Kisah Munaqasyah: Allah Mendengar yang Saya Cita-Citakan

ALTSAQAFAH.ID – Di tahun 2018 dan 2019 ketika duduk di bangku 10 dan 11 MA di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, saya menemukan hal baru yang tidak pernah terpikirkan, adanya rasa takut dan banyaknya pertanyaan di setiap harinya yang terlontarkan di pikiran saya, yaitu munaqasyah. Mengapa demikian? Saya takut dan merasa tidak mampu jika berada di posisi tersebut, merasa akan gagal jika hal itu terjadi pada saya, merasa tidak mungkin lulus dengan nilai yang baik, dan sebagainya. Saya menyatakan perihal ini karena diri saya mengakui bahwa saya bukan orang yang pintar, bukan orang yang mempunyai hafalan banyak seperti santri-santri lainnya, saya bukan orang yang kritis pemikirannya. Lalu bagaimana saya bisa meyakinkan diri saya pantas untuk berada di titik sejauh itu.

Kemudian saya berpikir kembali dan sadar bahwa setiap orang itu punya rasa takut dan kecemasannya masing-masing dalam menjalani hidupnya. Akan tetapi, setiap orang pasti punya versinya masing-masing untuk diberikan kesempatan oleh Allah agar berpikir sebaik mungkin dalam menyelesaikan masalahnya.

Awalnya saya melihat semua kakak kelas 12 MA harus berjuang demi nilai, ilmu, keberanian, keseriusan, belajar menghilangkan rasa takut, dan terus untuk mencoba. Kemudian mereka mendapatkan kabar kalau akan diadakan ujian munaqasyah sebelum lulus. Saat itu saya penasaran apa makna dari munaqasyah sendiri bagi mereka, lalu saya memberikan beberapa pertanyaan. Apakah susah? Apakah kemungkinan besar tidak lulus? Apakah jika nilainya jelek tidak mendapat ijazah? Apakah ada kesempatan kembali seperti remedial? Bahkan, masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang membuat saya penasaran sekaligus berpikir berlebihan selama menjalani kehidupan tiga tahun di pondok pesantren.

Kemudian muncullah waktu munaqasyah tiba, saat kelas 10 dan 11, saya benar-benar melihat secara langsung bagaimana proses munaqasyah berjalan. Dapat disimpulkan bahwa munaqasyah yang mereka jalani sangatlah keren dan berani untuk menunjukkan kemampuan masing-masing. Artinya mereka mempunyai kekuatan tersendiri untuk berusaha mendapatkan yang terbaik. Lalu perasaan yang saya alami saat itu ialah takut, takut, dan takut. Padahal itu terjadi pada saat saya masih menjadi bagian dari penonton yang melihat jalannya cerita dari ujian munaqasyah tersebut.

Setelah munaqasyah, ada kelulusan di setiap tahunnya. Saat itu, saya masih merasakan duduk di luar aula dengan baju seragam melihat secara langsung wisuda yang begitu sakral karena dihadiri orang tua, keluarga, serta guru-guru yang menjadi saksi perjalanan mereka semua.

Poin istimewanya adalah ada kata, doa, dan harapan yang berulang kali saya ucapkan dan aminkan agar ketika nanti waktunya tiba, saya benar-benar bisa menjalankan dengan sebaik mungkin dan sesuai harapan. “Ya Allah luluskan aku dengan nilai yang baik agar kedua orang tuaku bisa melihatku di atas panggung, tidak masalah jika belum bisa memegang piala. Namun, aku ingin seorang Vivi bisa dikenal banyak orang karena prestasi, bukan ketenaran sementara.” Saat itu saya benar-benar seikhlas mungkin berdoa kepada Allah agar hal itu menjadi kenyataan.

Kelas 12 MA

Singkat cerita, akhirnya sekian lama melewati ombak naik turunnya kehidupan di pesantren, saya merasakan suasana di kelas 12 MA, artinya saya akan merasakan titik di saat mereka yang dahulu pernah merasakan ketakutan, kecemasan, dan overthinking. Kalau sudah kelas 12 yang dipikirkan tidak hanya universitas impian, tetapi juga ada tanggung jawab yang harus diselesaikan, seperti lulus target hafalan Al-Qur’an, khatam Al-Qur’an, memahami nahwu shorof, dan masih banyak lagi.

Saat itu yang bisa saya lakukan adalah percaya diri, yakin sama Allah bahwa saya mampu dan bisa mengatasi ini semua. Tak pernah lupa meminta doa restu dari orang tua dan guru agar segalanya dipermudah. Detik-detik ujian berlangsung saat saya selesai salat wajib, di akhir doa mengatakan, “Ya Allah dari keempat ujian ini jika memang ada yang remed, maka luluskan ketiganya hamba ikhlas jika remed 1 ujian.”

Munaqasyah Angkatan 6

Mulailah munaqasyah angkatan 6, yang pertama diuji adalah ujian tahfiz, masih sangat teringat yang menguji saya adalah Ibu Ayu Maslahah, betapa baiknya beliau dan sabarnya beliau memberikan kesempatan untuk saya saat itu. Menariknya setelah ujian selesai, saya mengatakan ke beliau, “Ibu pokoknya kalau ujian ini nilainya bagus, saya akan kabari Ibu.” Tak lupa meninggalkan senyum manis kepada beliau dan qodarullah, Allah memberikan kemudahan untuk mendapatkan nilai yang baik di luar ekspektasi saya, ternyata diberikanlah nilai 87 untuk ujian pertama saya.

Munaqasyah Tahfidz Al-Qur’an Angkatan 6

Kedua, ujian bahasa Inggris yang beranggotakan lima orang dengan ujian drama bahasa Inggris yang naskahnya diciptakan oleh kelompok masing-masing. Saat itu bagi saya sendiri, ada rasa takut, deg-degan, enjoy, dan segala macam perasaan serta jiwa yang harus menyatu dengan panggung luas dan lebar di aula. Namun, saya tetap percaya diri dan harus menampilkan yang terbaik agar juri-juri di depan merasa terhibur dan mengerti apa yang kami bawakan.

Munaqasyah Bahasa Inggris Angkatan 6

Kemudian yang saya ingat dari juri, yaitu Ibu Sari memberikan sebuah komentar yang baik mengenai kelompok bahasa Inggris kami dan dari situ saya yakin kalau ujian kedua pasti lulus.

Ketiga, ujian yang dihadapi adalah bahasa Arab, dengan kelompok beranggotakan tiga orang yang dibimbing oleh Kang Nizar dengan judul “Perempuan dari Zaman ke Zaman”. Alhamdulillah munaqasyah ini berjalan dengan lancar. Saat itu kami optimis pasti lulus karena kami percaya diri kalau dari hari ke hari, waktu ke waktu, kami sudah berlatih sebaik mungkin untuk menunjukkan yang terbaik.

Munaqasyah Bahasa Arab Angkatan 6

Keempat adalah ujian yang terakhir, yaitu qiroatul kitab, hal yang membuat saya seperti mimpi bisa duduk di depan sendirian ditambah saya menyadari kalau masih banyak kekurangan dari cara membaca, nahwu shorof, dan konteks yang diberikan oleh juri. Saat itu memang ada kemungkinan untuk tidak lulus di ujian akhir ini, tetapi tetap menenangkan diri kalau perihal itu salah.

Munaqasyah Qiroatul Kitab Angkatan 6

Pada malam terakhir di pesantren, saya serta semua santri angkatan 6 makan bersama yang diiringi canda tawa khas mereka masing-masing. Saat itulah saya merasa waktu harus berjalan sedikit lama untuk bertemu mereka terakhir kalinya karena kami ingin menikmati momen yang luar biasa, tetapi sederhana dan apa adanya. Saat acara makan bersama selesai, salah satu guru Al-Tsaqafah memberi tahu kalau kelompok bahasa Arab dengan penilaian terbaik jatuh kepada kelompok kami, betapa senang dan terharunya kami rasakan saat mendengar kabar gembira tersebut. Kemudian beliau meminta kami untuk berdiri di panggung besok malam dalam rangka kelulusan kami dan saat itu terlintas di pikiran bahwa Allah menjawab doa-doa saya satu per satu, yang memang sudah cita-cita saya dari kelas 10.

Pelepasan Angkatan 6

Akhirnya malam puncak tiba, dihadari oleh Buya Said, Pak Kiai dan Bu Nyai, guru-guru, santriwan-santriwati yang akan melihat pelepasan kelas 12 malam hari itu. Tak lupa orang tua kami yang melihat anak-anaknya melewati zoom online. Momen ini yang ditunggu-tunggu, yaitu nama kami disebutkan satu per satu oleh MC untuk berdiri di atas panggung, adanya rasa ketidakmungkinan bisa berdiri dan dilihat oleh orang banyak, apalagi kehadiran Buya Said yang membuat saya semangat sekaligus terharu untuk berada di atas panggung. Akhirnya, kami menunjukkan penampilan yang terbaik di depan banyak orang dan orang tua kami. Betapa merindingnya diri ini bisa sampai di titik tersebut.

Pada akhirnya, alhamdulilah saya mendapatkan ijazah pondok dengan tidak adanya remedial satu pun and thank you god,for giving me the strength and confidence that i can do this.

Itu adalah perjalanan singkat yang saya alami murni dari diri sendiri dan saya tekuni hal ini ke diri sendiri, yaitu jika kamu mau belajar dan menolak keras kata menyerah, Allah dan seisi bumi ini membantu kamu untuk bertahan dan menggapai apa yang kamu mau. Ketahuilah dunia ini luas, pasti banyak jalan yang akan kamu lewati dan temui untuk mencapai arti dari kesuksesan itu sendiri.

vivi.r682003@gmail.com   Postingan Lainnya

Alumni MA Al-Tsaqafah Angkatan 6, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 45 Islam Bekasi.