Al-Tsaqafah Terima Kunjungan Kehormatan Duta Besar Republik Islam Iran

Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah menerima kunjungan kehormatan dari Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, pada Jumat malam (17/04/2026). Kedatangan diplomat tinggi tersebut disambut langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Abuya K.H Said Aqil Siroj.

Dalam kunjungannya, Mohammad Boroujerdi membagikan informasi terkini mengenai stabilitas keamanan di negaranya yang dilaporkan mulai berangsur membaik. Ia memberikan konteks mengenai ketegangan yang sempat terjadi sebelumnya, termasuk insiden serangan yang menyasar fasilitas publik.

Boroujerdi secara khusus menyebutkan duka mendalam atas serangan terhadap sebuah sekolah dasar (SD) putri yang mengakibatkan lebih dari 160 jiwa meninggal dunia. Namun, ia menekankan bahwa periode konflik terbuka tersebut kini telah mereda.

“Kondisi Iran saat ini sudah mulai membaik. Sejak tanggal 28 Februari lalu, sudah tidak ada lagi serangan dari pihak lawan yang terjadi di wilayah kami,” ujar Boroujerdi saat memberikan keterangan di hadapan keluarga besar Al-Tsaqafah.

Menanggapi hal tersebut, Abuya Said turut memberikan pandangan mendalam mengenai dinamika geopolitik di Timur Tengah. Beliau menegaskan bahwa konflik yang terjadi bukan sekadar persoalan politik semata, melainkan memiliki dimensi religius yang kompleks. Abuya Said mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap agenda zionisme yang berpotensi mengancam kedaulatan berbagai negara, mulai dari Palestina, Irak, Yaman, Lebanon, hingga kawasan tanah suci Mekkah dan Madinah.

Dalam pesannya yang menyejukkan, Abuya Said meminta umat Islam untuk tidak merasa gentar dalam menghadapi berbagai tantangan global. “Kita tidak boleh takut pada musuh karena sesungguhnya Allah ada di pihak kita. La Tahzan, Innallaha Ma’ana (Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita),” tutur beliau.

Lebih lanjut, Abuya Said menekankan bahwa kunci ketangguhan umat terletak pada prinsip keimanan yang teguh. Menurutnya, perjuangan membela kebenaran adalah sebuah kemuliaan; menang dianggap sebagai keberhasilan, dan jika gugur maka dinilai sebagai syahid.

Acara silaturahmi tersebut ditutup secara simbolis dengan penyerahan cinderamata berupa keris kepada Mohammad Boroujerdi. Pemberian keris ini dimaknai sebagai simbol persatuan, persaudaraan, dan harapan akan kemenangan bagi umat Islam. Pertemuan pun diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai bentuk penghormatan atas hubungan diplomasi dan spiritual yang terjalin.

kamilhidayatullah@gmail.com   Postingan Lainnya

Santri kelas 10.2 Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah

Santri kelas 10.1 Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah