Napas Teologis dalam Kritik Filosofis Al-Ghazali

“Kritik teologis Al-Ghazali pada pembahasan metafisika filsafat barat menunjukkan kegigihan Al-Ghazali dalam bidang ilmu teologi sekaligus kefokusannya memahami pendapat filsuf barat.”

Abu Hamid Muhammad ibnu Muhammad ibnu Muhammad Al-Ghazali al-Thusi atau yang masyhur dengan panggilan Al-Ghazali merupakan tokoh penting dalam keilmuan Islam. Banyak pemikir-pemikir Islam di zaman setelahnya yang memuarakan pemikiran mereka pada hujjah-hujjah atau hasil pemikiran Al-Ghazali. Maka tidak heran jika ia dijuluki Hujjatul Islam dengan pemikirannya yang sangat fenomenal dan berfondasi kuat. Al-Ghazali lahir di pinggir Kota Ghazalan, Thus, yang terletak di sebelah timur Iran. Dari nama kota tempat ia lahir inilah hingga kemudian namanya dinisbahkan dan masyhur dengan sebutan Al-Ghazali. Pendapat lain menyebutkan bahwa sebutan Al-Ghazali berasal dari lafal Ghazzalan yang berarti pemintal benang, alasan penyebutan ini karena Al-Ghazali lahir dari keluarga yang pekerjaan sehari-harinya adalah memintal benang.

Pengembaraan intelektualitas Al-Ghazali dimulai sejak ayahnya meninggal. Mulai detik itu, Al-Ghazali dan adiknya dititipkan kepada kerabat ayahnya bersamaan dengan pesan untuk mendidik mereka agar mendapat pendidikan yang baik. Ia memulai pengembaraannya dari Kota Thus, kemudian berpindah ke Kota Jurjan, terus berkelana ke Kota Naisabur, hingga menetap lebih lama di Kota Baghdad. Di Kota Baghdad inilah pemikiran luar biasa Al-Ghazali dikenal oleh banyak orang sehingga dalam waktu singkat ia diangkat menjadi guru besar di Madrasah Nizamiyah, sebuah sekolah yang didirikan oleh Nizam Al-Mulk yang merupakan perdana menteri di masa Dinasti Seljuk. Setelah beberapa tahun hidup menetap di Baghdad, Al-Ghazali mengalami konflik batin yang membuatnya ragu terhadap segala hal yang telah dijalaninya selama ini. Karena keraguan ini, ia kemudian memutuskan untuk pergi dari Kota Baghdad dan berkelana untuk mencari ketenangan diri serta hakikat hidup dengan banyak menyendiri serta memperbanyak zikir dan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Hasil dari pengembaraan inilah yang memantapkan pemikiran Al-Ghazali di bidang teologi dan filsafat. Kritik Al-Ghazali terhadap filsafat dalam bukunya yang terkenal yang berjudul Tahafut Al-Falasifah tidak terlepas dari landasan pemikirannya yang matang di bidang teologi. Kritik-kritiknya terhadap pendapat filsuf muslim yang bermuara pada filsuf Yunani berisi penolakan atas pemikiran filosofis yang menyalahi kaidah teologis. Tentu, ia tidak akan melakukan kritik pada filsafat jika ia tidak menaruh perhatian lebih besar pada term tersebut. Kritiknya terhadap filsafat justru menunjukkan bahwa ia sangat fokus mempelajarinya hingga menemukan celah yang mengganjal dan kemudian mengkritisinya. Sebenarnya kritik ini tidak bisa dijadikan bukti pertentangan Al-Ghazali dengan filsuf muslim lain, seperti Ibnu Sina atau Ibnu Rusyd. Justru hal ini merupakan kemajuan akademik ketika satu pendapat dengan pendapat lainnya dapat saling mengkritisi dan mengoreksi. Meskipun Al-Ghazali sangat menentang Ibnu Sina dalam beberapa aspek filosofis, teologi Al-Ghazali pada waktu bersamaan berada di antara determinisme kosmologi Ibnu Sina. Sama halnya dengan Ibnu Rusyd yang membela Ibnu Sina dari pendapat Al-Ghazali dengan buku Tahafut Tahafut, ia tetap mengutip pendapat Al-Ghazali yang senapas dengannya pada kitabnya yang lain.

Al-Ghazali melakukan kritisisasi pada 20 term filsafat yang 17 di antaranya ia kategorikan sebagai bidah dan 3 sisanya merupakan pembahasan utama yang ia kategorikan sebagai sebuah kekufuran. Tiga hal terakhir inilah yang dianggap bertentangan dengan aspek teologis. Berikutnya akan dijelaskan secara rinci mengenai tiga aspek pemikiran tersebut serta penyangkalan Al-Ghazali terhadapnya, yaitu:

  1. Kepercayaan bahwa alam semesta bersifat qadim. Filsuf barat menyatakan bahwa keberadaan alam adalah bersifat qadim, yaitu sudah ada sejak dahulu bersamaan dengan keberadaan Tuhan. Hal ini diibaratkan dengan matahari dan sinarnya. Keberadaan matahari muncul bersamaan dengan sinarnya. Begitu pula keberadaan alam semesta yang bersamaan dengan Tuhan. Akan tetapi, Al-Ghazali menyatakan bahwa yang bersifat qadim hanyalah Allah Swt. Allah bersifat terdahulu dan tidak ada permulaan atasnya. Jika Allah tidak terdahulu, Ia adalah hadist (sesuatu yang baru) dan sesuatu yang baru pasti butuh kepada muhdits, sedangkan muhdits bagi Allah adalah mustahil. Hal ini seharusnya berbanding terbalik dengan alam. Dengan posisinya sebagai ciptaan, alam seharusnya bersifat hadits (baru), jika alam bersifat qadim, alam memiliki sifat-sifat ketuhanan. Namun, dualitas Tuhan sangat bertentangan dengan teologi Islam.
  2. Pendapat bahwa Tuhan hanya mengetahui hal-hal yang bersifat universal dan tidak dapat mengetahui perkara yang bersifat partikular. Filsuf barat dan pengikutnya seperti Ibnu Sina, beranggapan bahwa perubahan pada objek ilmu akan sekaligus membawa perubahan bagi pemilik Ilmu. Akan tetapi, Al-Ghazali berpendapat bahwa kedua hal tersebut tidaklah berkaitan. Perubahan-perubahan ilmu tidak akan berpengaruh terhadap zat Allah Swt. Pengaruh objek ilmu bagi zat Allah Swt. adalah suatu kemustahilan. Al-Ghazali juga mencantumkan dalam pendapatnya dalil-dalil yang menunjukkan bahwa sifat Ilmu Allah Swt. bermakna bahwa Ia mengetahui segala hal mulai dari yang paling besar hingga partikel terkecilnya, Allah mengetahui hal yang terbersit dalam hati manusia, bahkan sebelum bersitan itu masuk ke dalam hati. Tidak ada suatu hal pun yang luput dari sifat Mengetahui Allah Swt.
  3. Penolakan terhadap kebangkitan jasmani. Filsuf barat menyatakan bahwa tidak ada kebangkitan jasmani di akhirat. Entitas jasmani hanya berada sampai kematiannya hingga dikubur di liang lahat dan hilang bercampur dengan tanah. Mereka menganggap jasad yang sudah hancur menjadi tulang belulang tidak akan bisa bangkit kembali. Kebangkitan ini mirip proses reinkarnasi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Mereka juga mengatakan bahwa kebahagiaan dan siksaan di akhirat hanya bersifat rohaniah, bukan jasmaniah. Al- Ghazali membantah pernyataan ini dengan memaparkan bahwa Allah Maha Berkehendak untuk dapat membangkitkan kembali jasad-jasad yang sudah menjadi tulang belulang. Meskipun tidak menafikan pendapat filsuf tentang kebahagiaan dan siksaan rohaniah, Al- Ghazali menyatakan bahwa kebahagiaan dan siksaan jasmaniah tetap mungkin terjadi. Perkara jasmaniah ini dianggap dapat menyempurnakan perkara rohaniah tadi.

Dengan penyampaian kritiknya pada pendapat filsafat barat mengenai teologi, kita dapat melihat kegigihan Al-Ghazali dalam kedua ilmu tersebut. Tentunya ketika mengkaji filsafat dan teologi sekaligus, Al-Ghazali telah memiliki pemahaman yang mendalam serta dapat menemukan korelasi antarkeduanya. Dimensi filsafat Al-Ghazali dalam teologinya juga dapat dilihat dari pendapat Frank Griffel yang menyebutkan bahwa teologi Al-Ghazali adalah teologi filosofis. Maka sudah jelas antara filsafat dan teologi memiliki kedudukan yang sama pentingnya dalam perjalanan intelektualitas Al-Ghazali.

nahdlatusholihah@gmail.com   Postingan Lainnya

Alumnus MA Al-Tsaqafah Angkatan 5. Saat ini sedang menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir.