Berat Sarung di Tanah Kampung

—Juara Ketiga Sayembara Cerpen altsaqafah.id 2026

Ratusan kursi tersusun rapi di lapangan yang dinaungi tenda bergelimang hiasan dedaunan dan kelap-kelip lampu kecil di tiang-tiangnya. Langit tampak bersahabat mengembuskan napasnya, menghempaskan kelabu yang menghampiri.

Tiada tampak satu pun tubuh yang diam mematung di sekitar area pondok. Seluruh orang sangat antusias menyambut hari esok yang istimewa.

Di penghujung hari, spanduk besar bertuliskan “Wisuda Kelulusan Angkatan Ke-11” pun dinaikkan.

“Bing, kamu tampak murung saja dari tadi. Besok kita lulus! Kenapa kau masih saja murung?” sapa Ilut kepada kawannya.

“Ah, perasaanmu saja itu. M-mu-muka ceria glowing seperti ini kok dibilang murung,” sahut Mbing.

“Ente takut enggak dapat piala wisudawan terbaik, kan? Soalnya Ente sudah janji ke orang tua Ente, kan?”

“I-it-itu sih merem saja sudah dapat e-empat, Ane.”

“Hahaha, bicara saja kamu masih kalah lancar sama suara knalpot motorku, jangan banyak berharap, deh,” balas Ilut dengan ledekannya.

Di tengah percakapan penuh humor dua sahabat tersebut, datang seorang guru memanggil mereka dengan nada tinggi. Keduanya diminta berkumpul di rumah kiai guna mendengar nasihat-nasihat terakhir sebelum kelulusan mereka besok.

“Le, kalian iki piye toh, teman kalian sudah berkumpul kabeh loh di depan rumah Pak Kiai. Sudah telat, kopiahmu tak dipakai lagi. Mau saya batalkan wisudanya?”

“M-ma-maaf, Kang. Ba-b-baik, Kang,” sahut kedua sahabat tersebut dengan raut panik.

Sesampainya mereka di depan rumah Pak Kiai, puluhan santri kelas akhir sudah tampak berhamburan tunduk. Mereka menyimak Pak Kiai yang sudah mulai berbicara.

Tanpa pikir panjang, keduanya berjalan menunduk perlahan, mencari tempat kosong yang masih tersisa untuk turut menyimak.

“Nak, kalian, saya harap enam tahun kalian tidak menjadi pembuang waktu hidup kalian saja,” ucap Pak Kiai. “Saya harap enam tahun kalian yang meski diisi dengan tidak konsistennya kalian, kantuk dan malas yang sering melawan, saya selalu berdoa semoga mampu menjadi modal dan pegangan bagi kalian ke depannya.”

Pak Kiai menatap murid-muridnya. “Saya hanya berpesan satu hal penting. Kalau dinasihati pakai Alquran dan hadis-hadis sepertinya kalian sudah mau muntah, kan? Jadi, saya ingin ikut tren pakai kata-kata hari ini saja,” candanya di sela-sela nasihat, yang kemudian disambut senyum tipis di wajah para santri.

“Di tengah masyarakat nanti, jadilah seperti air dua qullah. Meskipun ia terkena kotoran dan benda-benda asing, ia tetap mampu digunakan bersuci.”

“Jadilah santri yang tidak menolak perkembangan zaman, yang meski diterpa perubahan, ia selalu teguh pendirian, tak terdikte oleh lingkungan, namun tetap memberikan kesejukan dan menebar kebaikan. Jangan menjadi yang terpengaruh, namun jadilah yang memberi pengaruh.”

Kalimat-kalimat terakhir tersebut membuat hati Mbing bergetar hebat. Ia yang enam tahun belakangan ini hanya santai menjalani hari-harinya, kini merasa kopiah dan sarungnya justru menjadi berat untuk ia kenakan.

Bahkan, kalimat ini seakan tak henti-hentinya menggema di pikiran Mbing semalaman, sampai membuat dirinya tak dapat tidur.

Keesokan paginya seluruh santri tampak sudah berpenampilan siap. Kopiah hitam di kepala dipadukan dengan kemeja merah pudar merona, tampak gagah di bawah terik mentari pagi. Sepatu yang mengilat turut menambah elegan penampilan mereka.

Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan mars pondok pesantren mengiringi langkah-langkah terakhir mereka menuju ke atas panggung. Satu per satu santri dikalungi medali emas sebagai tanda kelulusan mereka.

Nasihat kiai dan sambutan-sambutan turut menambah kekhidmatan acara. Beberapa santri pun mendapat apresiasi lebih karena mereka mampu menjadi yang terbaik dalam beberapa ujian yang menjadi syarat kelulusan.

Kendati demikian, seluruh orang tua tetap bangga terhadap putra-putri mereka. Tak peduli anak-anaknya datang memeluk dengan memegang piala, atau hanya bermodalkan tangisan sukacita.

Mbing tampak kembali mematung di depan gerbang pondok pesantren. Langkah kakinya kian berat beranjak memikirkan kalimat-kalimat terakhir Pak Kiai semalam. Namun, tak lama Ceu Ela datang menepuk bahunya, membuyarkan pikiran Mbing.

“Nak Mbing, melamun saja kau ini. Selamat ya sudah lulus. Sudah resmi jadi Pak Ustaz atau Pak Kiai, nih.”

“Wah, kalau itu sepertinya harus menunggu C-ce-ceu Ela punya cicit baru kesampaian,” kelakar Mbing.

“Kamu ini urusan melawak selalu nomor satu. Sudah, sudah, besok malam Jumat kamu datang ke majelis saya, ya. Ada acara Maulid Nabi. Saya bingung mau cari penceramah yang cocok.”

Ceu Ela melanjutkan, “Kamu kan masih hangat ilmunya nih, kalau kita ngomong mah baru diangkat dari kompor. Kalau dikasih amplop juga masih bisa tipis, kan? Jadi kamu saja ya yang ceramah nanti.”

Mendengar ajakan Ceu Ela, Mbing terkesiap.

“Buru-buru ilmu saya hangat, Ceu, kompornya saja g-ga-gak pernah menyala. Saya rasa saya belum siap untuk ini, Ceu. Masih banyak kok santri lain yang lebih pintar dari saya,” pungkas Mbing menolak.

“Ih, kamu ini, tidak percaya diri sekali. Belum juga tampil, sudah mundur seribu langkah. Pokoknya harus siap, ya!” balas Ceu Ela yang mulai naik pitam.

“T-ta-tapi saya tidak sanggup, Ceu. Ilmu saya masih sedikit. Saya di pondok malas-malasan. Saya—”

“Sudah, Nak Mbing, terima saja,” potong Pak Kiai yang tiba-tiba datang.

“Semalas-malasnya kamu, masih lebih baik daripada mereka di luar sana yang modal teriak-teriak takbir saja tanpa ada isinya. Ini kesempatan kamu. Kalau bukan sekarang, kapan kamu akan berkembang?”

Mendengar ucapan Pak Kiai, Mbing hanya mampu menunduk menganggukkan kepalanya, mengamini ajakan Ceu Ela. Selepas kejadian itu, Mbing kerap merenung sembari mempersiapkan dirinya setiap malam.

Hari-hari setelah kelulusan yang biasa diisi sorak-sorai dan canda tawa penuh lega mungkin tak akan datang pada Mbing, berbeda dengan teman-temannya.

Malam Jumat pun tiba menghampiri Mbing. Desir angin malam seakan berteriak kepada Mbing menyuruhnya untuk kembali membalikkan langkahnya ke rumah.

Bebatuan di jalan menahan tiap pijakan Mbing sambil berseru, “Balik saja, sudah, balik!”. Menakutkannya pohon pisang di tengah perjalanan yang gelap gulita tak bergeming di hadapan rasa khawatir Mbing yang sudah memuncak.

Cukuplah tiga langkah ia pijakkan ke dalam Masjid Al-Kalin, sebelum gemuruh kasidah dengan seruan tala’a al-badru bersorak di tengah-tengah jemaah.

Tak lama, ia dipandu ke tempat khusus yang sudah disediakan, lengkap dengan buah-buahan dan minuman yang biasa ia lihat hanya ada di hadapan Kiai Nasrudin di pondok pesantrennya dahulu.

Sebelum mengeluarkan suara apa pun di depan mik, ia mengingat nasihat kiai untuk membaca doa terlebih dahulu. Berlalulah lima sampai tujuh detik hingga Mbing memulai salamnya, yang diikuti jawaban para jemaah yang kemudian mulai mendengarkan dengan saksama.

Para jemaah juga diberikan beberapa hidangan ringan sebagai sajian dari panitia selama acara berlangsung. Namun, belum sampai air yang diminum salah satu jemaah melewati kerongkongan, Mbing secara tiba-tiba menghentikan ceramahnya.

“Para jemaah yang dimuliakan Allah, Nabi kita Muhammad saw. lahir pada ….”

Dua, tiga, hingga lima detik berlalu. Gema sisa dari pengeras suara perlahan memudar. Keheningan terasa bergejolak keras membuat kebisingan.

Pengeras suara yang seharusnya bersuara hingga 92 dB tak berbisik sedikit pun. Detak jam dinding kini justru berteriak lebih kencang. Dentuman jantung dan aliran keringat tak mampu Mbing tahan.

Materi yang ia persiapkan berhari-hari melayang berhamburan. Jemaah hanya termenung sembari tetap melemparkan pandangannya ke Mbing.

Mbing yang berharap mendapatkan ketenangan setelah memejamkan mata justru seakan mati dicabik-cabik setelah melihat mata-mata jemaah. Ceu Ela yang melihat Mbing demikian langsung menarik tangan Mbing untuk membawanya ke belakang masjid.

“Hei, Nak, kau ini kenapa? AC sudah kunyalakan sampai 10 derajat pun kau masih mandi keringat begini.”

“Pokoknya saya tidak mau lagi!” teriak Mbing.

“Eh, tak boleh macam itu. Ini karena kau grogi saja. Janganlah marah sangat. Kiai Nasrudin pun macam ini dahulu. Coba kau lihat sekarang, tiga puluh juta sekali pegang mik,” kelakar Ceu Ela mencoba menenangkan.

“Pokoknya kalau Mbing bilang belum siap berarti tidak!”

“Nak, janga—” Belum selesai kalimat Ceu Ela, Mbing sudah lari tunggang-langgang.

“Anak itu, kalau marah saja bicara dia lancar.”

Dunia malam itu seakan dipotong bagian demi bagian bagi Mbing. Bagaimana tidak, acara maulid yang ia tinggalkan tetap berlanjut, seluruh teman satu angkatannya merayakan kelulusan bersama di vila dan mendaki beberapa gunung. Keluarganya sedang pergi mengantarkan adiknya menuju pondok pesantren.

Sementara para tetangga tentu saja berkumpul di acara maulid yang gagal ia taklukkan itu. Pojokan kamar dan guling menjadi teman setia baru Mbing saat itu.

Pejaman mata hingga linangan air mata menjadi lebih menenangkan setidaknya sampai fajar tiba. Perlahan, Mbing terlelap dalam tidur. Tubuhnya lelah, matanya letih, namun hatinya justru berapi-api, menggeram dalam gumam.

Keesokan harinya, tanpa sepengetahuan Ceu Ela, ia mencoba mencari kesempatan kedua. Mbing pergi ke undangan berceramah di tempat lain yang ia dapatkan tepat tiga hari sebelumnya. Kali ini dia merasa lebih siap dan telah mencoba memperbaiki kekurangannya di kesempatan sebelumnya.

Sesampainya di titik acara, Mbing menunggu waktu penampilannya sembari melihat sekeliling. Mayoritas tamu pada acara pernikahan tersebut ialah pemuda-pemudi yang tampak berusia 17–25 tahun—wajar saja karena yang menikah juga masih cukup muda.

Begitu ia maju, seperti biasa, Mbing berdoa dalam hati terlebih dahulu dan kemudian dilanjutkan dengan salam menggunakan suara yang mantap. Secara mengejutkan, salamnya itu justru dijawab dengan cara yang cukup mengusik diri Mbing.

“Waalaikumsalam, Coy,” “Waalaikumsalam, Bang,” “WALAIKUMSALAM, PAK USTAZ!”

Yang terakhir bahkan mengagetkan Mbing. Tanpa menggubris lebih lanjut, Mbing melanjutkan ceramahnya, memberikan untaian-untaian nasihat yang diiringi ayat-ayat suci dan sabda nabi. Semua berjalan lancar, namun selang sekian menit, beberapa orang mulai menguap dan menyibukkan dirinya dengan ponselnya masing-masing.

Yang membuat Mbing cukup terusik ialah ada seseorang yang mengucapkan sadaqallahulazim di tengah-tengah ceramahnya. Hal ini seakan memberikan kode pada Mbing bahwa para tamu tak memedulikan dirinya. Pembawa acara juga mulai memantau jam tangannya dan kedua mempelai wanita lebih tertarik untuk saling menyuapi satu sama lain dengan sepotong kue.

Mbing berdeham, berharap para tamu mau kembali fokus terhadap dirinya, namun hal ini tak berpengaruh banyak. Akhirnya, ia harus kembali ke tempat duduk asalnya setelah berbicara hanya 15 menit.

Sembari menikmati sepiring hidangan dari prasmanan, matanya memandangi kerumunan tamu yang kembali antusias untuk mengikuti prosesi acara selanjutnya, yaitu menangkap bunga yang akan dilemparkan oleh kedua mempelai. Hanya ada beberapa orang yang masih duduk di bangkunya.

Mata Mbing pun kemudian tertuju ke salah satu anak muda yang tampak sedang menyunting sebuah video di ponselnya. Tampaknya ia sedang menyunting rekaman video dari ceramah Mbing tadi sebelum diunggah ke media sosial. Namun, alangkah terkejutnya Mbing ketika ia memperhatikan lebih lanjut ponsel remaja tersebut.

Diketik sebuah kalimat yang amat menyayat hatinya berupa “Si gagap berkopiah dikasih mik”. Mbing sontak tersedak ketika membacanya. Bahkan belum selesai ia terkejut, ia harus kembali dikagetkan dengan obrolan dua pemuda di belakangnya.

“15 menit terbosen abad ini udah kelar akhirnya, ya.”

“Ya, maklumi saja, lulusan pesantren yang ceramah. Sudah tahun segini masih selalu omongannya itu-itu saja. Kolot sekali memang.”

“Padahal ada lebih banyak yang harus dibahas, kan. Ekonomi kita yang anjlok, isu mental health, soal rumah tangga suami istri juga sepertinya yang penting bukan sakinah, mawadah, wa dadaw apalah itu, yang penting bagaimana kebutuhan pokok terpenuhi. Kalau duit aman nanti harmonis juga datang sendiri, iya tidak?”

“Betul tuh, sudah materinya bikin bosan, cara ngomongnya juga bikin ngantuk.”

Mbing menunduk tak tahu harus apa. Dengan tatapan kosong, ia kembali menuju rumahnya. Sebelum ketenangan dan kehangatan rumah memeluknya, awan tampaknya sudah tidak mampu menahan rintikan hujan.

Hujan pun turun dengan kondisi Mbing yang masih hampa. Setidaknya tetesan hujan mampu menyamarkan air mata Mbing.

Tit.

Suara ponsel Mbing tiba-tiba berbunyi. Ia tahu pasti itu salah satu pesan dari Ceu Ela atau Cak Bo. Ia lebih memilih untuk tidak menghiraukannya sambil menganggap bahwa itu akan hilang dalam beberapa saat. Mbing tak ingin beranjak dari tempat tidurnya, memeluk erat guling yang sudah basah kuyup oleh air matanya semalaman.

Tit.

Lima menit sudah berlalu, Mbing kini geram, siapa yang berani mengganggunya berduaan dengan kesendiriannya. Cukup dengan melihat nama dan foto profil yang terpampang jelas di layar ponselnya, Mbing kini bersikap siap, duduk dengan tegap.

“Assalamualaikum, Pak Kiai, kenapa tiba-tiba menelepon di jam seperti ini?”

“Waalaikumsalam. Nak, kita harus bicara. Saya tunggu di depan Masjid Al-Kalin.”

“Maaf, Pak Kiai, tapi sa—” Kini Mbing harus merasakan rasanya berbicara namun dipotong.

Tanpa pikir panjang, Mbing mengambil seribu langkah kakinya menuju tempat yang diperintahkan Pak Kiai. Kakinya berjalan dengan cepat, namun hatinya masih tak mampu beranjak dari rumahnya sedikit pun. Pikirannya masih kacau atas kejadian beberapa hari lalu. Apa pikir jemaah nanti melihat batang hidung Mbing kembali di area masjid? Atau bagaimana jika ia bertemu tamu dari pernikahan Cak Bo?

20 meter jarak Mbing menuju masjid, pengeras suara kini melakukan tugasnya dengan baik. Jemaah tampak fokus melayangkan pandangan pada sang penceramah pengganti dirinya. Seluruh mata tertuju padanya, bahkan beberapa kamera ponsel turut diangkat mengarah pada sang penceramah.

Namun, pandangan Mbing hanya tertuju pada satu pria bersarung kotak-kotak di luar masjid yang tampak duduk di atas batang pohon yang tumbang sembari menyilangkan kaki. Tangan kanannya menggenggam secangkir kopi hitam dan tangan kirinya berada di atas paha menahan dagu kepalanya yang sedang turut serta mengamati.

Dengan langkah kecil Mbing mendekatinya sambil membungkuk perlahan dan menyalaminya.

“Assalamualaikum, Kiai.”

“Waalaikumsalam, duduk sini samping saya.”

Mbing mematung tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, kecuali hanya menunggu kata demi kata yang akan keluar dari mulut Kiai Nasrudin.

“Kamu dengar itu tidak?” tanya kiai sembari menunjuk ke arah dalam masjid.

“Nggih, Kiai.”

“Ada yang janggal tidak di hati kamu kalau mendengar ini terus-menerus?”

“Orang itu berbicara soal apa ya, Kiai? Saya tidak merasa itu bahasa Arab.”

“Memang bukan bahasa Arab. Tapi kamu lihat kan berapa banyak orang yang datang?”

“Jumlahnya banyak sekali, Kiai, sudah seperti kalau kiai ceramah.”

Dengan senyuman tipis, kiai merangkul Mbing sembari menasihatinya.

“Nak, zaman sekarang kita tidak perlu terlebih dahulu bicara kualitas. Kamu memang tidak boleh sampai salah niat dalam berdakwah, tapi kalau berdakwah tidak ada yang mau mendengarkan ya buat apa? Bedakan loh ya, tidak ada yang mau mendengarkan dan tidak mau mengikuti.”

Kiai Nasrudin menatap tajam, “Agar dakwahmu bisa tersampaikan, kamu harus tahu bagaimana agar jemaah mau mendengarkan kamu. Kamu bisa tambahkan guyonan, menghubungkan ceramahmu dengan isu tertentu, atau kamu berdakwah dengan cara yang paling jitu saat ini.”

“Apa itu, Kiai?” tanya Mbing dengan penuh penasaran.

“Kamu lihat orang yang sedang ceramah di depan itu. Isinya sangatlah kosong, selalu berguyon saja sampai orang mungkin lupa untuk apa mereka datang. Mungkin cukup untuk membuat jemaah bertahan, namun tidak membuat mereka berubah. Sering kali ia memberikan pemahaman sesuai kemauannya sendiri. Tak jarang juga kelompok yang berbeda paham darinya ia tuduh sesat. Yang tak saya habis pikir, ia katanya sampai tahu bahasa semut.”

“Tapi kenapa yang mengikutinya tampak banyak sekali?”

“Itulah dakwah bil-medsos. Apa pun yang kamu katakan melalui media sosial, selama membawa ayat-ayat Tuhan dan kemudian dikemas dengan cara yang unik, maka kamulah yang mendapat perhatian.”

Mbing mematung sekali lagi. Ia kini terasa lebih lega dan sadar tentang apa yang menjadi kegagalannya.

“Kalau bukan kita yang berusaha menjaga umat ini, maka siapa lagi, Nak? Saya tidak memberimu ijazah untuk diam dan duduk manis saja, loh.”

“Baik, Kiai, saya siap melanjutkan langkah saya,” jawab Mbing pelan.

“Kalau begitu, besok pagi gantikan saya ceramah di Masjid Al-Famidi. Di sana datang juga Prof. Yakob dan Sultan Kamil IX. Buktikan kamu santri saya.”

Mendengar hal tersebut, Mbing merinding sekujur tubuh. Namun, kalimat terakhir kiai seakan memberikan pecutan semangat bagi Mbing. Tanpa pikir panjang Mbing pun mengiyakan dengan jawaban yang tegas.

Sabtu, 28 Maret 2026, 09.30 WIB, kursi-kursi sudah tertata rapi di bawah naungan kubah masjid. Para reporter dan wartawan sudah siaga di tempatnya masing-masing mengarahkan kamera ke arah panggung, menyorot tiga narasumber besar yang akan membahas tema pada hari ini.

Tamu berdatangan mulai menempati tempat yang sudah disediakan, beberapa bahkan ada yang memilih di luar karena kehabisan kursi. Langkah sepatu pantofel mulai terdengar bergesekan dengan lantai kayu di atas panggung. Satu per satu narasumber keluar bersama dengan pembawa acara.

Di urutan terakhir, seluruh perhatian tersita memandang Mbing yang secara mengejutkan hadir menggantikan Kiai Nasrudin.

Siaran langsung di televisi pun seketika mengganti judul utama berita dari “Diskusi Nasional Ulama dan Akademisi” menjadi “Santri di Antara Dua Ahli”. Beberapa wartawan berbincang dalam bisik terkait Mbing yang belakangan viral dalam unggahan yang menjatuhkan dirinya di acara pernikahan lalu.

Namun cukuplah tiga jam bersama dua pakar tersebut bagi dirinya untuk menghilangkan seluruh keraguan itu. Mbing yang datang sebagai yang paling junior memberikan ceramah dalam bentuk kisah-kisah inspiratif dari Nabi Muhammad saw. yang menyangkut isu moral.

Untuk menambah kuat citranya di atas panggung, ia turut memainkan beberapa permainan kata dan lelucon yang menghibur. Dalam sesi penutup, Mbing kembali membuat gemuruh satu masjid dengan tepuk tangan berkat kata-kata penutupnya.

Saat turun dari panggung, seorang pria datang menghampirinya.

“Woy, Mbing, masyaallah sudah alim betul Ente. Eh, Gus Mbing ya sekarang manggilnya?”

“Ah, bisa saja kamu, Ilut. Ada apa sih datang ke sini? Ganggu waktu artis nih, Ente!”

“Ah, mulai kan Ente banyak gaya. Ini tadi bos media Ane mau nawarin Ente ke proyek siniarnya. Nanti Ente bakal bikin video dakwah lewat itu seminggu sekali terus ditaruh di YouTube sama TikTok. Mau enggak?”

Tanpa pikir panjang, Mbing sontak menjawab iya dengan suara lantang sampai mengagetkan orang sekitar. Ia tidak menyangka bahwa ternyata mendapatkan kesempatan untuk kesekian kalinya agar mampu berdakwah.

Mungkin hari ini ia sudah sadar bahwa dalam berbicara di depan khalayak, kita tidak perlu berbicara terlalu banyak materi menyangkut esensi, selama apa yang diucapkan mampu memenangkan atensi. Kualitas setinggi apa pun tak akan berarti apa-apa dibandingkan dengan yang jenaka yang bahkan frontal meskipun tanpa isi.

Dari sana, metode berdakwah mungkin akan terus berkembang, menelusuri relung-relung kompleksitas zaman. Namun, dakwah Islam yang rahmatan lil alamin selamanya akan tetap hidup. Tidak membenturkan diri dengan lingkungan, namun menyatu di dalam perkembangan.

syihabnawwaf@gmail.com   Postingan Lainnya

Santri Kelas 12 IPS 1 Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah