ALTSAQAFAH.ID – Satu hari menjelang Iduladha, kami perwakilan mahasiswa Nahdlatul Ulama di Maroko mengadakan agenda sowan ke beberapa ulama Maroko, salah satunya Ustazah Maryam Ait Ahmad.
Ustazah Maryam Ait Ahmad merupakan salah seorang keturunan Syekh Tolhah Ad-Darīj, tokoh sufi sekaligus pahlawan nasional Maroko yang membantu merebut wilayah Tetouan dari cengkeraman penjajah kala itu.
Ustazah Maryam yang menjabat sebagai Ketua Persatuan Persaudaraan Maroko-Indonesia dan dosen di Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Ibnu Tofail Maroko ini, ternyata memiliki hubungan yang sangat istimewa dengan sosok ulama kharismatik Indonesia, Almaghfurlah K.H. Maimoen Zubair.
Hal itu kami ketahui setelah beliau bercerita panjang lebar tentang kedekatannya dengan Mbah Moen yang sudah terbangun sejak lama. Dimulai sejak pengukuhan PCINU Maroko pada 2011 silam, Bunda Maryam merupakan sosok penting di balik keberhasilan berdirinya PCINU Maroko. Beliau membantu pihak kedutaan besar yang kala itu dipimpin oleh Bapak Tosari sebagai dubes.
“Ketika saya mengetahui bahwa Nahdlatul Ulama akan mendirikan cabang di Maroko, kala itu saya mencoba menghubungi aparatur setempat untuk meyakinkan mereka bahwa NU tidak memiliki kepentingan politik apa pun, melainkan hanya organisasi agama yang merepresentasikan pelajar Nahdlatul Ulama yang menuntut ilmu di Maroko,” ujar beliau, kemudian beliau melanjutkan, “Sesudah mendapat persetujuan, saya lalu mengundang Syekh Maimoen untuk bersedia meresmikan berdirinya PCINU Maroko,” kenang beliau.
Bunda Maryam memiliki banyak sekali kenangan dengan sosok Mbah Moen di antara banyak kunjungan beliau ke Indonesia, beliau berkali-kali mengucapkan satu kalimat yang menggambarkan sosok Mbah Moen, “Syekh Maimoen adalah salah seorang wali di antara wali-wali Allah,” dengan tatapan mata yang berbinar-binar.
Sejumlah karomah pun tak luput dari kesaksian beliau sendiri, di antaranya Bunda Maryam pernah berkunjung ke Indonesia tanpa mengabarkan pihak mana pun, baik Kedubes Maroko di Indonesia, KBRI Rabat ataupun Mbah Moen sendiri. Setibanya beliau di Indonesia, Bapak Tosari yang kala itu menjadi Dubes Indonesia untuk Maroko, mendapat kabar dari Mbah Moen yang mempertanyakan mengapa Bapak Tosari tidak memberi kabar kedatangan Bunda Maryam ke Indonesia.
Bapak Tosari yang tidak tahu ihwal tersebut, mengira Bunda Maryam tidak melakukan perjalanan ke Indonesia, melainkan masih menetap dan berada di kediamannya. Setelah Bapak Tosari menghubungi kediaman Bunda Maryam, benar saja, keluarganya mengabarkan bahwa Bunda Maryam sedang berada di Indonesia.
Lalu Bunda Maryam dihubungi langsung oleh Mbah Moen, beliau mengatakan, “Maryam, kenapa Anda tidak mengabarkan saya kalau Anda akan ke Indonesia?” sontak Bunda Maryam terbungkam dan makin kaget lagi ketika Mbah Moen melanjutkan, “Saya melihat Anda di sini (di kediaman Mbah Moen) kemarin, pokoknya Anda harus datang ke tempat saya, Anda harus datang,” pungkas Bunda Maryam sembari menirukan lirih suara Mbah Moen.
Mbah Moen juga pernah berkata kepada Bunda Maryam, “Maryam, kamu aman, kamu aman, selama berada di Indonesia, insyaAllah.” Dawuh Mbah Moen ini bak sebaris doa yang langsung terijabah, ini dibuktikan dengan sebuah peristiwa di kala kunjungan beliau ke Palu. Pada hari terakhir sebelum bertolak kembali ke Jakarta, panitia meminta Bunda Maryam untuk menetap dua hari lagi untuk menjadi pembicara pada salah satu seminar, tanpa pikir panjang Ustazah Maryam mengiyakan permintaan tersebut. Sore harinya, beliau mendapat panggilan telepon dari UIN Syarif Hidayatullah, pihak kampus mengingatkan tentang kesediaan beliau mengisi seminar pada esok harinya. Akhirnya mau tidak mau beliau harus membatalkan seminar di Palu karena telah berjanji kepada pihak UIN Syarif Hidayatullah sebelumnya.
Malam harinya, Bunda Maryam lekas bertolak ke Jakarta untuk memenuhi undangan pihak UIN Syarif Hidayatullah, qadarullah tepat keesokan harinya Palu dilanda musibah tsunami yang meluluhlantakkan banyak bangunan, termasuk hotel yang Bunda Maryam singgahi.
Karomah lain yang Bunda Maryam rasakan sendiri, yaitu ketika Mbah Moen memberikan isyarat kepergian beliau. Pada kunjungannya di tahun 2018 ke Indonesia, ketika hendak pamit kembali ke Maroko, Bunda Maryam mengatakan, “Ya Syekh, InsyaAllah saya akan kembali lagi ke Indonesia dan kita akan bertemu lagi.” Kemudian Mbah Moen membalas dengan tawa kecil sembari berujar, “Mungkin Anda tidak akan menemukanku lagi.” Dan benar saja, ternyata itulah pertemuan terakhir keduanya sebelum kemudian Mbah Moen wafat pada pertengahan 2019 silam ketika melaksanakan ibadah haji.
Mbah Moen yang juga merupakan “Syekh Ijazah” Ustazah Maryam, memberikan beberapa butir wasiat di pertemuan terakhirnya, “Kita sama-sama berjuang membawa panji dakwah Islam, bagian saya di Timur, dan bagianmu di Barat.” Mbah Moen menutup, “Kelak semoga kita dipertemukan bersama di Surga Firdaus, jangan lupa untuk menarik tanganku ke Surga.” Bunda Maryam menjawab, “Baik ya Syekh, jika sebaliknya, maka jangan lupa juga untuk menarik tanganku ke dalam Surga.”
Ila Ruh K.H. Maimoen Zubair, Al-Fatihah.
Guru Ilmu Kalam dan Akidah PPL Al-Tsaqafah. Magister Akidah dan Tasawuf Université Mohammed V de Rabat, Rabat, Maroko.

