ALTSAQAFAH.ID – Sebagai manusia biasa yang tidak luput dari salah dan dosa, pasti dalam menjalani kehidupan sehari-hari ada saja maksiat yang dilakukan, baik itu yang kecil atau besar, yang sengaja atau tidak sengaja, dan yang terlihat atau tidak terlihat. Beruntunglah kita adalah hamba Allah yang maha menuputi aib.
عن يعلى بن أمية رضي الله عنه أنَّ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم رأى رجلًا يغتسل ُبالبَراز بلا إزار، فصعِد المِنْبر، فحَمِد اللهَ وأثنى عليه، ثم قال صلى الله عليه وسلم: «إنَّ اللهَ عزَّ وجلَّ حَيِيٌّ سَتِيرٌ، يحب الحياءَ والسَّتر؛ فإذا اغتسل أحدُكم فليستتر. [صحيح] – [رواه أبو داود والنسائي]
Dari Ya’la bin Umayyah raḍiyallāhu ‘anhu bahwa Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam melihat seorang lelaki mandi di tempat terbuka tanpa ada kain penutup. Lantas beliau naik mimbar lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya. Selanjutnya beliau ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla Maha Pemalu lagi Maha Menutupi, Dia mencintai (sifat) malu dan menutup (aib/aurat), maka jika seseorang di antara kalian mandi, hendaklah dia memakai tabir!”. Hadis sahih – Diriwayatkan oleh Nasā`i.
Sifat malu akan aib yang ada pada diri kita ternyata salah satu sifat yang Allah sukai. Sudah menjadi naluri setiap manusia akan malu jika keburukan atau kesalahannya diketahui orang lain sehingga ia akan menutupi hal itu semua. Walaupun rasa malunya masih tingkat rendah, yakni karena takut celaan dan hinaan dari sesama manusia, belum sampai pada tingkatan malu kepada Allah akan diri yang berlumuran dosa dan hina. Namun, malu tingkat rendah ini merupakan salah satu adab dan akhlak yang baik di mata manusia karena sifat ini membuat seseorang akan memperbagus segala tindak tanduknya dan meninggalkan segala hal yang buruk dan tidak elok di hadapan manusia. Sebagai contoh, jika seseorang mempunyai rasa malu, ia akan berjalan di jalan yang benar sesuai dengan norma, tidak terburu-buru melakukan tindakan yang akan mempermalukan dirinya, tidak akan berbicara, kecuali dengan kalimat yang baik dan sopan. Maka, harapannya sifat malu tingkat rendah ini akan naik menjadi malu kepada Allah jika melakukan keharaman dan meninggalkan kewajiban. Inilah alasan mengapa malu itu merupakan sebagian dari iman.
Aib itu bisa berupa apa saja, kekurangan, kecacatan, kesalahan, dan lain-lain termasuk juga dosa karena maksiat. Lantas apa yang harus dilakukan seorang hamba jika telah berbuat dosa atau maksiat? Apakah cukup dengan rasa malu jika diketahui orang lain? Tentu tidak, bertaubat tanpa mengumbar dosanya, memperbanyak istigfar dan ibadah adalah cara terbaik yang dapat dilakukan seorang hamba. Jika demikian, niscaya Allah akan mengampuni dan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.
Kemaksiatan dan amal buruk dapat terhapus oleh ketaatan dan amal baik. Begitu pun sebaliknya ketaatan dan amal baik dapat terhapus oleh kemaksiatan dan amal buruk. Allah berfirman dalam Q.S. Muhammad ayat 33:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.
Imam Ghazali mengatakan, “Setelah menyelesaikan suatu pekerjaan atau amal, seseorang memerlukan kesabaran untuk tidak mengungkapkannya dan memperlihatkannya demi nama baik atau popularitas dan riya’ dan juga membutuhkan kesabaran untuk tidak menyombongkannya dan menahan diri dari segala sesuatu yang membuat pahala amalnya terhapus.”[1]
Barang siapa ingin mendapatkan pahala atas pekerjaannya di akhirat, hendaklah ia mengerjakan suatu amal dengan ikhlas karena Allah Yang Maha Esa, tanpa riya’, maka lupakanlah amal itu, agar tidak terhapus oleh kesombongan karena dikatakan, “Menjaga ketaatan adalah lebih sulit daripada melaksanakannya.” Abu Bakar Al-Wasiti berkata, mempertahankan ketaatan lebih sulit daripada melaksanakannya sebab ketaatan ibarat kaca yang mudah pecah dan tidak dapat diperbaiki lagi. Begitu pula amal bila tersentuh riya’, akan pecah dan bila kecongkakan menyentuhnya, akan pecah pula amal tersebut. Jika seseorang ingin melakukan suatu amal dan takut akan riya’ dalam dirinya, jika ia mampu mengusir riya’ dari hatinya, ia harus berusaha untuk melakukannya. Namun, jika ia tidak mampu melakukannya, ia harus tetap mengerjakan amal tersebut dan tidak meninggalkannya hanya karena takut riya’. Kemudian setelah itu hendaknya ia memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa atas riya’ yang dilakukannya sehingga mungkin Tuhan Yang Maha Esa akan memampukannya untuk ikhlas dalam amal yang lain.[2] Bahkan, takut riya’ merupakan penyakit hati yang bisa menjadikan kesombongan, prasangka-prasangka tidak baik, dan penyakit hati lainnya.
Dalam kitab Sullam at-Taufiq karangan Syaikh Abdullah Ba’alawiy, disebutkan syarat-syarat salat agar diterima Allah di antaranya adalah dengan tidak sombong akan salatnya.[3] Memang, pahala dan siksa adalah hak Allah dengan Maharahman dan Rahim-Nya, bahkan kita tidak tahu amal baik manakah yang sudah diterima Allah dan amal buruk manakah yang sudah ditulis Allah. Namun, kita sebagai manusia harus berusaha bagaimana menjadi hamba yang taat dan mendapat rida Allah dengan ketaatan kita.
Sertakan hati dalam ibadahmu
Akal seraya berkata “aku tidak mau tahu”
Rahmat Allah mudahkan jiwa raga menghadap
Selain rida apalagi yang diharapSertakan akal dalam maksiatmu
Hati seraya berkata “Allah Maha Tahu”
Rahmat Allah akan menutupi tanpa disadari
Mohon ampunlah dan segera kembali
[1] Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Juz 4, Hal. 70
[2] Abu Laits As Samarqandi, Tanbihul Ghafilin Bi Ahadisi Sayyidil Anbiya, Juz 1, Hal. 33
[3] Abdullah Ba’alawiy Sullam at-Taufiq, Hal. 34
Guru Fiqh dan Tajwid Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah

