulat bertekad Tebal tipuan terbayang pahitnya Rasanya begitu terikat namun tersirat Kau ini apa? cukup lepas maka kau bebas Apa peduli kicauan burung di sekitarnya Maka apabila awan menggelap biarlah menjadi hujan Namun lagi-lagi tipuanmu membohongimu Walau hujan

Sekedar Bayang-Bayangnya Read More »

Dukaku Tuk Negeri

Mengapa tak selaras pengetahuan dan lisan Habislah kami ratusan ribuan Sebab tak berjalan sesuai perjanjian Mata bersaksi tapi bagai buta Kami bersuara tapi bagai bisu Mereka mendengar tapi bagai tuli Berharap bisa berlari mengejar negeri asing Bukan tak mampu namun terhalang Konon katanya negara berkembang Nyantanya sudah cukup terkekang Kami tahu tapi tak mengerti Kami

Dukaku Tuk Negeri Read More »

Rumah

Hikayat ini sederhana adanya Bak rumah kita yang penuh cinta bersama Aku berlindung tahta atap yang hangat Di rumah ini ku kembali dan bersandar Dua kuadrat dan pondasi perikasih Rangkulan ibu jadikan perisai hari Aku terlelap dalam kapuk terkasihi Rumah inilah yang ku rindu Rintik tangis berderai Aku ingin ku kembali Aku berlindung, terlelap, dan

Rumah Read More »

Bualan Sang Penyair

sang penyair bergelimang cinta melukiskan puisi tersirat makna indah terasa oleh panca indra tenggelam dalam pusaran jiwa aku ingin indah dilukis olehnya menari dalam sanubari gubahan penuh emosi aku ingin indah dipeluk kiasan terdekap diksi rasa bait-bait suka cita tapi serigala bisa terasa bak beludru kehangatan yang menerkam pilu meruntuhkan dinding cinta nyatanya halimun

Bualan Sang Penyair Read More »

Harap pada Karsa

ku, di ujung kota menatap dunia jauh di sana bagai kertas biru yang mengelap jendela penuh debu ku, di ujung kota menatap alam semesta bagai kanvas putih yang tertumpah cat abu coretan ini memberitakan kabut abu merangkap cahaya mengabarkan kegelapan bahkan ku tak tahu jenis senyawa apa yang terhirup air, sampaikan duka ini ke tiap-tiap

Harap pada Karsa Read More »