ALTSAQAFAH.ID – Membaca Al-Qur’an dengan gaya bacaan atau lahjah yang berbeda-beda sering ditemukan di beberapa pesantren di Indonesia, salah satu gaya membaca Al-Qur’an yang dikenal di Jawa Barat adalah gaya membaca Al-Qur’an Kempekan.
Gaya membaca Al-Qur’an Kempekan ini merupakan metode pembelajaran Al-Qur’an dengan karakteristik dan ciri khas bacaan yang hanya menekankan pada makharijul huruf dan kaidah-kaidah tajwidnya, tidak melebar jauh sampai menjadi aliran qiraah baru. Gaya membaca Al-Qur’an seperti ini adalah metode pembelajaran Al-Qur’an yang diterapkan di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon.
Pada umumnya dalam pembelajaran Al-Qur’an setiap pesantren, baik pesantren Al-Qur’an maupun bukan, selalu menitikberatkan pada penerapan kaidah-kaidahnya dan makharijul huruf-nya. Namun, yang menjadi titik pembeda antara gaya membaca Al-Qur’an Kempek dengan pesantren lainnya adalah penekanan yang sangat berlebihan terhadap makhraj dan tajwidnya. Hal ini berlandaskan atas ijtihad muassis Kempek yang melihat bahwa penekanan yang berlebihan merupakan cara dalam melatih mulut untuk semaksimal mungkin mengeluarkan huruf sesuai dengan makhraj dan hukumnya.
Proses pembelajaran Al-Qur’an Kempekan ini merupakan proses pembelajaran dengan metode talaqqi/musyafahah, proses pembelajaran yang menuntut adanya keaktifan antara guru dan muridnya; murid aktif membaca dengan tartil dan benar serta guru aktif untuk menyimak dan membenarkannya. Gaya metode membaca Al-Qur’an ini bersanadkan kepada Imam Ashim dengan riwayat Imam Hafsh.
Gaya membaca Al-Qur’an Kempekan ini pertama kali dikenalkan oleh K.H. Umar Soleh, putra dari pendiri Pondok Pesantren Kempek Cirebon, K.H. Harun bin K.H. Abdul Jalil. K.H. Umar Soleh mendapatkan sanad Al-Qur’annya dari K.H. Munawir bin K.H. Abdur Rosyad pendiri Pondok Pesantren Al-Munawir, Krapyak, Yogyakarta. Sekalipun K.H. Umar mengambil sanad Al-Qur’annya dari K.H. Munawir, gaya membaca Al-Qur’annya sangat berbeda, Kiai Umar melakukan inovasi dalam pembelajaran Al-Qur’an dengan lebih menekankan terhadap kaidah-kaidahnya.
Penekanan yang berlebihan bisa dilihat dalam pelafalan setiap hurufnya, santri bukan hanya diminta untuk melafalkan huruf sesuai makhrajnya, melainkan juga diminta untuk memaksimalkan gerakan mulut sesuai dengan tempat keluarnya huruf. Oleh karena itu, tidak heran jika pemandangan yang akan dilihat saat santri mengaji Al-Qur’an adalah mulut yang dibuka selebar mungkin ketika melafalkan hamzah atau mulut yang dibuka setipis mungkin ketika melafalkan hukum bacaan tarqiq atau bahkan kepala yang dimiringkan dan digelengkan untuk memaksimalkan dalam pelafalannya.
Metode membaca Al-Qur’an Kempekan ini tentu bukanlah gaya membaca yang paripurna sehingga tidak tersentuh oleh kritik. Namun, beberapa ulama Al-Qur’an, bahkan salah satu penasihat Pondok Pesantren KHAS Kempek yang sekarang menjadi pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Prof.Dr. K.H. Said Aqil Siroj, MA mengkritik gaya membaca Al-Qur’an Kempek. Kiai Said berargumen bahwa gaya membaca tersebut terlalu berlebihan atau mubalaghah. Kritik Kiai Said ini dijawab oleh adiknya sendiri K.H. Musthofa Aqil selaku Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek. Kiai Musthofa dalam beberapa ceramahnya menjelaskan bahwa penekanan yang berlebihan ini merupakan sarana dalam memaksa dan melatih mulut untuk semaksimal mungkin dalam melafalkan setiap huruf. Karena ketika mulut itu sudah terlatih, dia akan lentur dalam setiap pelafalan huruf yang sesuai dengan makhraj dan kaidah tajwidnya.
Pengajar Fiqh

