Sumatra adalah pulau yang sejak dahulu diberkahi kekayaan alam yang melimpah: hutan tropis yang luas dan lebat, sungai yang mengalir tenang sekaligus gagah, gunung-gunung berapi yang menjulang, serta flora dan fauna yang hidup dalam harmoni. Namun, keindahan itu kini juga menjadi ruang bagi luka dan duka. Sumatra mengalami deretan bencana alam yang datang tidak hanya sebagai fenomena biasa, melainkan sebagai pesan yang mungkin terlambat kita pahami: bahwa alam pun memiliki batas.
Gempa bumi Aceh tahun 2004, letusan Gunung Sinabung, kabut asap yang menyelimuti wilayah Sumatra akibat pembakaran hutan, serta banjir dan tanah longsor yang sering terjadi adalah bagian dari catatan luka panjang pulau ini.
Belum lama ini, Sumatra kembali diuji dengan musibah banjir bandang yang menelan korban jiwa, menghancurkan rumah, merusak sekolah, masjid, dan sawah, serta meninggalkan jejak kehancuran yang menyayat hati.
Air bah datang tiba-tiba, membawa lumpur, batu, dan batang kayu besar seolah alam mengembalikan sesuatu yang pernah direbut darinya. Mereka yang selamat memandang reruntuhan dengan mata berkaca-kaca, menyadari bahwa yang hilang bukan hanya benda, melainkan juga kenangan.
Manusia sering merasa bahwa alam sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Hutan dibuka, sungai diubah alirannya, bukit digerogoti tambang, dan tanah-tanah adat dibangun menjadi kawasan industri. Semua dilakukan atas nama kemajuan, tetapi sering tanpa menghitung dampak jangka panjang.
Rasa memiliki ini bukan lahir dari semangat menjaga, melainkan dari dorongan menguasai. Di sinilah kesalahan itu tumbuh. Ketika pohon ditebang tanpa dihitung, sungai dipersempit, akar-akar yang seharusnya menahan air lenyap bersama hutan, maka banjir bandang bukan sekadar bencana, tetapi konsekuensi.
Alam tidak marah. Ia hanya merespons. Kita terlalu sering lupa bahwa alam bukan objek pasif. Ia hidup, bergerak, dan menyimpan keseimbangan yang tidak boleh dilanggar. Ketika manusia melampaui batasnya, alam mengembalikan semuanya dengan caranya sendiri.
Musibah banjir bandang terbaru seolah membuka kembali luka lama. Di beberapa wilayah, suara tangis menggantikan suara riuh anak-anak yang dulu bermain di halaman rumah. Sungai yang dulunya memberikan kesegaran kini menjadi sumber kesedihan. Sekolah yang semestinya menjadi tempat ilmu kini berdiri dengan dinding berlumpur. Banyak yang kehilangan keluarga, harta, dan masa depan dalam hitungan jam.
Namun, di balik hancurnya bangunan fisik, ada kehilangan yang lebih senyap: hilangnya rasa aman, hilangnya ruang hidup, dan hilangnya hubungan manusia dengan alam yang dulu penuh hormat. Masyarakat adat yang hidup ratusan tahun berdampingan dengan hutan kini bertanya, bukan kepada pemerintah, bukan kepada ahli, melainkan kepada diri mereka sendiri: “Di mana batas yang telah kami lewati?”
Kehilangan itu berat, dan tidak semuanya dapat diganti. Tidak semua yang hanyut dapat ditemukan kembali. Dan tidak semua yang musnah dapat dibangun lagi dengan cara yang sama.
Meski pahit, bencana sering menjadi guru. Banjir bandang kemarin membuka mata banyak pihak bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar isu, melainkan kenyataan yang kini mengetuk pintu rumah kita. Pemerintah mulai meninjau ulang tata ruang. Komunitas lokal bangkit untuk memperjuangkan sungai dan hutan mereka.
Para relawan bergerak, bukan hanya menyumbang makanan dan pakaian, melainkan juga menyampaikan pesan agar alam kembali dicintai. Kesadaran tumbuh, meskipun datang setelah kehilangan. Kesadaran bahwa kemajuan tidak boleh dibangun di atas kehancuran lingkungan. Bahwa pembangunan tidak berarti membabat, tetapi menata. Bahwa alam bukan properti, melainkan titipan.
Pada akhirnya, semua luka—baik luka Sumatra maupun luka manusia—mengantar kita pada sebuah sikap yang mungkin selama ini terlupakan: syukur.
Syukur karena kita masih diberi kesempatan belajar. Syukur karena meski alam terluka, ia belum menutup pintu pemulihan. Syukur karena ada tangan-tangan penyembuh, bukan hanya tangan yang merusak.
Syukur bukan berarti pasrah atau menunggu. Syukur adalah kesadaran yang melahirkan tindakan. Dengan syukur, manusia tidak akan lagi merasa memiliki alam, tetapi merasa menjadi bagian darinya. Dengan syukur, kita akan menjaga hutan bukan karena takut bencana, melainkan karena tahu hutan adalah rahmat. Dengan syukur, sungai tidak lagi menjadi tempat pembuangan, melainkan tempat kehidupan.
Sumatra adalah kisah tentang keindahan yang diuji, tentang keseimbangan yang terganggu, dan tentang pelajaran yang diberikan lewat kehilangan. Musibah banjir bandang yang baru saja terjadi adalah satu bab dari perjalanan panjang itu—bab yang menyakitkan, tetapi juga membuka pintu perubahan.
Jika manusia kembali rendah hati, kembali mencintai alam, dan kembali memahami batas perannya dalam kehidupan. Luka Sumatra bukan akhir, melainkan awal dari pemulihan. Dan ketika itu terjadi, syukur tidak lagi sekadar ucapan, tetapi menjadi cara hidup.
Guru Matematika Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah

