Jepang merupakan salah satu negara maju di dunia yang dikenal dengan tingkat kedisiplinan, kebersihan, dan keteraturan yang tinggi dalam kehidupan masyarakatnya. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari budaya kerja dan pola hidup yang tertanam kuat, salah satunya melalui penerapan konsep 5S, yaitu Seiri (ringkas), Seiton (rapi), Seiso (resik), Seiketsu (rawat), dan Shitsuke (disiplin).
Konsep 5S tidak hanya diterapkan dalam dunia industri di Jepang, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya, mulai dari lingkungan rumah, sekolah, hingga tempat umum. Nilai-nilai ini membentuk karakter masyarakat Jepang yang tertib, bertanggung jawab, serta memiliki kesadaran tinggi terhadap kebersihan dan kerapian, sehingga menciptakan lingkungan yang nyaman, efisien, dan berdaya saing tinggi.
Adapun pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya berfokus pada pembelajaran ilmu agama, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kemandirian santri. Dalam kehidupan sehari-hari di pesantren, nilai-nilai kebersihan, kerapian, dan tanggung jawab menjadi bagian penting yang harus diterapkan oleh seluruh santri.
Sejalan dengan hal tersebut, konsep 5S pada dasarnya telah lama tercermin dalam kehidupan pesantren, meskipun tidak selalu disebut dengan istilah yang sama.
Berikut penjelasan praktisnya dalam konteks kehidupan pesantren:
1. Seiri (Ringkas) – Memilah
Fokusnya adalah memisahkan barang yang penting dan tidak penting.
- Di Jepang: Meringkas pekerjaan dan barang-barang dengan memilah mana yang masih terpakai dan yang sudah tidak terpakai, serta menentukan mana yang harus dibuang. Dengan demikian, lingkungan kerja tidak terlihat penuh sesak dan kenyamanan dalam bekerja tetap terjaga.
- Di pesantren: Santri memilah barang di kamar, hanya menyimpan pakaian, kitab, dan perlengkapan yang diperlukan. Barang rusak atau tidak terpakai (misalnya sandal putus, botol kosong) dibuang atau didaur ulang sehingga mengurangi penumpukan barang di lemari atau di bawah tempat tidur.
2. Seiton (Rapi) – Menata
Menata barang agar mudah dicari dan digunakan.
- Di Jepang: Lingkungan kerja yang rapi membuat karyawan lebih bersemangat saat bekerja. Barang-barang ditata atau diurutkan dengan baik sehingga ketika diperlukan dapat dengan mudah ditemukan dan siap digunakan.
- Di pesantren: Kitab disusun rapi berdasarkan ukuran atau mata pelajaran. Sandal atau sepatu ditata di rak khusus agar tidak tertukar. Peralatan mandi ditempatkan di wadah masing-masing. Jadwal kegiatan harian ditempel di dinding kamar.
3. Seiso (Resik) – Membersihkan
Menjaga kebersihan lingkungan.
- Di Jepang: Debu dan kotoran harus dibersihkan secara rutin. Selain itu, tempat kerja yang sudah usang atau rusak perlu diperbaiki atau diperbarui. Lingkungan kerja yang bersih akan menciptakan kenyamanan dalam bekerja.
- Di pesantren: Dilakukan piket harian untuk membersihkan kamar, halaman, dan kamar mandi. Kegiatan seperti menyapu, mengepel, dan membuang sampah dilakukan secara rutin. Tempat wudu dan masjid juga dibersihkan setelah digunakan.
4. Seiketsu (Rawat) – Standardisasi / Istiqamah
Menjaga konsistensi dari tiga langkah sebelumnya.
- Di Jepang: Jika lingkungan kerja sudah bersih, maka harus dipertahankan agar tidak cepat kotor kembali. Barang-barang di lingkungan kerja juga dirawat bersama agar tidak cepat rusak.
- Di pesantren: Dibuat jadwal piket yang teratur dan adil. Ditetapkan aturan kebersihan kamar dan lingkungan. Pengurus atau musyrif melakukan pengecekan rutin. Terdapat standar kerapian, misalnya lipatan selimut dan susunan lemari.
5. Shitsuke (Rajin) – Disiplin
Membentuk kebiasaan dan kedisiplinan.
- Di Jepang: Membiasakan diri untuk tidak menunda pekerjaan, membuat rencana kerja secara detail, dan datang ke tempat kerja tepat waktu merupakan bagian dari konsep Shitsuke.
- Di pesantren: Santri terbiasa menjaga kebersihan tanpa disuruh. Mereka disiplin mengikuti aturan, baik dalam belajar, beribadah, maupun menjaga kebersihan. Nilai tanggung jawab dan kesadaran diri terus ditanamkan, disertai pemberian sanksi atau penghargaan untuk menjaga konsistensi.
Kesimpulan
Penerapan nilai-nilai yang sejalan dengan konsep 5S di pesantren tidak hanya berkaitan dengan kebersihan fisik, tetapi juga berperan dalam membentuk akhlak, kedisiplinan, dan tanggung jawab santri. Nilai-nilai tersebut, jika dijaga dan dilaksanakan secara konsisten, akan menciptakan lingkungan pesantren yang lebih nyaman, tertib, dan kondusif bagi proses belajar serta ibadah.
Dengan menyadari keselarasan antara konsep 5S dan praktik yang telah berlangsung di pesantren, diharapkan terbentuk generasi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki akhlak yang baik serta kesadaran tinggi terhadap kebersihan dan keteraturan lingkungan.
Guru Bahasa Jepang PPL Al-Tsaqafah (Periode 2024-2025). Alumnus Al-Tsaqafah angkatan ke-3, asal Indramayu. Sarjana Hukum Tata Negara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

