ALTSAQAFAH.ID – Berawal dari obrolan di warkop Duren Tiga, sebut saja begitu. Dewasa ini usaha warkop, kafe, kedai, dan sejenisnya menjadi sangat tren dan banyak menjamur di wilayah perkotaan. Tempat ini ramai dan laku dikunjungi, bahkan menjadi ruang kebutuhan bagi para penikmatnya. Adapun mereka yang berkunjung adalah lintas generasi. Ada dari kalangan anak muda atau milenial, orang tua, para karyawan, bahkan anak sekolah berseragam pun meluangkan waktunya hanya untuk bercerita di warkop.
Eksistensi warung kopi sudah menjadi ruang kebutuhan bagi para generasi milenial. Data tren saat ini, generasi milenial X, Y, Z atau sebutan bagi kelompok usia yang tumbuh di tahun 2000-an, sudah mencapai 69,38 juta jiwa atau 25,87 persen dari total penduduk. Mereka mudah ditemukan di kedai-kedai kopi yang tersebar di banyak penjuru negeri, bahkan menjadi kelompok dominan. Fenomena ini sudah menjadi gaya hidup budaya konsumtif generasi milenial. Lewat tempat ini mereka bisa menikmati kopi yang lebih dinikmati dengan penuh rasa santai dan menggoyahkan kegembiraan. Mungkin warkop sekarang menjadi ruang publik positif. Dari tempat sederhana ini muncul ide-ide dan solusi terhadap semua permasalahan. Boleh jadi, generasi anak milenial ini memiliki orientasi yang lebih mengarah pada work life balance. Orientasi yang lebih mengejar solidaritas serta kebahagiaan bersama ketimbang harta semata.
Ternyata bukan hanya itu alasan generasi milenial suka menongkrong. Menurut survei Alvara Research Center, generasi Z lebih banyak merasa stres dan cemas dibanding kelompok generasi yang lebih tua. Responden dari generasi Z yang merasa cukup cemas sebanyak 40%, cemas 23,3%, dan sangat cemas 5%. Sebanyak satu dari tiga remaja berusia 10-17 tahun di Indonesia memiliki masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Jumlah itu setara dengan 15,5 juta remaja di dalam negeri. Mengapa demikian? Banyak penyebabnya, sebab-sebab kegelisahan generasi muda milenial saat ini, yaitu mulai dari urusan asmara, belajar di sekolah, sikap teman bergaul, kondisi rumah, dan keharmonisan keluarga. Kemudian tidak sebatas itu, rasa khawatir terhadap masa depan (trauma terhadap imajinasi masa depan) dan masih banyak lainnya. Padahal mungkin ia adalah seorang konglemerat atau pejabat yang selalu hidup dalam suasana gemerlap, baik karena banyaknya harta maupun tingginya pangkat. Fasilitas hidup sangat mudah didapat, tetapi tidak ada ketenangan dan kedamaian dalam hidup mereka.
Mengenalkan stabilitas personal bagi generasi milenial tidaklah kalah penting. Dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan di masa modern ini, terkadang kaum milenial rentan sekali dengan kondisi tidak tenang dan tidak damai, merasakan sengsara, bahkan menderita. Hidupnya selalu cemas, stres, takut, pesimis, apatis, dan perasaan-perasan negatif lainnya.
Di tahun 2024 ini mungkin menjadi tahun banyaknya fenomena orang mudah cemas, khawatir, mental down. Sekilas bisa dilihat dari berserakannya status di media sosial. Mungkin bisa sampai bosan melihat curhatan di medsos, maraknya kata-kata mutiara, kata-kata motivasi, bahkan di semua flatform medsos, baik Instagram, Tiktok, Twitter, dan Facebook. Belum lagi maraknya video-video filosofi hidup, mulai dari hidup biasa-biasa saja, ajaran stoikisme, hidup mengalir, seni hidup hemat, bahkan seni hidup bersikap bodo amat. Boleh jadi ini menunjukkan bahwa generasi milenial ini kehilangan visi keilahian. Hal ini dapat berdampak dan menimbulkan gejala psikologis mental dan rohani, yakni adanya kehampaan spiritual. Penulis hanya terbayang setelah beberapa perenungan dan muncul beberapa pertanyaan di benak.
Apa yang sebenarnya sedang dihadapi generasi milenial ini?
Apa yang menyebabkan anak muda ini mengalami kehampaan spiritual?
Setiap manusia memiliki sakralitas terhadap sesuatu. Manusia harus menyadari potensinya, selama ini kita kurang fokus sebagai makhluk rohani. Manusia modern sekarang terjebak dengan hal-hal yang bersifat materialisme, hedonisme. Seolah mereka terjebak kepada yang sifatnya kekinian, keviralan, dan lebih berorientasi kepada hal-hal yang jangka pendek, kurang memanfaatkan potensi yang mereka miliki, yaitu potensi rohaninya.
Hati nurani menjadi sebuah holding raksasa, di sana konsep pekerjaan menjadi tidak relevan karena kita bisa menjadi owner, CEO dalam diri kita. Royalti itu sudah melebur, suka-suka kita. Perjalanan keluar itu selalu lebih ramai, masif, dramatik, ketimbang perjalanan menuju ke dalam.
Dengan kata lain, sensasi memperluas kesadaran pada generasi milenial yang seharusnya mulai pelan-pelan dikenalkan. Orang seharusnya lebih fokus untuk menemukan “kesadaran diri”, bukan “kebahagiaan diri” sehingga nasibnya tidak akan lagi ditentukan oleh kejadian-kejadian di sekitarnya (tak lagi mempersoalkan di mana, kapan, dan bagaimana kejadian-kejadian itu terjadi).
Kita mengetahui bahwa generasi milenial ini pintar-pintar, cepat dalam teknologi, realistis terhadap sesuatu, dan logis-logis. Namun, tetap kecerdasan logis harus diimbangi dengan “matematika rasa” untuk memutus siklus takut akan masa depan dan menyesali masa lalu sehingga mendapatkan hasil akhir dari perpotongan antara perasaan bahagia dan tidak bahagia. Melalui kesadaran diri ini, generasi milenial tahu enam prinsip kearifan lokal yang membudaya di masyarakat Nusantara, masyarakat Jawa khususnya, yaitu
“Sa”: sabutuhê, saperlunê, sacukupê, sabenerê, samesthinê, sakepe nakê (sebutuhnya, seperlunya, secukupnya, sebenarnya, semestinya, dan sepantasnya). Jika Suryomentaram menginginkan kopi ketimbang teh untuk mengatasi dahaganya, “ego” (aku) hanya akan memerintahkan untuk mengambil segelas air putih.
Kehilangan visi keilahian dan deposit spiritual bagi generasi milenial adalah bahaya. Generasi milenial harus dikenalkan, disadarkan potensinya sebagai makhluk rohani yang memiliki jiwa keindahan. Tuhan telah menyiapkan pintu-pintu untuk mencerdaskan rohani manusia. Namun, dibutuhkan proses untuk meniscayakan tahapan evolusi rohani. Momentum kesadaran ini menegaskan agar manusia memupuk deposit spiritual diri sehingga mengerti bahwa manusia adalah makhluk rohani, berharga, dan utuh. Memaksimalkan ibadah ritual dan ibadah sosial dapat memberikan solusi dan evolusi terhadap rohani manusia sehingga tidak tertutupi oleh tirai kemaksiatan dan tampaklah sinar-sinar rohaninya.
Berasal dari Brebes. Pengajar TIK di Pondok Pesantren luhur Al-Tsaqafah. Di samping mengajar, memiliki kegemaran membaca buku, terlebih buku-buku sejarah, literatur Islam, kesenian, jurnal kebudayaan nusantara, dan lain-lain. Suka terhadap hal-hal baru, unik, dan menantang.

