Hilangnya Kegigihan dalam Belajar

ALTSAQAFAH.ID – Dalam bukunya yang berjudul Grit: The Power of Passion and Perseverance, Angela Lee Duckworth (2017) mengungkapkan rahasia agar anak tidak mudah menyerah dalam belajar. Ia menyebutnya Grit. Dalam buku terjemahan berbahasa Indonesia, Grit diartikan sebagai kegigihan. Ada juga yang mengartikannya sebagai daya juang. Dilihat dari pengaruhnya, Grit bisa diartikan sebagai tekad, ketangguhan, bahkan ketabahan dalam belajar.

Untuk membuktikan argumennya, Duckworth melakukan penelitian di berbagai sekolah. Ia meneliti siswa dan guru-guru baru yang mengajar di tempat yang sulit. Pertanyaannya, siswa seperti apa yang bertahan sampai lulus, guru-guru mana saja yang masih bertahan mengajar hingga akhir tahun ajaran sekolah, dan siapa saja di antara mereka yang secara efektif meningkatkan hasil belajar siswa.

Dari keseluruhan konteks yang berbeda, satu karakteristik khusus muncul sebagai prediksi keberhasilan. Jawabannya bukanlah kecerdasan sosial, penampilan yang menarik, kesehatan fisik, apalagi IQ. Jawabannya adalah kegigihan.

Indonesia adalah ladangnya kegigihan dalam mengakses pendidikan. Para siswa bergelantung di jembatan dan bertelanjang kaki di jalan yang rusak, melewati sungai, dan sesampainya di sekolah, kondisi kelas belum tentu menunjang pembelajaran. Hal ini biasa terjadi di daerah 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal).

Dalam hal ini, kegagalan penyelenggaraan pendidikan bukan karena anak tidak gigih. Sebagai contoh penelitian sulitnya akses pendidikan di Papua dan Papua Barat menunjukkan bahwa kegagalan akses pendidikan disebabkan lemahnya tata kelola pendidikan, tingginya angka mangkir, dan rendahnya kualitas guru (Kemdikbud, 2018). Meski demikian, munculnya beragam cara kreatif siswa untuk terus datang ke sekolah membuktikan betapa gigihnya mereka untuk terus belajar, alih-alih menunjukkan masalah pemerataan pendidikan di negeri ini belum juga berhasil diatasi.

Hilangnya Kesempatan

Selain anak, guru juga contoh baik dalam kegigihan. Dalam seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahap pertama, guru honorer dari berbagai daerah yang sudah menginjak usia setengah abad tetap datang menuju lokasi ujian hanya untuk menunjukkan tekadnya menjadi abdi negara. Sayangnya, dari kuota satu juta guru yang dijanjikan Nadiem Makarim, hanya sekitar seratus tujuh puluh ribu guru yang lolos seleksi tahap pertama. Padahal, yang berhasil dalam konteks ini adalah kegigihan guru, bukan negara yang gagal menyerap 82% guru honorer yang mereka targetkan sendiri. Selain itu, penyelenggaraan Asesmen Nasional (AN) juga menunjukkan kegigihan guru dalam menyukseskan program kebijakan pendidikan nasional. Kami mendapatkan banyak laporan dari berbagai daerah bahwa para guru dan siswa berjalan puluhan kilometer, memanjat pohon, dan menaiki bukit demi mendapatkan sinyal untuk menyukseskan AN.

Penelitian tentang kegigihan anak akan sangat membantu dalam menanggulangi angka putus sekolah. Sebagai contoh, Kemdikbudristek mengklaim bahwa Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) harus segera dilaksanakan selama pandemi ini karena akan mengakibatkan learning loss. Salah satu indikator learning loss adalah angka putus sekolah. Padahal sebelum pandemi (2018-2019), angka putus sekolah (SD, SMP, SMK, SMA) sebanyak 301.127. Mendekati tahun-tahun pandemi angka putus sekolah berangsur-angsur menurun. Hanya 157.166 siswa putus sekolah pada tahun ajaran 2019-2020 dan sebanyak 4.916 pada tahun ajaran 2020-2021 (Statistik Kemdikbud Ristek, 2021).

Meskipun kondisi ekonomi keluarga tetap menjadi alasan utama putus sekolah, harus diperhatikan mengapa di saat sulit seperti pandemi ini angka putus sekolah justru menurun. Artinya kegigihan belajar justru meningkat dalam kondisi memprihatinkan. Kegigihan semacam ini tidak bisa diklaim sebagai keberhasilan kebijakan pendidikan nasional. Sebab insan yang gigih tersebut tercipta dari sekian kegagalan negara dalam memberikan akses pendidikan merata kepada seluruh anak di negeri ini.

Terbiasa Gagal

Harus dibedakan, kegagalan anak secara internal dengan kegagalan struktural akibat tata kelola pendidikan yang tidak efektif. Meskipun “kegigihan” adalah jalan panjang, sering kali formula yang diciptakan adalah cara instan. Para orang tua menanyakan dengan cara yang sama, “Bagaimana cara memotivasi anak saya?” “Mengapa anak saya mudah menyerah?” Sering kali mereka tergoda untuk memilih jawaban singkat. Seperti kursus kilat parenting atau mengundang motivator berkelas untuk menyulap anaknya menjadi giat belajar.

Satu-satunya yang berkorelasi dengan kegigihan adalah “pola pikir yang berkembang” atau Growth Mindset (GM). Pola pikir ini sudah dikembangkan di Stanford University oleh Carol Dweck. Dasarnya adalah kepercayaan bahwa kemampuan belajar dapat berubah melalui usaha (effort). Dweck membuktikan saat anak membaca, otak mereka berkembang dalam menghadapi tantangan dari pengetahuan baru. Anak-anak tersebut justru semakin tekun saat mereka gagal. Mengalami kegagalan memberikan kesadaran kepada anak bahwa “gagal” bukanlah kondisi permanen. Saat anak bersedia untuk gagal dan bersedia salah, mereka mulai membentuk alasan untuk bangkit. Mereka tidak akan ragu untuk mulai dari awal kembali dengan apa yang sudah dipelajari (Dweck, 2017).

Generasi Menyerah

Menempatkan kegagalan dan kesalahan sebagai bagian dari proses pembelajaran saja memang tidak cukup. Meskipun telah dikenal asesmen formatif (menilai proses belajar) dalam pembelajaran, apa yang disebut timbal balik masih berkutat pada respons atas proses belajar. Input dan output pembelajaran masih berkutat pada upaya mencapai kompetensi atau capaian pembelajaran. Sedangkan generasi yang kita ajar hari ini butuh lebih dari capaian yang dianggap sebagai pengetahuan yang tetap.

Generasi yang sedang bersekolah, Gen Z atau yang sering disebut digital native merupakan generasi paling dekat dengan teknologi digital. Jika mereka masih dibekali pada satu dua mindset, tetapi tidak diperkenankan jalan untuk mengembangkannya, kita hanya mengantarkan mereka pada situasi tetap. Hal ini bertentangan dengan era digital yang mendorong kita untuk terus siap atas perubahan. Padahal di era kecepatan dan perubahan acak yang diperlukan adalah daya tahan untuk terus belajar.

Kemudahan informasi, koneksi, dan perubahan yang cepat membuat mereka sulit mendefinisikan diri sendiri. Tentu lebih sulit lagi bagi mereka memetakan tujuan dan berjalan perlahan mencapainya. Perilaku mencari semua di internet boleh jadi kemudahan yang palsu karena tidak mengajarkan kegigihan dalam belajar. Mereka mudah berpuas diri pada satu keberhasilan yang belum tentu menjamin mereka akan tetap gigih jika mendapatkan kegagalan. Sebab generasi ini mudah mendapatkan kecemasan dari ketidakpastian informasi (APA, 2018: 4).

Meskipun ide dasar setiap anak berkesempatan untuk memperbaiki dirinya merupakan gagasan yang sudah diterima, pada praktiknya sekolah hanya menafsirkannya sebagai mekanisme penundaan input nilai siswa. Salah satunya melalui mekanisme remedial yang sering kali menjadi ajang pengampunan massal siswa yang ditempatkan sebagai pendosa. Walhasil, kegagalan kita mendidik anak untuk tetap gigih, membuat mereka kehilangan kesempatan untuk belajar bangkit dari kegagalan. Maka wajar, sistem pendidikan yang tidak menunjang kegigihan pada anak akan melahirkan generasi instan yang tidak siap gagal.

Tentu, jika kegigihan tidak segera ditanamkan, bonus demografi akan menjadi malapetaka baru. Sistem pendidikan harusnya menyediakan kesempatan bagi mereka yang gigih dan bukan malah membuat sekolah menjadi kuburan cita-cita.

 

 

 

Editor: Senja Bagus Ananda

Imanzanatulhaeri91@gmail.com   Postingan Lainnya

Guru Sejarah di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Sarjana Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta. Kepala Bidang Advokasi Guru Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G)