Konsep Pendidikan Al Zarnuji dalam Kitab Ta’lim al Muta’allim

ALTSAQAFAH.ID – Nama Al Zarnuji merupakan nama yang cukup familier di kalangan pesantren, terlebih bila dikaitkan dengan mahakarya beliau yang masih banyak dikaji hingga saat ini yang kita kenal dengan kitab Ta’lim al Muta’allim Thuruq al Ta’allum. Kitab ini banyak dikaji di lembaga-lembaga pendidikan Islam, terutama pesantren lantaran substansinya yang masih dianggap relevan.

Secara global, kitab Ta’lim al Muta’allim Thuruq al Ta’allum karya Syeikh Al Zarnuji tersebut berisikan 13 pasal singkat yang meliputi (1) pengertian ilmu dan keutamaannya, (2) niat belajar, (3) memilih ilmu, guru, dan teman, (4) menghormati ilmu dan guru, (5) ketekunan, kontinuitas, dan cita-cita luhur, (6) permulaan, intensitas, dan tata tertib belajar, (7) tawakal kepada Allah, (8) waktu belajar, (9) kasih sayang dan nasihat, (10) mengambil pelajaran/faedah, (11) wira’i (menjaga diri dari perkara haram dan syubhat), (12) faktor penyebab hafal dan lupa, dan (13) masalah rezeki dan umur.

Dari 13 pasal yang termaktub di atas, menurut analisis Mochtar Affandi, terdapat dua kategori dari segi metode belajar yang dimuat Al Zarnuji dalam kitabnya, yaitu metode bersifat etik dan metode bersifat strategi. Selanjutnya apabila dianalisis lebih lanjut, akan tampak bahwa Al Zarnuji mengutamakan metode yang bersifat etik karena dalam pembahasannya beliau cenderung mengutamakan masalah-masalah yang bernuansa pesan moral.

Penekanan pada etika atau akhlak dalam proses pendidikan merupakan langkah terbentuknya peserta didik untuk memperoleh ilmu yang memiliki manfaat, baik untuk dirinya sendiri maupun cakupan yang lebih luas, yakni masyarakat, bahkan bangsa. Di samping itu juga sebagai pembekalan bagi peserta didik untuk memiliki etika terhadap sesama peserta didik dan utamanya kepada pendidik. Titik sentral pendidikannya adalah pembentukan budi pekerti luhur yang bersumbu pada konsep religiositas (ketuhanan).

Namun, bagaimana relevansi konsep pemikiran Al Zarnuji tersebut bila dihadapkan pada konsep dan metode pembelajaran saat ini? Tentu saja jawabannya adalah masih sangat relevan. Terlebih apabila konsep-konsep tersebut diaplikasikan pada metode pembelajaran dalam lembaga pendidikan Islam seperti pesantren. Maka sudah seyogianya kita menyelami lebih dalam lagi konsep pemikiran pendidikan Al Zarnuji untuk diaplikasikan kembali, terlebih bagi pendidik yang juga masih menjadi peserta didik. Menukil dari Abu Zakariya Al Anbari rahimahullah:

علم بلا أدب كنار بلا حطب و أدب بلا علم كروح بلا جسد

“Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar dan adab tanpa ilmu seperti ruh tanpa jasad.”

Wallahu a’lamu bi al showwab

rinifnuriyatin@gmail.com   Postingan Lainnya

Pengajar PAI dan Hadis