Indonesia adalah negara di Asia Tenggara yang terletak tepat di garis ekuator (khatulistiwa) yang menyebabkan Indonesia memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Dua musim tersebut memberikan dampak positif dan negatif bagi kehidupan manusia, hewan, dan juga tumbuhan. Hujan merupakan sumber air bagi bumi. Melalui proses evaporasi hingga infiltrasi, hujan memberikan makna kehidupan bagi makhluk hidup yang ada di bumi.
Musim hujan adalah bagian integral dari siklus alam yang membawa manfaat dan tantangan bagi ekosistem kehidupan. Penting untuk memahami dan mengelola dampak musim hujan untuk menjaga lingkungan tetap seimbang dan berkelanjutan. Upaya konservasi, pengurangan risiko bencana, dan adaptasi perlu ditingkatkan lebih lanjut untuk melindungi ekosistem dari dampak ekstrem musim hujan serta mendorong keberlanjutan jangka panjang.
Angin monsun barat dan angin monsun timur adalah jenis angin muson yang memengaruhi iklim di wilayah Indonesia, terutama dalam pergantian musim hujan dan musim kemarau. Angin monsun barat bertiup dari arah barat (Asia) dan angin monsun timur bergerak dari arah timur (Australia) yang kemudian mengakibatkan musim kemarau.

Namun, yang kita rasakan saat ini berbanding terbalik dengan fenomena angin monsun tersebut. Fenomena yang terjadi adalah kemarau basah. Kemarau basah adalah kondisi ketika hujan turun secara berkala pada musim kemarau atau disebut juga sebagai kemarau yang bersifat di atas normal. Biasanya, musim kemarau di Indonesia identik dengan cuaca panas dan minimnya curah hujan. Namun, fenomena ini membuat kita kebingungan karena intensitas hujan masih tergolong tinggi meskipun angin monsun timur sudah bertiup sejak bulan April.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa sebagian wilayah di Indonesia akan mengalami fenomena ini, yaitu Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Fenomena kemarau basah ini dapat terjadi karena hujan masih turun secara masif meskipun wilayah tersebut seharusnya sudah memasuki musim kemarau. Kondisi ini tidak biasa karena musim kemarau umumnya ditandai dengan curah hujan yang minim. Normalnya, musim kemarau ditandai dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian (sepuluh hari).
Apa saja dampak dari kemarau basah?
Fenomena ini memberikan dampak ganda. Di satu sisi, pasokan air pada musim kemarau meningkat sehingga sangat mendukung sektor perairan. Namun, di sisi lain, hal ini sangat berdampak buruk bagi sektor pertanian di wilayah yang terdampak kemarau basah. Kondisi yang merugikan ini membuat lahan pertanian dan perkebunan menjadi sangat lembap dan menyebabkan gagal panen yang signifikan. Lahan yang lembap membuat sebagian hama dan penyakit juga lebih mudah berkembang. Dampak signifikan tidak hanya dirasakan oleh sektor pertanian. Intensitas curah hujan yang terus-menerus pada musim kemarau ini membuat beberapa wilayah tergenang air, menciptakan tempat yang ideal untuk perkembangbiakan jentik nyamuk, serta meningkatkan risiko infeksi pernapasan dan alergi pada kulit.
Apakah kemarau basah adalah bukti bahwa dunia sudah tua?
Kemarau basah adalah fenomena cuaca yang disebabkan oleh beberapa faktor atmosfer, seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, Rossby ekuator, serta kondisi suhu muka laut yang lebih hangat. Selain itu, ada pula pengaruh La Niña yang dapat meningkatkan kelembapan dan aktivitas hujan, serta pergeseran pola angin yang menyebabkan lebih banyak uap air terbawa ke daratan. Faktor-faktor itulah yang membuat musim kemarau berubah menjadi kemarau basah. Fenomena ini bukanlah pertanda bahwa bumi sudah menua.
Kita tidak perlu berpikir bahwa fenomena yang terjadi tahun ini adalah sebuah pertanda bahwa dunia sudah menua. Namun, yang perlu kita persiapkan adalah tindakan mitigasi bencana, seperti perbaikan drainase dan infrastruktur, baik oleh masyarakat maupun pemerintah.
Pengajar Ilmu Geografi. Penikmat One Piece. Pendengar Bring Me The Horizon (BMTH)

