Demokrasi Fasis

ALTSAQAFAH.ID – Anda tak perlu heran dengan judul di atas karena penulisnya memang gila. Jadi, mohon dimaklumi jika kata-katanya suka campur aduk tak jelas dan menimbulkan kontradiksi. Tentu dunia normal Anda sulit menerima model kontradiksi semacam ini. Kalaupun bisa menerima, pastinya setelah Anda mencerna dan berpikir terlebih dahulu sehingga tampak serasi dan seirama sesuai logika.

Bahasa -seingat saya saat masih logis seperti Anda- memiliki banyak kosakata yang sekaligus memuat antonimnya. Maksudnya, banyak kata-kata yang menyimpan suatu arti sekaligus makna lain yang berlawanan. Karena pertumbuhan kata-kata seperti ini terus berkembang, mohon beribu-ribu maaf, saya telah menambahkan kosakata baru seperti judul di atas. Dalam pemahaman orang-orang gila, demokrasi dan fasisme itu sama saja, tidak berbeda sedikit pun. Orang-orang gila adalah manusia yang banyak merasakan kelezatan kata tersebut. Lidah dan perut mereka -karena lebih sensitif- tak sanggup melahap kelezatan seluruhnya sehingga tubuh dan kaki disertakan agar setelah itu, lidah mereka berbicara dan bertasbih dengan segala pujian. Inilah fasisme demokrasi!

Tersebutlah di sebuah negara, rakyatnya meninggal setiap hari karena kelaparan. Beberapa media internasional berlomba-lomba memberitakan malapetaka ini. Foto dan video diviralkan untuk mengabarkan tentang kematian dan kelaparan yang mewabah di seantero negeri. Seolah-olah malaikat maut telah membangun pangkalan militer yang tak pernah ditinggalkan, kecuali hanya untuk rekreasi, lalu setelahnya kembali meninabobokan penduduknya. Bau kematian dan kelaparan semerbak di setiap sudut kota. Bola mata para penduduk terlihat putih pucat, sedangkan bibirnya diselimuti embun kematian yang membeku.

Jalanan lengang dan sunyi sepi, hanya terlihat para tentara dan warga sipil yang mengendarai mobil. Mereka terlihat -dibandingkan yang lain- seperti orang asing yang datang mengunjungi orang-orang mati, seperti untuk sekadar menyampaikan salam perpisahan. Tentara dan warga sipil itu tampak kekar dan terlatih. Mereka adalah kepanjangan tangan pemerintah yang tak henti-henti membantu. Kalau saja tidak ada orang-orang gemuk dan sehat itu, mayat-mayat yang terlantar itu tak mungkin menemukan orang yang sukarela mengubur dan menyembunyikannya ke dalam tanah. Pemerintahan kami sangat mencintai rakyatnya. Seperti itulah, semua pemerintah di dunia ini berlomba-lomba menerapkan cinta seperti ini.

Di negara yang sudah ditinggal mati rakyatnya ini, tank, mobil meriam, dan bala tentara berlalu-lalang setiap hari tak seperti biasanya. Mungkin itu parade militer pemerintah yang ingin menegaskan kepada media internasional bahwa negaranya masih dihuni banyak rakyat yang bisa diikutsertakan dalam perang pemilu. Namun, sepertinya ada yang janggal. Wajah mereka tak seperti orang-orang yang sedang berparade. Di lapangan utama tak ada panggung untuk para tamu, juga tak ada podium untuk sang panglima. Pasti telah terjadi sesuatu di luar biasanya.

Dia berusaha menanyakan keanehan ini kepada seseorang di antara mereka, tetapi tak ada jawaban sedikit pun. Ia bergumam dalam hati: “Mungkin mereka sedang sibuk akan berperang atau pergi Latihan. Tentara-tentara kami selalu melakukan latihan perang. Mereka sangat menguasai keterampilan ini, bahkan seorang tentara berpangkat biasa pun mampu mengendalikan beberapa tank dari satu tempat dengan keahlian yang tak dimiliki oleh si pembuatnya sekalipun. Akhirnya kami tahu bahwa negara adikuasa telah mengirim bala tentara dan para jenderalnya untuk latihan bersama di negara kami sebagai wujud perjanjian kerja sama militer.

Jalanan semakin lama semakin sepi dari pejalan kaki dan terasa begitu mencekam. Hanya terdengar suara rantai mobil berlapis baja yang mengarah ke stasiun berita dan kantor-kantor pemerintah. Di negara kami, stasiun berita adalah elemen paling penting karena pemerintah tahu betul kalau pendengaran adalah indra paling kuat yang dimiliki manusia sehingga mereka memusatkan pelatihan terhadap indra pendengaran rakyatnya, bahkan sebelum mereka terlahir ke dunia.

Ia kembali ke rumah lantas merebahkan diri di kursi yang sudah lapuk sembari menunggu kepulangan istrinya, Khodijah, yang tak kunjung datang. Ia mengira Khadijah pergi ke rumah keluarganya mencari sesuatu yang bisa dimakan. Lama menunggu hingga habis kesabaran, akhirnya ia pergi menyusul ke rumah mertuanya. Pintu diketuk, sang mertua pun muncul. Lalu ia menanyakan istrinya. Sang mertua menjawab kalau Khadijah tidak ada. Kemudian ia dibawa masuk ke dalam dan ditanyai tentang peristiwa kudeta. Kata itu melintas cepat di telinganya. Ia berusaha merangkai susunan huruf kata tersebut dalam ingatan sehingga membawanya kembali ke suasana tengah kota yang dipenuhi tank dan meriam.

Pikirannya melayang-layang. “Jadi ternyata itu kudeta? Siapa yang mengudeta? Siapa yang dikudeta? Mereka masih saja terus berebut kekuasaan? Ah, begitulah pemerintah! Tapi untuk apa mereka bertikai? Memperebutkan kota mati? Sangat aneh. bagaimana mungkin manusia bertikai untuk merebutkan kota yang dihuni orang-orang mati? Seketika ia tersadar kalau ia berbicara dengan logika, sepertinya ada yang tidak beres dengan pikirannya.

Ia tinggalkan mertuanya yang sedang menunggu jawaban. Ia kembali menyusuri jalan mengetuk pintu-pintu rumah menanyakan Khodijah. Akhirnya ia sampai pada sebuah rumah. Tuan rumah yang ia datangi adalah salah satu oposisi pemerintah yang telah dikudeta tadi pagi. Tuan rumah terlihat yang paling gembira di antara anggota keluarganya yang sedang berkumpul. Ia mendengar pimpinan kudeta sedang berpidato di radio tentang kebebasan masa depan dan era baru demokrasi yang katanya akan merangkul seluruh lapisan masyarakat.

Ia kaget dengan demokrasi model baru yang datang dengan tank dan mampu mengayomi seluruh penduduk negeri. Pikirnya bisa jadi kematian pun merupakan bagian demokrasi. Saat itu pemimpin kudeta mengajak rakyat untuk keluar rumah dan ikut demo mendukung. Ia lupa kalau yang mampu bergerak adalah orang-orang yang telah dikudeta dan sekarang mereka berada di tempat persembunyian atau sedang menikmati demokrasi era baru.

Ia menanyakan keberadaan Khadijah, tetapi tuan rumah itu justru membentak tepat di depan mukanya. Ia kembali berujar: “Aku mencari Khodijah, apa Anda melihatnya?”

Di rumah sakit demokrasi ia terbangun. Seorang polisi berpangkat briptu sedang membaca hasil investigasi. Katanya ia telah melakukan penyidikan. Si gila diminta menandatangani surat pengakuan kalau dirinya telah berbuat makar dan kontra demokrasi. Namun, ia malah teriak mencari Khadijah. Lalu ada seorang perwira masuk dan penyidik tadi memberikan berkas tuduhan. Sang perwira membacanya acuh tak acuh sembari mencuri pandang pada orang yang lebih memilih Khadijah daripada demokrasi. Sang perwira itu melemparkan map dan memerintahkan untuk membawa orang itu ke rumah sakit jiwa. Mungkin ia akan kembali normal bersamaan dengan angin segar kebebasan yang akan disuntikkan moncong-moncong tank baja ke dalam rumah sakit.

 

Diterjemahkan dari kumcer Malaf Majnun (Dokumen Si Gila) karya Mahdi Emberesh 1991, dengan judul asli ad-Dîmuqrôtiyah al-Fâsyiyah.

sofwanism@yahoo.com   Postingan Lainnya

Kepala Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah