Melacak Intoleransi dalam Pembukaan Olimpiade Paris 2024

ALTSAQAFAH.ID – Pada 26 juli lalu, dunia diramaikan dengan pembukaan ajang olahraga internasional empat tahunan atau Olimpiade Musim Panas 2024. Kali ini, Negara Prancis menjadi tuan rumahnya. Namun, acara seremonial yang diekspektasikan akan terselenggara dengan epic nan menakjubkan itu, justru berjalan sebaliknya, serta menuai banyak kecaman dan kekecewaan dari masyarakat.

Dalam rangkaian seremonial tersebut, beberapa segmen menampilkan hal-hal absurd, tak pantas dan kontroversial. Salah satu yang disorot ialah parodi Perjamuan Terakhir yang berasal dari lukisan terkenal dunia, “The Last Supper” karya Leonardo Da Vinci. Lukisan ini menggambarkan peristiwa Perjamuan Terakhir Yesus dengan dua belas rasul, seperti yang diceritakan dalam Injil Yohanes, usai Yesus mengumumkan bahwa salah satu rasulnya akan mengkhianatinya.

Peristiwa kerohanian Penjamuan Terakhir yang sangat sakral dalam agama kristen ini, diparodikan dengan menampilkan para transpuan (drag queen) dengan kostum nyentrik yang menari-nari di balik meja. Hal ini tentu dianggap sebagai tindakan penistaan agama dan memicu kemarahan para umat kristiani di seluruh dunia. Kemarahan dan kekecewaan juga disuarakan bahkan oleh penganut agama lain, terbukti dengan masifnya hastag #BoycotParisOlympic di media sosial.

Interpretasi dari pertunjukan tersebut secara terang-terangan mengampanyekan nilai LGBT yang dalam ajaran Kristen sendiri dinilai menyimpang sebab menyalahi Alkitab. Dijelaskan di dalam Alkitab, “Janganla engkau tidur dengan laki-laki secara bersetubuh dengan perempuan karena itu suatu kekejian.” (Imamat 18:22). Dengan demikian, terkikisnya nilai dan ajaran murni dalam suatu agama, lambat laun dapat mengikis pula nilai toleransi di antara manusia.

Kampanye untuk membenarkan LGBT oleh sekelompok orang tertentu, jika tidak disadari dengan kritis, akan mengaburkan nilai kebenaran yang selama ini kita anut. Hal ini diperparah dengan klaim legitimasi oleh dalil agama yang juga kian gencar mereka buat. Gerakan ini semakin terasa nyata dan terang-terangan dengan terselenggaranya segmen pertunjukan tersebut dalam pembukaan Olimpiade. Keberanian mereka dalam menampakkan diri di muka dunia tentunya didukung dengan andil pemerintah dalam memvalidasi eksistensi mereka.

Selain itu, sebagai sebuah seremonial pembukaan Olimpiade, alih-alih menampilkan pertunjukan yang dapat membakar semangat para atlet atau mengenalkan budaya negara tuan rumah, pembukaan Olimpiade Paris justru menampilkan segmen parodi Dionysus. Dalam mitologi Yunani, Dionysus adalah dewa anggur (arak) dan selalu direpresentasikan sebagai dewa pesta. Parodi Dionysus digambarkan dengan seorang pria hampir tanpa busana, bercat biru pada seluruh tubuhnya yang muncul di balik tudung saji di atas meja makan. Pertunjukan ini semakin menambahkan kesan absurd dan tidak pantas dalam pembukaan Olimpiade Paris tersebut.

Ajang olimpiade, sebagaimana nilai yang dilestarikan sejak awal mula penyelenggaraannya, memiliki misi sebagai salah satu perwujudan spirit toleransi yang melibatkan negara-negara dunia. Jika menilik pada sejarah, penyelenggaraan Olimpiade sudah ada sejak masa Yunani kuno pada 776 sebelum Masehi. Baru pada tahun 1896, Olimpiade Modern dilestarikan kembali dan pertama diadakan di Athena, Yunani, sebagai bagian dari usaha untuk mempromosikan persatuan internasional melalui olahraga. Dari sini dapat dilihat, pertunjukan-pertunjukan kontroversial yang disajikan dalam pembukaan Olimpiade Paris 2024 mencoreng nilai dan esensi Olimpiade.

Acara pembukaan Olimpiade Paris 2024 memang menawarkan inovasi dan pengalaman baru, tetapi juga tidak luput dari berbagai kontroversi yang mencerminkan kompleksitas dan tantangan dalam menggelar acara sebesar ini di tengah kota bersejarah seperti Paris. Semestinya, hal ini sudah disadari sejak awal terpilihnya Prancis menjadi tuan rumah Olimpiade. Namun, pada praktiknya hal itu mungkin bisa jadi bergeser dari tujuan awal demi melancarkan maksud lain yang dikehendaki kelompok dan elite tertentu.

Menyikapi masifnya kekecewaan masyarakat dunia, pihak penyelenggara menyampaikan, esensi dari serangkaian pembukaan Olimpiade tersebut, termasuk parodi Perjamuan Terakhir dan hal-hal erotis lainnya, dilakukan sebagai bentuk kebebasan berekpresi masyarakat Prancis. Mereka beranggapan, Negara Prancis yang demokratis meniscayakan sebuah kebebasan bagi masyarakatnya dalam hal apa pun, termasuk mencintai, beragama, dan berkeyakinan. Akan tetapi, menilik pada kontroversi yang ada, terdapat sebuah kejanggalan bila kita melihat fenomena tersebut melalui nilai kebebasan dan kesetaraan.

Kebebasan memang kerap kali mengalami pemaknaan yang luas. Ini disebabkan kebebasan adalah sebuah hal yang abstrak sehingga dapat dipahami dengan berbeda-beda oleh setiap orang. Dalam perspektif Jean Paul Sarte, seorang filsuf eksistensialis abad 20 yang dikenal sangat mendewakan kebebasan, manusia secara individual mempunyai kebebasan untuk memberi makna kepada keberadaannya. Namun, ini tidak bisa dilakukan perseorangan saja, tetapi harus berlangsung dalam konteks intersubjektivitas, yaitu bersama dengan yang lain.

Lebih lanjut, Satre menjelaskan mengenai konflik dan relasi kebebasan antarmanusia. Karena setiap orang terikat dengan orang lain, kebebasannya sebagai manusia harus memperhitungkan juga kebebasan orang lain. Maka, termasuk di dalamnya ialah batas-batas yang telah menjadi keyakinan dalam diri orang lain. Dalam kasus seremonial pembukaan Olimpiade tadi, keterlibatan negara-negara partisipan dengan ideologi yang beragam dari seluruh dunia, semestinya dijadikan bahan untuk bertindak dengan lebih bijaksana sehingga tidak menimbulkan propaganda yang secara eksplisit menghina golongan tertentu.

Sebagai penutup, kekecewaan yang dirasakan masyarakat dunia atas beberapa segmen kontroversial dalam pembukaan Olimpiade Paris 2024, tidak hanya dirasakan oleh masyarakat luar, melainkan salah seorang politikus Prancis mengutarakan kekecewaannya dengan mengunggah cuitan dalam akun X pribadinya, “Kepada semua orang Kristen di dunia yang menyaksikan upacara #Paris2024 dan merasa terhina oleh parodi ratu drag queen tentang Perjamuan Terakhir ini, ketahuilah bahwa bukan Prancis yang berbicara, melainkan minoritas sayap kiri yang siap melakukan provokasi apa pun.” Selain itu, permohonan maaf telah diutarakan pihak penyelenggara setelah mendapat kecaman dari Gereja Katolik di Prancis, menambah validitas degradasi nilai toleransi yang terjadi.

finatihsidwar@gmail.com   Postingan Lainnya

Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo-Mesir, jurusan Ushuluddin, Alumnus Al-Tsaqafah angkatan ke-5.