Mengenal Diri Sendiri, Kunci Menjalani Kehidupan

Kamu berasal dari mana? Di masa mendatang, kamu mau ke mana dan mau apa?

ALTSAQAFAH.ID – Apa yang terlintas di pikiranmu setelah membaca pertanyaan tersebut? Jika ditanya berasal dari mana, mungkin kita akan menjawab kota tempat kita dilahirkan. Akan tetapi, pernahkah kamu terpikirkan untuk menjawab kalau kita berasal dari tanah? Terdengar agak nyeleneh memang, tetapi itu benar adanya bahwa kita berasal dari tanah, seperti yang terkandung dalam Q.S. Al-Mu’minun ayat 12 yang berbunyi, “Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.”

Nah, karena kita berasal dari tanah, sudah sepatutnya kita memiliki sikap membumi dong? Apa sih membumi itu? Kita harus memiliki kerendahan hati, menyadari keterbatasan diri, dan tidak bersikap angkuh atau sombong. Sering kali ketika melakukan kesalahan, kita enggan mengakuinya. Ternyata secara tak sadar kita menjadi sombong, yaitu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain, padahal dalam Q.S. Luqman ayat 18 disebutkan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menyadari dari mana kita berasal agar kita lebih mengenal diri sendiri. Mengutip filosofi para sufi, “Siapa yang mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya.”

Dalam proses mengenal diri sendiri, kita kemudian menemukan pertanyaan yang terkesan sederhana, tetapi rumit menemukan jawaban sesungguhnya, yaitu ke depannya mau ke mana dan mau apa? Jika waktu kecil, sering kali kita ditanya, “Saat besar nanti, mau jadi apa?” Mudah bagi kita pada saat itu menjawab dengan lantangnya, “Aku mau jadi dokter! Aku mau jadi guru!” Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, kita menemukan kenyataan dan berbagai problematika dan beberapa di antara kita kemudian menjadi pasrah tidak tahu arah dengan dalih yang penting bahagia. Beberapa lainnya sering berpikir, “Mengapa ya, kok hidup kita gini-gini saja?” Padahal, bisa jadi hidup kita adalah hidup yang orang lain impikan. Itulah betapa pentingnya memiliki tujuan hidup dan bersyukur sepanjang prosesnya.

Jika kita merujuk pada Al-Qur’an surah Al-Qomar ayat 49, memang dijelaskan, “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan al-qadar (takdir).” Oleh karena itu, segala yang terjadi dalam kehidupan kita tidak terlepas dari pengetahuan Allah karena Allah Maha Mengetahui. Namun tentunya, ayat tersebut tidak menjadi pembenaran akan kita yang pasrah dengan kehidupan yang ada. Asa di dalam diri kita masih harus tetap dinyalakan. Misalnya, harapan bahwa Allah akan mengampuni dan memasukkan kita ke surga. Dengan memiliki harapan, kita akan memiliki semangat untuk terus hidup dalam kebaikan serta bertobat dengan segala usaha. Perlu dicatat, dengan usaha. Artinya, kita tidak boleh diam saja. Bukankah hidup ini seperti memanah? Ya, memiliki fokus pada sasaran, yang tentunya kita punya trik tersendiri untuk mencapainya.

“Jadi, ke mana fokusmu saat ini?”
“Apa yang kamu inginkan di masa depan?”
“Ingin menjadi apa kamu nanti?”
“Jadi orang sukses? Sukses seperti apa yang kamu inginkan?”
“Jadi orang bahagia? Standar bahagia seperti apa yang kita terapkan?”
“Sudahkah kita bertanya pada diri kita sendiri?”

Sudahkah kita memiliki cita-cita dan tahapan untuk mencapainya? Pada akhirnya, mau jadi apa pun kita nantinya, yang penting kita tidak lupa dengan Sang Pencipta.

Rofiqoh2911@gmail.com   Postingan Lainnya

Pustakawan, Guru Aswaja & Ke-NU-an