Dunia Maya: Manzilah bainal Manzilatain

ALTSAQAFAH.ID – Geger 1300-an tahun lalu pada awal abad ke-2 Hijriah, Washil bin Atha’ berselisih paham dengan gurunya, Imam Hasan al-Bashri karena berbeda pendapat mengenai muslim yang melakukan dosa besar, apakah statusnya mukmin atau bukan. Benih ajaran muktazilah lahir, i’tazala anna (memisahkan diri) karena Washil bin Atha’ mengedepankan rasionalitas dalam berpendapat dan meyakini bahwa status seorang muslim yang berdosa besar bukan mukmin, tetapi juga bukan kafir, melainkan fasik. Tempatnya bukan di neraka ataupun di surga, melainkan ditempatkan di antara dua tempat surga dan neraka (manzilah bainal manzilatain).

Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di era digital saat ini diprediksi puncaknya sepuluh tahun ke depan. Namun, pandemi beberapa waktu yang lalu, memaksa untuk lebih intens membaur dan menyatu. Startup-startup (perusahaan rintisan) bermunculan, perilaku sosial perlahan mulai berubah, belajar online, belanja online, transportasi online, order makanan online, hingga media online kini telah menggeser keberadaan media konvensional.

Cyberspace (dunia maya) adalah media elektronik dalam jaringan komputer yang banyak dipakai untuk keperluan berbagi informasi dan komunikasi timbal balik secara online (terhubung langsung). Dunia maya merupakan integrasi dari berbagai peralatan teknologi komunikasi dan jaringan komputer (koneksi, transmisi, prosesor, signal, pengontrol) yang dapat menghubungkan peralatan komunikasi (komputer, laptop, telepon genggam, instrumen elektronik, dan lain-lain) yang tersebar di seluruh penjuru dunia secara interaktif.

Kini seseorang lebih nyaman berinteraksi melalui dunia maya, dunia seolah tanpa sekat yang jauh menjadi dekat, jarak hanya sejauh kursor sentuhan jari tangan. Dunia seakan tanpa batas, terbuka bebas melihat dan memperlihatkan diri melalui media sosial, seperti Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, dan lain-lain.

Namun, benarkah yang diunggah real? Pernahkah kita crosscheck kebenarannya? Dunia nyata berbeda dengan dunia maya yang siapa saja seolah bebas mengekspresikan diri dan beropini. Orang yang terperangkap di dunia maya, seperti dilepas ke tengah-tengah lapangan yang sangat luas, bebas berekspresi, bebas bergaya, bebas berbicara. Terkadang etika, budaya, dan adab pun lepas tanpa kendali.

Di era digital saat ini berbagai informasi apa pun sangat mudah diakses. Jika tidak bijak dan mempunyai fitur filter dalam diri untuk menyaring kembali berbagai informasi yang ada, menuruti ego dalam menelan informasi tanpa ada konfirmasi atau tabayun, meyakini segala informasi yang didapat pada dunia maya adalah benar, sebaiknya berbenah dan kontrol kembali karena bisa jadi kita terperangkap di dalam dunia maya, tempat di antara dua tempat yang nyata dan gaib (manzilah bainal manzilatain).

safi3k@gmail.com   Postingan Lainnya

Pengajar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)