Antara Shodiq, Kholil, dan Habib: Siapakah (Status) Teman Dekat Kita?

ALTSAQAFAH.ID – Dalam kehidupan sehari-hari, sebagai manusia (makhluk sosial), kita tidak mungkin hidup tanpa melakukan relasi antarsesama, terutama demi memenuhi kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup tidak melulu dipahami sebatas hal-hal material, seperti sandang, pangan, papan, tetapi juga kebutuhan kenyamanan emosional, bahkan spiritual.

Sejak dilahirkan di dunia, kita telah diajarkan tentang interaksi sosial, minimal berupa sapaan oleh kedua orang tua. Selanjutnya, ketika sudah bisa berbicara dan beraktivitas hingga saat beranjak usia remaja sampai seterusnya, kita melakukan aktivitas dalam membangun relasi dengan teman, kolega, partner kerja, dan lain sebagainya.

Namun, setiap individu tidaklah sama, tetapi memiliki karakter dan sifat yang berbeda-beda sehingga jalinan relasi setiap orang tidak semua berlangsung sama. Maka, konsekuensi heterogenitas tersebut membentuk pola diferensiasi dan stratifikasi sosial yang tidak dapat terelakkan.

Dalam praktik kehidupan sosial, relasi antarindividu itu mengalami klasifikasi tipikal ditinjau dari sisi kedekatan emosional, yang kemudian dalam terminologi bahasa Arab ada yang disebut Shodiq, Kholil, dan Habib. Ketiga istilah tersebut dapat dikategorikan sebagai teman dekat. Lalu, apa perbedaan di antara ketiganya?

Untuk menemukan jawabannya, penjelasan Syekh Ibrahim Al-Bajuri menarik untuk disimak. Dalam pendahuluan kitabnya, Hasyiyah Ibrahim Al-Bajuri, dijelaskan bahwa Shodiq adalah seorang teman yang merasakan bahagia saat engkau berbahagia dan saat engkau sedang bersedih, dia juga merasakan yang sama. Seorang teman bisa disebut Shodiq karena kejujurannya dalam mencintai engkau. Kebalikan dari Shodiq disebut sebagai al-‘aduw (musuh).

Selanjutnya, yang disebut Kholil adalah seorang teman yang merasakan bahagia saat engkau bahagia dan merasakan sedih kala engkau bersedih, serta rasa cintanya terpancarkan di dalam diri engkau. Kemudian seseorang yang disebut Habib adalah dia yang merasakan bahagia saat engkau berbahagia, turut merasa sedih ketika engkau bersedih, serta rasa cintanya yang tulus, bahkan rela berkorban dengan hartanya demi kebahagiaan engkau.

Dengan demikian, lanjut Al-Bajuri, seorang Habib (sifat al-Mahabbah) lebih utama daripada seorang Kholil (sifat al-Khullah).

Sebagai bentuk kewaspadaan, Al-Bajuri menukil perkataan Nabi Muhammad saw:

“Kelak, pada akhir zaman umatku akan mengalami fenomena berupa sangat sedikitnya harta yang halal dan saudara yang dapat dipercaya.”

Bahkan, Imam Al-Syafi’i pernah mengatakan bahwa barang siapa yang mencari seorang teman atau sahabat yang sempurna tanpa kekurangan, sesungguhnya dia sedang menyiksa dirinya sendiri. Barang siapa yang selalu mencela kekurangan saudara antarsesama, dia akan mendapatkan banyak musuh.

Walhasil, keragaman individu maupun kelompok dengan masing-masing latar belakangnya adalah sebuah keniscayaan (sunatullah), bukan untuk dijadikan sebagai permusuhan yang dapat mengakibatkan distabilitas sosial. Namun sebaliknya, fakta keragaman mesti disadari dengan sikap saling mengenal, menghargai (li ta’aarafuu), dan membantu dalam kebaikan (ta’aawanuu ala al-birri wa al-taqwa) sehingga tercipta tatanan sosial yang harmonis dan penuh kedamaian. Wallahu a’lam.

Balyamuhammad96@gmail.com   Postingan Lainnya

Guru Sosiologi dan Ilmu Tafsir Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Penikmat Kultur Pesantren.