ALTSAQAFAH.ID – Bahagia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti keadaan atau perasaan senang dan tenteram, dengan kata lain bebas dari segala kesusahan. Tentu manusia dalam menjalani kehidupan di dunia menginginkan hal tersebut, bahkan di akhirat kelak. Mereka mencarinya dengan berbagai cara. Bekerja mencari rezeki berharap mendapatkan harta melimpah, menikahi orang yang dicintai berharap memiliki keluarga sakinah, belajar mencari ilmu berharap dapat hidup mewah dengan ijazah.
Seseorang mengatakan, “Bahagiakan dirimu terlebih dahulu sebelum kamu membahagiakan orang lain.” Perkataan ini tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar. Terkadang beberapa orang memang lupa untuk membahagiakan diri sendiri karena sibuk memikirkan cara membahagiakan orang lain. Padahal sebetulnya bukan lupa membahagiakan diri sendiri, melainkan lupa merasakan kebahagiaan yang ada di dalam hatinya karena kalah dengan akalnya sendiri. Akal terus mencari kebahagiaan dengan mata, tangan, dan kaki, bukan dengan hati.
Terdapat banyak hadis yang meriwayatkan tentang betapa bahagianya orang yang membahagiakan orang lain. Di antaranya hadis yang diriwayatkan oleh Imam Thabraniy dalam kitab Al-Awsath.
عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم: أي الأعمال أفضل؟ قال: إدخالك السرور على مؤمن أشبعت جوعته، أو سترت عورته، أو قضيت له حاجة.
Dari Umar bin al Khotob radiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ditanya: “Amalan apa yang paling afdal?” Nabi menjawab: “Kamu membuat senang orang mukmin, kamu mengenyangkan laparnya, menutup aurtnya, dan mencukupi kebutuhanya.”
Jika merujuk pada hadis di atas, dengan melukis senyuman indah di wajah dan menciptakan kegembiraan dalam jiwa orang lain, akan membuat kita tersenyum lebih indah dalam menjalani kehidupan fana ini. Membahagiakan orang lain bisa dengan berbagai cara, salah satunya dengan kita bisa bermanfaat bagi orang lain secara umum dan bagi sesama muslim secara khusus, baik dengan perkataan, pangkat, harta, maupun dengan tenaga yang Allah kuasakan pada kita. Cara yang paling mudah, yaitu dengan senyuman tulus karena senyum merupakan salah satu sunah para nabi, salah satu tradisi para rasul, salah satu ciri orang beriman, dan salah satu bahasa luhur peradaban manusia.
Mendatangkan kebahagiaan bagi sesama merupakan salah satu ibadah yang mungkin remeh di mata manusia dibandingkan dengan salat, puasa, dan haji, tetapi di mata Allah tidaklah mudah, malah berat skalanya. Bahkan sabda Rasulullah, besar pahala yang akan didapatkan oleh orang yang membahagiakan sesamanya semenjak di dunia sampai di akhirat kelak.
Dalam kitab Mu’jamul Ausath karya Imam Ath Thabrani rahimahullah (wafat Kamis, 28 Dzulqo’dah 360 H / 26 September 971 M di Isfahan Iran), ada hadis riwayat Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu (619 M, Mekkah – 687 M, Masjid Tha’if, Arab Saudi) yang menyatakan bahwa baginda Nabi Muhammad salallahu alaihi wasallam bersabda:
عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا قَالَ : إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِنَّ اَحَبَّ الْاَعْمَالِ اِلَى اللهِ بَعْدَ الْفَرَائِضِ إِدْخَالُ السُّرُوْرِ عَلَى الْمُسْلِمِ.
“Sesungguhnya amal yang paling disukai Allah subhānahu wa ta’āla setelah melaksanakan berbagai hal yang wajib adalah menggembirakan muslim yang lain.”
Dalam keterangan lainnya, ada riwayat hadis yang ke-21 dalam kitab Al-Mawaidh Al-‘Ushfuriyah atau lebih dikenal dengan nama Ushfuriyah, membahas tentang ganjaran membuat orang lain bahagia atau senang. Karya seorang ulama dan budayawan muslim, Al-Imam Muhammad Bin Abu Bakar al-Masyhur al-‘Ushfury rahimahullah (wafat 1103 H / 1692 M Mesir) menyebutkan bahwa hadis ini diriwayatkan dari Sayyidina Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam telah bersabda:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا اَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَدْخَلَ عَلَى قَلْبِ أَخِيْهِ الْمُسْلِمُ فَرَحًا وَسُرُورًا فِي دَارِ الدُّنْيَا خَلَقَ اللَّهُ تَعَالَى مَلَكًا يَدْفَعُ عَنْهُ الْآفَاتِ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ جَاءَ مَعَهُ قَرِيْنًا فَإِذَا مَرَّ بِهِ هَوْلٌ يَفْزَعُهُ قَالَ لَا تَخَفْ فَيَقُوْلُ مَنْ أَنْتَ فَيَقُوْلُ أَنَا الْفَرَحُ وَالسُّرُوْرُ الَّذِي أَدْخَلْتَهُ عَلَى أَخِيْكَ الْمُسْلِمُ فِي دَارِ الدُّنْيَا
“Barang siapa yang memberikan kebahagiaan dan kegembiraan dalam hati saudaranya yang muslim saat di dunia, maka Allah subhānahu wa ta’āla akan menciptakan malaikat yang akan menolak seluruh musibah darinya. Ketika hari kiamat sudah tiba, maka ia akan menjadi sahabat sejatinya. Ketika terjadi sesuatu yang mengerikan, maka ia akan berkata: jangan takut! Lalu dia akan bertanya, siapakah engkau? Maka ia akan berkata lagi, aku adalah kebahagian dan kegembiraan, yang engkau berikan pada saudaramu yang muslim, waktu di dunia.”
Barangkali masalah-masalah yang disingkirkan Allah darimu itu karena kamu membawa kebahagiaan bagi orang lain.
Mungkin bencana-bencana yang Allah cegah darimu, yang kerugiannya melebihi apa yang dapat kamu tanggung karena kamu membawa kebahagiaan ke dalam rumah-rumah muslimin.
Mungkin kekhawatiran, kegelisahan, penyakit, dan kesakitan yang Tuhan hilangkan darimu adalah karena kamu membawa kebahagiaan, kegembiraan, dan kesenangan kepada keluarga miskin.
Ingat segala amal yang kita perbuat tidak akan luput dari pandangan Allah, semuanya terjaga dan tidak terlupakan: sikapmu, pemberianmu, senyumanmu, silaturahmimu, ucapan salammu, belasungkawamu, jasamu, kerja samamu.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang senantiasa membawa kebahagiaan pada setiap makhluk ciptaan-Nya, semoga Allah memberikan kebahagiaan pada setiap insan yang memberikan kita kebahagiaan, dan semoga Allah menjadikan kita hamba yang pandai merasakan nikmat Tuhan yang berupa kebahagiaan meski tidak terlihat oleh mata dan tidak tersentuh oleh tangan.
Jangan lupa bahagia
Guru Fiqh dan Tajwid Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah

