ALTSAQAFAH.ID – Dewasa ini hampir semua orang ingin menjadi pusat informasi. Ketika terjadi suatu peristiwa atau kejadian, orang-orang berlomba menyampaikan informasi. Misalnya terjadi suatu gempa, orang-orang siap-siap mencari berita tentang gempa. Ada yang sudah lihai langsung mencari situs web Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ada juga yang menunggu hasil share-an dari suatu grup medsos kemudian di-repost.
Lantas bagaimana hasilnya? Tentu saja beragam. Ada yang sesuai dengan data, ada juga yang termakan hoaks atau berita bohong. Sampai sekarang berita hoaks masih saja eksis biarpun kasusnya tidak sebanyak awal booming-nya medsos. Apalagi pada saat pemilu atau hajatnya para elite politik, eh hajatnya rakyat.
Oleh karena itu, antisipasi penyebaran berita hoaks sudah sering digalakkan, terutama oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Terbukti dalam situsnya ada sebuah judul, “Ini Cara Mengatasi Berita Hoax di Dunia Maya”. Setidaknya ada lima poin yang digagas oleh Kominfo agar tidak terkena hoaks, di antaranya hati-hati judul provokatif, cermati alamat situs, periksa fakta, cek keaslian foto, dan ikut serta grup diskusi antihoaks.
Lima hal ini gampang disebutkan, tetapi susah untuk diaplikasikan. Setidaknya orang-orang harus mempunyai dua keilmuan, yaitu IT dan bahasa. IT untuk memeriksa alamat situs dan keaslian foto, sedangkan bahasa untuk menentukan apakah judulnya provokatif dan memeriksa fakta menurut kaidah bahasa ketika sebuah berita tersebar.
Sebenarnya untuk menyimpulkan suatu kejadian itu fakta atau tidak, misalnya dalam sebuah postingan orang, bisa dilihat dari bersambung atau tidaknya antara kalimat utama dengan kalimat penjelas dan koherensi antarkalimat. Itu kaidah dasar menurut guru bahasa Indonesia. Akan tetapi, kadang kala ketertarikan hati membuat lupa kaidah dasar tersebut. Demikian juga kebencian hati membuat gelap semuanya.
Selanjutnya kalau berdasarkan ilmu logika, untuk menentukan berita itu fakta atau tidak diperlukan kumpulan premis-premis yang saling mendukung. Dari premis-premis itu, kita operasikan sehingga didapatkan sebuah konklusi. Cara mengoperasikannya juga tidak gampang, apakah kalimat tersebut tertutup atau terbuka? Kalau tertutup, apakah negasi, konjungsi, disjungsi, implikasi, atau biimplikasi? Bahkan, setelah konklusi itu didapat, masih saja bersifat hipotesis apabila kita bukan seorang praktisi dalam sebuah berita tersebut. Belum lagi harus terjun langsung ke lapangan kalau mau lebih yakin akan kebenaran sebuah berita itu.
Ternyata ribet, ya? Kalau tidak mau ribet, laksanakan poin terakhir, yaitu ikut serta grup diskusi antihoaks. Kominfo menyarankan semua orang untuk bisa membuka diri, sosialisasi, dan ngopi. Orang yang jarang sosialisasi rentan termakan berita hoaks karena tidak ada tempat untuk saling bertukar pikiran dan bersulang gelas.
Guru Matematika dan Al-Jabr Wa Al-Muqabalah PPL Al-Tsaqafah (Periode 2013-2020 dan 2022-2024)

