Cinta Kondisional

“Persetan dengan pikiran-pikiranmu! Periblis kalau mau!” Suara psikiater membuyarkan lamunannya.

“Ah! Mary! kau datang di saat yang tepat. Tadi saya sedang berpikir tentang cinta. Mary, apakah cinta itu? Maksud saya apa yang menyebabkan pria mencintai seorang perempuan, bukan seluruh perempuan yang ada di dunia ini, atau sebaliknya, perempuan menyukai satu laki-laki, bukan semua lelaki?”

“Saya sudah katakan kalau pertanyaan Anda ini seperti pertanyaan anak kecil. Kelihatannya mudah, tapi jawabannya sangat susah.”

“Cobalah dulu.”

“Ada puluhan teori.”

“Tolong jangan pakai teori psikoanalisis Freud.”

“Anda ini malah membunuh kuliah sebelum dimulai.”

“Mary, saya tidak percaya kalau seorang psikiater perempuan terkenal tidak mengetahui hakikat cinta selain karena dorongan seksual semata, yang lahir ataupun yang batin.”

“Tak seorang pun yang paham mengenai hakikat cinta. Freud sendiri pernah berusaha, tapi gagal. Sebelum dia, para filsuf, penyair, dan penulis yang mencoba menafsirkannya juga gagal semua. Apakah Anda berharap nenek-nenek seperti saya ini bisa memahami apa yang tidak diketahui oleh orang-orang genius yang tercatat dalam sejarah umat manusia?”

“Mary, janganlah merendah diri. Kau pasti sudah bertemu dengan berbagai macam pasien yang jatuh cinta. Apa yang kau katakan pada mereka?”

“Tuan, saya bertemu dengan ribuan pasien laki-laki dan perempuan yang sedang dimabuk cinta. Setiap kasus lain-lain motif dan kondisinya. Saya katakan kepada laki-laki yang bercerai dari istrinya setelah 40 tahun menikah dan memilih hidup bersama gadis 18 tahun bahwa sebenarnya dia tidak mencintai gadis tersebut, melainkan rindu akan masa muda yang dalam benaknya dapat dikembalikan oleh si gadis untuk sementara waktu. Saya sampaikan kepada perempuan yang mengkhianati suaminya yang masih muda dan pergi bersama pria seumuran bapaknya bahwa dia tidak sedang mencari cinta, tapi sedang membutuhkan rasa tenang dan tenteram. Saya bilang kepada gadis yang berniat bunuh diri karena artis pujaannya mati bahwa ia tidaklah mencintai idolanya tersebut, melainkan ia benci pada dirinya sendiri. Tuan Ya’qub, banyak lagi contoh lainnya, takkan pernah habis.”

“Saya ingin contoh yang lain.”

“Baiklah! Saya katakan kepada sebagian besar pasien saya kalau mereka itu jatuh cinta disebabkan suatu kondisi.”

“Kondisi?”

“Kondisi sering kali menjadi dinamis dan membantu tumbuhnya rasa cinta. Seorang pasien merasakan kelembutan dalam diri perawat yang mengurusnya. Hal yang tak ia temukan dalam diri yang lain. Begitu banyak para pasien yang menikah dengan perawatnya. Seorang pilot melihat pramugari dalam situasi romantis: di perjalanan, di pantai, dan kota-kota jauh. Begitu banyak para pilot yang menikahi pramugarinya. Seorang bos melihat sekretarisnya dengan segenap kecantikan, selalu menurut dengan simpati, tak banyak meminta dan melaksanakan keinginannya dengan segera. Begitu banyak para bos menikah dengan sekretarisnya. Aktor bersama aktris cantik melakoni berbagai alur cerita cinta sehingga khayalan tampak seolah menjadi kenyataan. Begitu banyak aktor yang menikahi para aktris. Saya kira sekarang Anda sudah mengerti.”

“Ya, mengerti. Tapi kondisi saya, sedikit pun tak ada kecocokan antara …”

“Ah! Kondisi Anda! Siapa yang tahu? Bisa jadi semua asumsi tadi nyata, bisa juga tidak. Sudah saya katakan kalau saya percaya dengan cinta pada pandangan pertama. Cinta model ini tidak ada analisis ilmiahnya, tapi ada penjelasan metafisikanya, bahkan sejak zaman Yunani dulu. Manusia itu dilahirkan dengan separuh jiwa. Ia hidup sampai menemukan manusia yang dilahirkan dengan separuh lainnya. Di saat bertemu, kedua bagian ini pun campur menyatu lalu datanglah cinta.”

“Mary, dulu saya berharap …”

“Baiklah! Ada juga penjelasan metafisika lain, yaitu reinkarnasi jiwa. Anda mencintai seorang perempuan untuk kali pertama karena Anda telah bertemu dengannya 1000 tahun lalu di kehidupan lain.”

“Mary! Kau mempermainkan saya!”

“Saya tidak main-main. Saya sudah katakan. Tidak ada perbedaan mencolok antara sihir dan psikologi.”

“Saya masih ada pertanyaan kedua.”

“Silakan, gunakan kesempatan sebaik-baiknya. Saya masih menerima honor cukup besar sebagai imbalan atas jawaban yang saya sampaikan.”

“Raudloh adalah perempuan yang saya cintai, tapi ia selalu menolak hadiah apa pun dari saya. Apakah Anda tahu kenapa? Jangan bilang tak ada makanan yang gratis.”

“Hampir saja saya bilang begitu.”

“Mary, jadi apa penjelasannya?”

“Saya tak kenal teman perempuan Anda itu. Saya juga belum pernah melihatnya dan tak bisa mengucapkan namanya. Bagaimana Anda berharap saya bisa menganalisis kelakuannya?”

“Apa ada gunanya kalau Anda tahu kalau ia percaya dongeng dan ramalan?”

“Jenis manusia itu bermacam-macam.”

“Maksud saya dia itu berkeyakinan kuat kalau takdir suka ikut campur dalam persoalan cinta. Dia percaya takdir akan ikut campur saat kami sedang saling jatuh cinta, lalu mengambil dirinya dari saya atau menjauhkan saya darinya.”

“Ya’qub, Anda merasa kalau kekhawatiran-kekhawatiran dia itu pada tempatnya?” jawab psikiater perempuan itu sembari tersenyum sedih.

“Tadi saya bertanya tentang hadiah.”

“Sekarang masalahnya semakin jelas, seterang matahari.”

“Maksudnya?”

“Menerima hadiah artinya adalah mengakui Anda sebagai kekasihnya. Maksudnya ia akan hidup dalam cinta dan menggoda takdir untuk ikut campur. Tapi, Ya’qub! Dengan menolak hadiah itu, berarti teman perempuan Anda sudah menunjukkan sikap yang melambangkan cinta tingkat tinggi.”

“Mary, Anda sangat jenius. Kok bisa-bisanya saya nggak ngeh. Jadi yakin tidak mau upah?”

“Upah? Memang mau buat apa duitnya?”

 

Diterjemahkan dari novel berjudul Hikayat Cinta [حكاية حبّ], karya Ghozi Al-Qusoybi, terkecuali judul.

sofwanism@yahoo.com   Postingan Lainnya

Kepala Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah