ALTSAQAFAH.ID – Matematika, sebuah mata pelajaran yang sering disebut hantu oleh para pelajar. Saking menakutkannya, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi banyak yang menghindarinya. Apalagi kalau sudah sampai di materi integral, turunan, bilangan kompleks, atau imajiner. Sungguh bisa membuat sakit dalam arti yang sebenarnya, bahkan tidak jarang seorang murid sudah stres sebelum pelajaran itu dimulai atau barangkali siapa di antara kita yang tiba-tiba sakit perut sebelum masuk kelas?
Dengan sedikit mengubah sudut pandang kita terhadap matematika, ternyata matematika bisa menjadi wasilah yang luar biasa dalam taqarrub kepada Allah Swt.
Mengutip dawuh Gus Baha dalam kajiannya, beliau berkisah tentang Imam Amudi. Imam ini mengajarkan kita akan tauhid atau keesaan Allah Swt. Beliau mengungkapkan bahwa “Nisbah ats naini wa tsalatsah wa arbaah ila ma nihayata laha far’ul wahid.” Ini artinya bahwa menisbahkan angka dua, tiga, empat sampai seterusnya adalah cabang dari satu, yaitu Allah Swt.
Hal ini sejalan dengan teori dalam pelajaran kesenian yang diawali dengan satu titik. Kemudian kumpulan titik membentuk garis, kumpulan garis membentuk arsir, kumpulan arsir membentuk bidang, kumpulan bidang membentuk ruang. Begitu seterusnya sampai kita saksikan beraneka rupa gambar dan bentuk yang tidak berhingga banyaknya. Pada bagian ini, kita sebagai orang beriman akan bertemu dengan salah satu nama Allah yang agung (asmaulhusna), yaitu Al-Mushawwir.
Kembali pada rumus Imam Amudi, jika kita membuat angka pasti dimulai dari satu dahulu baru dua, tiga, dan seterusnya. Sekalipun angka ribuan, jutaan, miliar, atau sebanyak apa pun, sesungguhnya cabang dari angka satu. Sumber yang satu inilah Allah. Allah adalah zat yang awal, yang menjadi sumber segala keberadaan makhluk.
Selanjutnya kita meloncat ke jaman now, begitu istilah yang banyak dipakai anak-anak muda. Di jaman now kita bisa perhatikan bagaimana matematika akan menunjukkan betapa besarnya nikmat Allah.
Seorang sarjana matematika mencoba melakukan perhitungan banyaknya nikmat Allah untuk membuktikan kebenaran surah An-Nahl: 18 yang makna terjemahan atau maksud ayat tersebut adalah “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
Menghitung, tetapi untuk membuktikan sesuatu yang tidak terhitung? Sebuah hal yang aneh bukan? Justru di sini menariknya ilmu matematika.
Abdurrahim Arsyad, S.Pd., M.Pd., begitu nama dan gelar akademis sarjana tersebut. Namun, bisa jadi kebanyakan kita lebih mengenalnya sebagai Abdur sang komedian stand-up. Tentu dengan tampilan fisik bentuk kuncir rambut dan logatnya yang khas dari Indonesia timur.
Dalam penjelasannya, Abdur Arsyad mulai dengan membagi nikmat menjadi dua, yaitu internal untuk semua yang ada dalam tubuh dan eksternal untuk yang di luar tubuh. Selanjutnya pada nikmat internal diambilah contoh mata, dari bentuk mata kemudian dibagi ke sub-sub lebih kecil sampai sel. Meski dengan teknologi terbaru, ternyata diketahui ada yang lebih renik dari sel.
Dengan menerapkan satu epsilon pada tiap variabel sel dan dihubungkan dengan fungsi waktu diterimanya nikmat tersebut, akhirnya tersusunlah persamaan integral. Selanjutnya dengan teori Riemann Sum dilakukanlah penghitungan atas tiap nikmat itu.
Penghitungan yang sama akan berulang dengan arah sebaliknya. Kalau tadi mata dibagi-bagi ke sub penyusunnya, sekarang dimulai dari sel. Kemudian jaringan, lalu otot atau retina, dan seterusnya sampai mata. Pada semua bagian itu terjadi penghitungan integral.
Sampai akhirnya pada satu bola mata saja, beliau mendapati adanya penghitungan integral berhingga dengan jumlah yang tak terhingga. Belum lagi jika dikembangkan pada anggota tubuh lain dan dilanjutkan ke hal-hal di luar tubuh.
Dari dua uraian di atas, kalau kita adalah pelajar atau santri, sudah saatnya untuk membuang jauh-jauh anggapan bahwa matematika adalah hantu yang paling menakutkan. Kalau kita orang tua atau guru, harus memberi semangat yang lebih bagi anak-anak untuk lebih giat mempelajarinya.
Kita sebagai kaum muslimin muslimat pada umumnya, maka janganlah anti terhadap “ilmu-ilmu umum”. Lebih khusus pada bidang matematika, toh ilmu ini banyak menjadi pijakan “ilmu-ilmu agama”. Semisal untuk penghitungan waris, penentuan nilai zakat, ataupun dalam ilmu falak.
Wallahu a’lam bis showab.
Ayah dari dua santri Al-Tsaqafah

