كان خروجي من طنجة مسقط رأسي معتمداحج بيت الله الحرام وزيارة قبر النبي ، منفردا عن رفيق آنس بصحبته، ور ّاكب أكون في جملت لباعث على النفس شديد العزائم، وشوق إلى تلك المعاهد الشريفة … فجزمت نفسي على هجر الأحباب من الإناث والذكور، وفارقت وطني مفارقة الطيور للوكور
Awal perjalananku meninggalkan tanah kelahiran (Tangier Maroko) untuk menunaikan ibadah haji dan ziarah kepada Nabi Muhammad saw. Aku berangkat sendirian tak memiliki teman perjalanan yang dapat menghibur, dan aku bukan bagian dari para pelancong. Hanya terpengaruh oleh keinginan yang tak kuasa dibendung diri untuk mengunjungi tempat-tempat suci, aku pun meninggalkan teman lelaki juga perempuan dan tanah kelahiranku, seperti burung bebas terbang meninggalkan sangkarnya.
Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim Al Lawati Al Thanji adalah nama lengkap dari seorang sejarawan masyhur, Ibnu Batutah. Lahir di Tangier Maroko pada 24 Februari, 1304 M. Berasal dari keluarga ulama dan masih keturunan suku Barbar, yaitu suku Lawwata di dataran Afrika Utara.
Dalam bukunya berjudul, Tuhfah al Nadzar fi Gharaib al Amshar wa ‘Ajaib al Asfar atau dikenal dengan Rihlah Ibnu Bathuthah. Pada halaman 630–633, beliau menginformasikan tentang beberapa tempat, tokoh penguasa, kondisi sosial, politik, budaya, dan aktivitas ekonomi saat mengunjungi negeri Nusantara.
Sambutan Hangat di Istana Sultan
Saat hampir sampai di istana, kami melihat tombak-tombak berjejer di tepi jalan, rupanya sebagai tanda tempat pemberhentian terakhir menuju istana bagi siapa pun yang berkendara. Maka kami turun disambut oleh wakil Sultan penuh kehangatan, rasa hormat, dan kami saling berjabat tangan. Lalu, diperintahkan mengisi buku daftar tamu oleh anak muda pelayan kerajaan dengan membubuhkan tanda stempel untuk disampaikan kepada sang Sultan.
Pelayan kerajaan itu kembali datang dengan membawa jawaban dari Sultan, lalu mengajak kami ke farzakhana (semacam rumah peristirahatan) dan kami dibawakan tas besar berisikan tiga potong futh (jenis pakaian pendek dan tebal seperti rompi), tiga potong pakaian bawahan berbahan tebal, tiga potong pakaian atasan berbeda-beda, dan tiga potong pakaian armak (jenis pakaian tipis berbahan linen), salah satunya berwarna putih, serta tiga potong serban. Aku memilih memakai bawahan jenis futh sebagai ganti dari celana sesuai tradisi mereka dan atasan dari berbagai jenis lainnya, sedangkan sisanya dipakai teman-temanku.
Kemudian pelayan kerajaan datang membawa makanan, tetapi kebanyakan nasi dan fuqqa’ (minuman terbuat dari jelai, yaitu olahan gandum yang difermentasi), serta daun sirih sebagai tanda bahwa kami akan segera diberangkatkan berjumpa sang Sultan. Mereka membawa kami ke sebuah taman yang dikelilingi pagar dari bambu, di tengah-tengah taman terdapat rumah bambu berlantaikan beludru katun polos, ada juga yang berwarna. Di dalam rumah terdapat tempat tidur dari anyaman bambu dengan tirai sutra di atasnya, serta bantal, selimut, dan sandal.
Lalu Panglima Daulasah datang menyambut kami bersama dua orang pelayan (sebelumnya kami sudah saling kenal saat Daulasah berkujung ke Delhi India menjadi duta dari kerajaan Jawa), maka kami bertanya kepadanya, kapan kami bisa bertemu dengan sang Sultan? Daulasah menjawab: dalam tradisi kami, semua tamu akan kami pertemukan dengan sang Sultan setelah tiga hari sejak kedatangan.
Pada hari keempat, yaitu tepatnya hari Jumat, Daulasah menemui kami kembali, beliau mengatakan: sang Sultan akan menemui kalian di masjid setelah salat Jumat. Maka segeralah kami menyiapkan diri berangkat ke masjid, menunaikan salat Jumat berjamaah bersama Sultan.
Penguasa Jawa yang Hebat dan Murah Hati
Sultan Mahmud Al Malik Al Zahir adalah salah satu penguasa negeri Jawa (Samudra Pasai Aceh) yang hebat dan murah hati. Sang Sultan, seorang pengamal fikih mazhab Syafi’i dan sangat dicintai oleh para ulama, mereka selalu hadir di majelis Sultan untuk mengkaji ilmu dan berdiskusi. Beliau banyak melakukan jihad, penaklukan wilayah, serta bersifat rendah hati, dan selalu berangkat ke masjid untuk menunaikan salat Jumat dengan berjalan kaki.
Saat keluar dari masjid menuju istana, dipintu halaman masjid sudah tersedia kendaraan gajah dan kuda. Tradisi mereka, jika sang Sultan mengendarai gajah, para pengawal akan mengendarai kuda. Sebaliknya, jika beliau mengendarai kuda, mereka akan mengendarai gajah. Saat itu, sang Sultan memilih mengendarai gajah, maka kami beserta para pengawal, penasihat, dan tentara berbaris mengendarai kuda berjalan bersama menuju tempat pertemuan. Lalu kami turun dari kendaraan sesuai tradisi yang berlaku dan sang Sultan memasuki tempat pertemuan.
Para menteri, emir, cendekiawan, pembesar kerajaan, dan tokoh militer berbaris rapi. Masing-masing barisan berdiri bergantian memberikan penghormatan kepada Sultan, kemudian mereka kembali duduk pada tempat yang sudah ditentukan. Barisan terdepan terdiri dari para menteri juga katib, kemudian emir, cendekiawan (ulama fikih), seniman, penyair, tokoh militer, dan pemuda.
Sang Sultan berdiri dan sebuah mahkota bertabur di atas kepalanya, di sebelah kanan dan kiri berbaris sekitar lima puluh gajah berhias dan seratus kuda yang sangat energik. Kemudian datang para lelaki bermain musik, bernyanyi sambil menari, dan seekor kuda berhiaskan sutra, memakai gelang kaki dari emas, dan sepatu bersulam sutra. Aku merasa takjub, sungguh sangat luar biasa pemandangan ini, aku pernah melihat hal serupa sebelumnya pada upacara maharaja di India.
Ibnu Batutah berada di negeri Jawa (Samudra Pasai) selama lima belas hari, akhirnya beliau dan rombongan berpamitan kepada Sultan. Sang Sultan menyediakan perahu untuk kami, mengantar kami, dan memberi bekal banyak kepada kami. Semoga Tuhan membalas kebaikannya, doa Ibnu Batutah.
Biro Pengembangan Mutu Guru Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah

