Setan pun Membuatmu Merasa Baik

ALTSAQAFAH.ID – Sepulang dari kuliah, di sebuah gang kecil, aku melihat seorang ibu jatuh saat mengendarai motor. Jarakku dengan tempat kejadian hanya beberapa meter. Sebelum aku sampai ke lokasi ibu tadi, beberapa orang lewat begitu saja. Tidak tahu-menahu, instingku memberhentikan motor, membuatku turun dari motor dan menolong ibu itu. Aku mengangkat motornya dan pergi begitu saja. Tanpa sepatah dua patah kata sekalipun.

Mungkin karena saat itu aku sedang menikmati duniaku sendiri yang dihadirkan oleh musik lewat headset. Makanya tidak terdengar ucapan terima kasih dari ibu tadi. Ketika melanjutkan perjalanan menuju tempat istirahat, tiba-tiba saja aku sadar apa yang terjadi. Menolong orang yang kesusahan tanpa menanyakan keadaannya. Seolah-olah itu adalah tugas wajibku. Apakah orang-orang di sini begitu tidak pedulinya sama kondisi orang susah, sampai aku yang harus turun tangan? Apa yang sedang dipikirkan oleh orang-orang bermotor sebelum aku sehingga tega lewat begitu saja? Paling tidak harusnya tersentuh dengan anak kecil yang membonceng ibu tadi. Mengapa tidak ada pertolongan kemanusiaan apa pun?

Aku tahu sikapku saat itu tidak benar. Langsung aku membuang jauh-jauh pikiran itu. Menilai orang seenaknya tanpa mencari terlebih dahulu tentang keadaan mereka. Siapa tahu, orang-orang tersebut sedang terburu-buru karena mendapat kabar yang tidak baik dari keluarganya.

Aku baru ingat akan sebuah status WhatsApp. Salah seorang temanku memasang story WA, bersumber dari TikTok.

“Jika setan tidak berhasil membuatmu tidak beribadah, maka dia bisa saja membuatmu merasa paling benar.”

Di bawahnya ada keterangan, “Luruskan niat, tetap rendah hati.”

Merasa sombong ataupun ujub, itulah yang merusak dunia ini. Sombong dengan merendahkan orang lain. Padahal, bisa saja praktik-praktik ibadah yang asalnya berpahala menjadi tidak bermakna hanya karena merasa diri ini paling benar.

Pelajar yang sombong merasa dirinya paling pintar dan menganggap teman-temannya adalah hambatan menuju peringkat satu. Haji yang sombong merasa dirinya sudah melakukan tugas yang berat di jalan Allah dan orang yang tidak memanggilnya dengan gelar haji, maka orang tersebut dianggap tidak tahu diri. Sarjana yang sombong akan mengabaikan kondisi masyarakat dan berusaha hanya mengurus hidupnya sendiri. Profesor yang sombong berusaha mati-matian untuk mendapatkan penemuan yang hebat, yang diakui oleh masyarakat meskipun penemuan itu menghabiskan jutaan nyawa. Pemimpin yang sombong akan mengabaikan suara masyarakat yang telah memilihnya dan menjalankan pemerintahan semaunya sendiri tanpa mempertimbangkan masa depan bangsa.

Karena merasa diri paling baik dalam menjalankan ritual keagamaan, lantas dia melupakan ciptaan Tuhan lainnya. Saat itulah terjadi ritualisme. Ritual-ritual keagamaan terkesan kering tanpa mengandung napas agama sendiri.

Saking memahami sebuah ibadah hanya lewat teks, sampai lupa mencari tahu makna di baliknya sehingga menyebabkan kita lupa akan substansi dari pada ritual-ritual tersebut.

“Surga merupakan ganjaran bagi orang yang hajinya mabrur,” begitu terkenalnya kutipan ini, sampai kita lupa bertanya apa itu haji mabrur?

Nabi menjawab, “Berbicara yang bagus dan membagikan makanan.”

Semoga kita tidak terjerumus pada sikap sombong dan ritualisme dalam agama. Ingat, di atas langit masih ada langit.

Dodoshkamil@gmail.com   Postingan Lainnya

Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) PPL Al-Tsaqafah. Sarjana Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.