ALTSAQAFAH.ID – Allah Swt. memiliki asma dan sifat yang dapat diketahui oleh seorang muslim melalui Al-Qur’an ataupun sunah. Al-Khāliq (Maha Pencipta) ialah satu dari sekian banyak asma Allah yang disebutkan dalam Al-Qur’an,
هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَٰلِقُ ٱلۡبَارِئُ ٱلۡمُصَوِّرُۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ
“Dialah Allah Yang Menciptakan Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah.”
Al-Khāliq adalah bentuk isim fā’il dari kata al-Khalq (الخلق), yang secara bahasa memiliki makna menciptakan suatu hal dalam bentuk tertentu. Lebih khusus, al-Khalq memiliki makna menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Maka suatu hal yang pantas apabila Allah Swt. memiliki nama al-Khāliq karena segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, semuanya berawal dari ketiadaan dan Allahlah satu-satunya zat yang menciptakan seluruhnya, tanpa ada campur tangan pihak lainnya.
Namun timbul pertanyaan, seluruh asma Allah Swt. tersemat kepada zat-Nya sejak zaman azali ketika belum ada ciptaan apa pun selain-Nya, lalu bagaimana mungkin Allah Swt. memiliki nama al-Khāliq (Pencipta) sejak azali, sedangkan saat itu Allah belum menciptakan apa pun?
Dalam menanggapi persoalan ini, para mutakallim (ulama ahli teologi) dari kalangan Asya’irah (pengikut metodologi teologis Asy’ariy) dan Maturidiyah (pengikut metodologi teologis Maturidiy) memiliki pandangan yang berbeda.
Asya’irah ketika menyifati Allah di zaman azali sebagai Zat Yang Maha Menciptakan (al-Khāliq) memaknainya sebagai zat yang memiliki kemampuan untuk menciptakan (khāliqun bil quwwah) yang berarti Allah memiliki kuasa untuk menciptakan sejak azali walaupun belum adanya makhluk. Setelah Allah Swt. telah benar-benar menciptakan makhluk barulah Dia disifati sebagai khāliq bil fi’liy. Dapat disimpulkan bahwa penyifatan Allah Swt. oleh Asya’irah dengan istilah khāliq bil quwwah merupakan sebuah majas, begitu pula dengan sifat lainnya, seperti rāziq, muhyī, mumīt, rāfi’, qābidl, dan seterusnya, seluruhnya tersemat kepada Allah Swt. dalam azali sebagai majas.
Oleh karena inilah Maturidiyah kemudian meng-isykal-kan penyifatan Allah Swt. dengan majas. Mereka berpendapat bahwa Asya’irah berbeda dengan kami Maturidiyah yang menyifati Allah dalam azali secara hakikat bukan majas. Maturidiyah menyifati Allah Swt. dengan sifat-sifat di atas sebagaimana hakikat sifat tersebut, seperti dalam sifat khāliq Allah Swt. memang tidak disifati sebagai pencipta makhluk disebabkan belum adanya makhluk di zaman azali, tetapi Allah Swt. disifati sebagai al-Khāliq dalam artian zat yang menetapkan penciptaan (mukawwin al-khalq atau dzū takwīn).
Ini berarti Maturidiyah menyifati seluruh sifat-sifat Allah, seperti rāziq, muhyī, mumīt, dan seterusnya sebagaimana hakikat sifat tersebut yang kaitannya dengan takwīn (penetapan). Ringkasnya menurut mereka, Allah Swt. telah menetapkan penciptaan alam semesta ketika zaman azali pada waktunya nanti. Yang berarti alam semesta telah ditentukan sejak zaman azali akan tercipta pada waktu yang telah Allah tentukan. Ini berarti takwīn dan khalq telah terjadi sejak azali, hanya saja makhlūq belum tercipta.
كوّن الله في الأزل (العالم لِوقته). أي كوّن العالم لِيخرج في وقته
Namun demikian, Asya’irah pun menjawab dan meng-isykal-kan konsep ini. Mereka mengatakan dengan logika penyifatan seperti ini, maka sama saja Maturidiyah telah menggabungkan dua sifat sekaligus, yaitu khalaqa (menciptakan) yang kaitannya dengan qudrah dan liwaqtihi (pada waktunya nanti) yang kaitannya dengan irādah (yang fungsinya untuk mengkhususkan sesuatu).
Walhasil, kedua pendapat ini memiliki tujuan yang sama, yaitu menetapkan (itsbāt) asma dan sifat Allah Swt. dan menghindari pemahaman ta’thil as-shifāt, meniadakan atau menolak adanya nama-nama atau sifat Allah sebagaimana pemahaman faksi Muktazilah, hanya saja disampaikan dengan konsep yang berbeda.
Wallāhu ta’āla a’lam bish-shawāb
Guru Ilmu Kalam dan Akidah PPL Al-Tsaqafah. Magister Akidah dan Tasawuf Université Mohammed V de Rabat, Rabat, Maroko.

