ALTSAQAFAH.ID – Al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. selain sebagai bukti kenabian beliau, juga sebagai petunjuk bagi seluruh manusia, pembeda antara yang hak dan batil, serta sebagai penjelas dan pelengkap kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi sebelumnya.
Ketika usia Nabi Muhammad mendekati 40 tahun, beliau sering kali merenungi kondisi kaumnya dan menyadari banyak keadaan dari kaumnya yang tidak sejalan dengan kebenaran. Lantaran hal tersebut, beliau pun mulai sering uzlah (mengasingkan diri) dari kaumnya, beliau biasa ber-tahannuts di Gua Hira yang terletak di Jabal Nur. Gua Hira adalah gua kecil yang lebarnya 1,75 dzira’ dan panjangnya 4 dzira’ dengan ukuran dzira’ hadid atau ukuran hasta dari besi.
Dengan membawa bekal air dan roti gandum, beliau tinggal di dalam gua tersebut. Di sana beliau menghabiskan waktu untuk beribadah dan banyak merenungi kekuasaan Allah di alam raya yang begitu sempurna. Selama perenungan tersebut, beliau juga semakin menyadari keterpurukan yang dialami oleh kaumnya. Banyak dari mereka yang terbelenggu dan tidak bisa terlepas dari keyakinan-keyakinan syirik. Namun, beliau belum memiliki jalan yang terang dan pedoman yang jelas mengenai bagaimana jalan yang harus ditempuh agar kaumnya bisa terbebas dan menjauhi belenggu kesyirikan.
Ketika usia Nabi Muhammad genap 40 tahun, tanda-tanda kenabian beliau semakin tampak dan jelas. Di antaranya adalah adanya sebuah batu di Makkah yang mengucapkan salam kepada beliau.
إِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ إِنِّي لَأَعْرِفُهُ الْآنَ
“Sesungguhnya aku menjumpai sebuah batu di Kota Makkah mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus (menjadi nabi). Sesungguhnya aku masih mengingatnya sampai sekarang.” (H.R. Muslim No. 2277).
Selanjutnya di antara tanda kenabian lainnya adalah mimpi-mimpi beliau yang semakin jelas dan nyata yang disebut dengan istilah “Ru’ya Al-Shalihah” atau “Ru’ya Al-Shadiqah”.
الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ
“Sebuah mimpi yang benar adalah salah satu dari 46 tanda kenabian.” (H.R. Muslim No. 2263).
Ketika uzlah, Nabi Muhammad memasuki tahun ketiga, saat itu beliau berusia 40 tahun, 6 bulan, 12 hari menurut penanggalan kalender hijriah atau sekitar 39 tahun, 3 bulan, 20 hari menurut penanggalan kalender masehi. Tepatnya di bulan Ramadan, Allah mengangkat beliau menjadi nabi, ditandai dengan diutusnya malaikat Jibril turun dengan membawa wahyu pertama kepada Nabi Muhammad bagi umat Islam. Peristiwa ini terjadi pada hari Senin tanggal 21 Ramadan di malam hari, bertepatan dengan tanggal 10 Agustus 610 M.
Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad dan berkata, “Bacalah!” Nabi menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Nabi kemudian menjelaskan, “Malaikat itu memegang dan mendekapku sangat kuat kemudian melepaskanku dan kembali berkata, “Bacalah!” Lalu aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Lalu malaikat itu kembali memegang dan mendekapku dengan sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi, “Bacalah!” Aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Malaikat itu kembali memegangku lalu mendekapku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan, dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah.” (H.R. Bukhari No. 6982).
Setelah menerima wahyu di Gua Hira, Nabi Muhammad saw. pulang dengan kondisi tubuh yang gemetar dan tergesa-gesa agar bergegas masuk ke rumah Siti Khadijah. Dengan kondisi tubuh yang gemetar, Nabi Muhammad saw. meminta kepada Siti Khadijah dengan berkata kepadanya, “Selimuti aku, selimuti aku.” Siti Khadijah pun menyelimuti beliau yang gemetar dan ketakutan. Kemudian Nabi Muhammad saw. bertanya, “Wahai Siti Khadijah, apa sebenarnya yang terjadi denganku ini?” Lalu Nabi Muhammad saw. menyampaikan kejadian yang telah beliau alami, “Aku sangat khawatir terhadap diriku.” Maka Siti Khadijah mengatakan, “Janganlah sekali-kali engkau takut, demi Allah, dia tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Sungguh engkau adalah orang yang selalu menyambung tali silaturahmi, pemikul beban orang yang kesusahan, pemberi kepada orang miskin yang membutuhkan, penjamu tamu, serta penolong orang yang menegakkan kebenaran.”
Setelah itu Siti Khadijah mengajak Nabi Muhammad saw. pergi bersama menemui Waraqah bin Naufal untuk menanyakan kejadian yang telah dialami oleh suaminya. Waraqah adalah saudara dari ayahnya Siti Khadijah. Dia merupakan pemeluk agama Nasrani sejak zaman jahiliah yang pandai dalam bahasa Arab sehingga telah banyak menyalin Kitab Injil ke dalam bahasa Arab. Namun, ketika itu usianya telah lanjut dan pandangannya sudah tidak jelas. Siti Khadijah berkata kepada Waraqah, “Wahai paman, dengarkan kabar dari anak saudaramu ini.” Waraqah berkata, “Wahai anak saudaraku, apa yang terjadi kepadamu?” Nabi Muhammad saw. menceritakan kepadanya semua peristiwa yang telah dialaminya. Waraqah berkata, “(Jibril) ini adalah Namus yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa, Wahai Muhammad, semoga saya masih hidup ketika kamu diusir oleh kaummu.” Nabi Muhammad saw. bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Ya, pasti. Tidak ada seorang pun yang diberi wahyu seperti engkau, kecuali pasti akan dimusuhi oleh orang. Jika aku masih menjumpai hari itu, pasti aku akan menolongmu dengan sekuat-kuatnya.” Namun, tidak berselang lama dari kejadian tersebut, Waraqah bin Naufal telah meninggal dunia.” (H.R. Al Bukhari No. 6982).
Begitulah pertama kali Nabi Muhammad saw. menerima wahyu dan menjadi penanda beliau diangkat sebagai nabi oleh Allah Swt.
Guru Aqidah dan Akhlaq 'Amm Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah

