ALTSAQAFAH.ID – Abu Nawas, tokoh dari Negeri Seribu Satu Malam ini dikenal oleh masyarakat luas sebagai sosok yang cerdas dan jenaka. Banyak kisah dari penggagas syair Ilahilas yang menghibur dan mengocok perut pembacanya. Mayoritas pembaca kisah Abu Nawas akan menemukan pikiran-pikiran kreatif dari Abu Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami, nama lengkap Abu Nawas, yang juga sosok sufi ini.
Pikiran-pikiran kreatif juga banyak ditemui dalam cerita Kiai-Kiai di Nusantara. Contoh yang paling dekat dengan periode hidup kita adalah almarhum K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ketika masyarakat diminta untuk menyebutkan ciri khas dari Gus Dur, cerita-cerita lucunya adalah poin yang tidak akan luput dari jawaban koresponden. Seperti halnya Abu Nawas, lawakan Gus Dur juga mengandung unsur pikiran kreatif.
Dalam konteks tulisan ini, kisah Kiai Bisri Musthofa, selanjutnya ditulis Kiai Bisri, tentang ceritanya mempolitiki setan juga menyimpan unsur berpikir kreatif. Kiai Bisri merupakan Kiai yang produktif dengan ratusan karya tulis dari berbagai fan keilmuan. Karya tulisnya yang paling terkenal adalah Tafsir al-Ibriz, tafsir Al-Qur’an Nusantara dengan model makna pegon Jawa.
Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus) yang merupakan putra Kiai Bisri, menceritakan kisah di balik kesuksesan ayahnya dalam memproduksi karya. Suatu ketika dalam dialog, Kiai Ali Maksum Krapyak pernah bertanya kepada Kiai Bisri. Kiai Ali Maksum terheran-heran mengapa Kiai Bisri bisa sangat produktif, sedangkan Kiai Ali Maksum saja ketika menulis selalu gagal di tengah jalan. Padahal, Kiai Ali Maksum tidak kalah dari Kiai Bisri soal keilmuan. Kiai Bisri memberi jawaban di luar dugaan, “Lha, soalnya sampean menulis lillahi ta’ala, sih!”
Mendengar jawaban Kiai Bisri, Kiai Ali Maksum terkejut dan mempertanyakan apa niat menulis dari Kiai Bisri. Kiai Bisri menjawab dengan mencontohkan etos kerja seorang penjahit. Penjahit tidak akan berhenti menjahit meskipun sedang menemui tamunya karena apabila ia berhenti menjahit, periuknya akan nggoling (Jawa: tumpah). Kiai Bisri mengaku bahwa etos beliau dalam menulis sama dengan etos penjahit. Beliau menulis dengan niat nyambut gawe (Jawa: bekerja; mencari uang).
Kiai Bisri melanjutkan, “Kalau belum-belum (di awal) sampean sudah niat yang mulia, setan akan mengganggu sampean dan pekerjaan sampean tidak akan selesai. Lha, nanti kalau tulisannya sudah jadi dan akan diserahkan ke penerbit, baru kita niati yang mulia-mulia, linasyril ‘ilmi atau apa. Setan perlu kita tipu.”
Kemampuan Kiai Bisri dalam menjawab pertanyaan dari Kiai Ali Maksum menunjukkan bahwa Kiai Bisri merupakan kiai yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kreatif. Kemampuan berpikir kreatif seperti yang dimiliki ayah Gus Mus ini tidak datang begitu saja, tetapi melalui proses latihan yang panjang. Kemampuan berpikir kreatif adalah kemampuan mengembangkan atau menemukan gagasan unik dengan menekankan pada aspek berpikir rasional dan intuitif dalam mengolah informasi. Berpikir kreatif dapat didorong melalui pengajuan masalah ataupun pemecahan masalah.
Manusia yang berpikir kreatif akan mengajukan masalah yang telah dimodifikasi dari masalah-masalah yang sudah ada. Ia tidak akan memberikan masalah yang memiliki jawaban tunggal karena jawaban tunggal hanya akan membuat penjawab menerapkan algoritma yang telah diketahui. Namun, memecahkan masalah adalah upaya mencari jalan keluar dari suatu kesulitan dengan memberikan ide-ide baru yang bermanfaat dan tidak lazim.
Berlatih mengajukan maupun memecahkan masalah adalah alternatif yang dapat ditempuh dalam mengembangkan berpikir kreatif. Contoh berpikir kreatif lainnya adalah dari Zeno (450 SM), filsuf pra-Socrates dari Yunani, yang mengajukan sebuah kisah, selanjutnya dikenal “Paradoks Zeno”. Paradoks Zeno menceritakan Achilles, seorang pelari fiktif pada masa Yunani Kuno yang berlomba lari dengan seekor kura-kura. Kura-kura berlari menggunakan sepatu roda khusus dan memulai start pada jarak 1 km di depan Achilles karena kura-kura sadar bahwa ia memiliki kecepatan berlari yang sangat lambat. Achilles berlari dengan kecepatan dua kali kecepatan lawannya, ia berlari dengan tersenyum dan tidak mengkis-mengkis. Kira-kira, siapakah yang akan memenangkan perlombaan lari ini? Kisah dan pertanyaan sederhana inilah yang kemudian mendasari perkembangan konsep limit dalam matematika.
Bertrand Russel (1901 M) juga mengajukan cerita yang dikenal dengan “Paradoks Russel”. Paradoks Russel bercerita, di suatu desa terpencil, hanya ada satu tukang cukur. Tukang cukur tersebut berjanji bahwa ia akan mencukur rambut semua orang desa yang tidak mencukur rambutnya sendiri. Apakah si tukang cukur mencukur rambutnya sendiri? Paradoks Russel ini selanjutnya melahirkan teori baru dalam konsep himpunan matematika. Ia menemukan inkonsistensi. Kemudian oleh Kurt Godel, Paradoks Russel dikonversi menjadi pernyataan dalam teori bilangan, yang juga menunjukkan inkonsistensi yang dikenal dengan teorema tidak komplet Godel.
Paradoks Russel menunjukkan bahwa matematika tidak selamanya pasti, terdapat ketidakpastian di dalam matematika. Georg Cantor mengatakan bahwa esensi dari matematika terletak pada kebebasannya. Kebebasan untuk mengajukan masalah maupun memecahkan masalah inilah yang dapat melatih kemampuan berpikir kreatif.
Dalam Al-Qur’an, manusia disebut makhluk yang dianugerahi akal untuk mendapatkan suatu pengetahuan (As-Sajdah/ 32: 9). Sekarang, jika Pinokio yang merupakan boneka kayu, yang hidungnya akan bertambah panjang apabila ia berbohong. Bagaimana jika Pinokio berkata, “Hidungku akan memanjang.” Apakah Pinokio berkata jujur ataukah ia berbohong?
Wallahu’alam bi al-shawab.
Editor: Senja Bagus Ananda
Guru Matematika Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah

