Mensyukuri Bhinneka Tunggal Ika: Sepenggal Kisah dari Yaman

Mensyukuri Indonesia bisa dilakukan dengan banyak cara bagi mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di luar negeri. Kang Dzul Fahmi, guru Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah asal Bali, punya pengalaman unik dan menarik saat memperkenalkan kebhinnekaan Indonesia di hadapan warga Yaman, negeri yang hingga saat ini masih bergelut dengan kecamuk perang saudara. Berikut adalah catatan pengalamannya saat mempromosikan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika pada tahun 2016, di Kota Mukalla, Provinsi Hadramaut.

Ini adalah momen berkesan selama saya menempuh studi di Yaman. Saya mendapat tugas presentasi dalam kelas bahasa Inggris. Tugas ini jelas membuat saya gugup sebab selain kemampuan bahasa asing di bawah rata-rata, temanya tentang Indonesia. Sungguh sulit jika harus memaparkan Indonesia dengan budayanya yang kompleks, keindahan alam, keragaman suku, ras, dan seni beserta dinamika sosial penduduknya hanya dalam waktu 9 menit di depan 20 muda mudi SMA Yaman peserta kursus.

Namun, tiba-tiba saja saya merasa sedikit agak penting. Haru campur bangga, seolah saya ditunjuk menjadi delegasi RI dalam pertemuan internasional tingkat tinggi di Jenewa. Tentu tidak semua orang bisa merasakan perasaan bangga macam ini. Hanya para diplomat penting, yang bolak-balik naik pesawat ke luar negeri yang tahu.

Tugas ini amat berat sekaligus menantang. Berbicara di hadapan khalayak, artinya saya akan menjadi pusat perhatian dalam kelas. Saya sadar bahwa gerak-gerik saya akan menjadi pusat perhatian seluruh peserta, maka saya tidak boleh main-main. Saya wajib mempersiapkan segalanya semaksimal mungkin.

Untuk itu saya percayakan persiapan ini pada dua orang. Perihal materi keindonesiaan cukuplah saya sowan ke kediaman “Syekh Google Hafidzahulloh”.

Orang kedua adalah Masruhin, teman sejawat yang berprofesi sebagai mujahidin ijazah di Mukalla. Dialah yang bertindak sebagai event organizer dalam acara hebat ini. Kepada putra Madura multitalenta ini saya berguru. Saya mengonsultasikan segalanya: mulai dari isi, busana, cara berdiri di kelas, monitor, bendera, posisi tangan, sampai berapa kali harus tersenyum.

Masruhin berkali-kali memperbaiki pronunciation kata-kata Inggris saya. Saya patuhi semua masukannya. Ia sangat concern pada penampilan saya sebab ia tahu ini tentang harga diri ibu pertiwi. Ia adalah alumnus Ponpes Al-Amin Prenduan Sumenep yang konon aktif di komunitas sastra, maka saya kerjakan semua instruksinya sebab saya percaya dalam masalah estetika ialah jagonya.

Saya mati-matian melaksanakan ini karena sadar bahwa saya sedang mewakili 280 juta penduduk Indonesia. Citra bangsa besar itu serasa ada di pundak saya. Di mata peserta kursus itu sayalah Nusantara. Wajah saya yang kuning langsat ini merupakan jendela untuk memperkenalkan negeri gemah ripah loh jinawi di ujung Asia Tenggara itu. Jika sembrono, risikonya tak sederhana: persepsi orang Yaman tentang Indonesia akan buruk dan saya tak ingin itu terjadi.

Persentase persiapan saya bisa dikatakan sampai pada angka 99%. Detail dan benar-benar matang, sampai hal yang remeh-temeh.

Anggun C. Sasmi dalam sebuah penampilannya di X Factor pernah berkata, “Show tergantung pada pembukaannya. Jika pembukaannya menarik, acara akan sukses, jika tidak maka berdoalah semoga sejam ke depan berlalu dengan secepat angin.” Maka berdasar petuahnya, saya mulai presentasi dengan mendeskripsikan alam Indonesia.

Memaparkan tentang Indonesia di depan warga Yaman dalam kelas bahasa Inggris

Hello every one, how are you? I’m happy to be here, and I hope you enjoy the class.”

Para perserta menyimak kata-kata prolog saya dengan takzim. Di titik ini saya semakin yakin bahwa presentasi saya bakal sukses. Ternyata tidak sulit membuat anak-anak SMA Arab tertarik. Cukup membunyikan Happy dengan benar mereka langsung yakin bahwa saya berpendidikan dan berwawasan lebih tinggi dari mereka.

Perlu diketahui bahwa orang Arab tidak bisa mengucapkan huruf P. Huruf P dibaca B sebab dalam bahasa Arab tidak ada huruf tengah antara Fa’ dan Ba’. Jika menyebut Spider yang terdengar Sbaider, Hope menjadi Hope, dan Happy menjadi Habby. Unik sekali pokoknya. Sembari menggambar peta Indonesia di papan, presentasi pun saya lanjutkan.

“Indonesia adalah negara maritim, negara besar yang terdiri dari 18.000 pulau. Ribuan pulau itu mempunyai ukuran yang berbeda-beda, mulai dari yang luasnya seperti Yaman sampai pulau yang seukuran satu rumah.” Para peserta tampak excited.

“Pulau-pulau itu bertebaran dari Sabang, di sebelah barat, sampai Merauke di ujung paling timur, timbul tenggelam mengikuti tinggi air laut seolah dilantakkan kekuatan besar dari perut bumi. Konturnya seperti percikan cat lukisan yang digambar oleh tangan gaib: biru, megah, mengapung, dan sangat memesona.”

Deskripsi saya semakin riil dengan gambar-gambar di layar monitor yang saya kumpulkan dari Google jauh-jauh hari sebelumnya. Semua yang ada di ruangan napasnya tercekat, termasuk Mr. Muhammad, sang guru bahasa Inggris itu.

Saya kagum pada Mr. Muhammad meski dia orang Arab tulen, besar di Arab dan hanya belajar di sekolah-sekolah Arab, bahasa Inggrisnya sangat fasih. Ia termasuk segelintir orang Arab yang diberkahi Tuhan sehingga terhindar dari “wabah” huruf P itu.

“Indonesia mempunyai puluhan ras dan suku. Jumlah penduduknya mencapai 280 juta jiwa. Bangsa Indonesia dalam konstitusinya mengayomi 6 agama sebagai agama resmi rakyatnya. Dan kalian tahu berapa kira-kira bahasa yang digunakan? 350 lebih!” Mendengar angka itu membuat mereka menganga, kagum pada keanekaragaman budaya Indonesia. Saya semakin menikmati sensasi ini. Perasaan nervous saya hilang total.

“Dan lebih dari itu, para penduduk Indonesia hidup rukun di bawah naungan Garuda Pancasila.” Mendengar kata “rukun” anak-anak SMA itu terperanjat hampir jatuh dari kursi. Kata “rukun” seakan asing di benak mereka. Puluhan suku, ratusan bahasa, serta 6 agama bisa hidup rukun? Mustahil!

Saya maklum. Telinga siswa-siswi SMA yang notabene berumur 19 tahun itu sejak lahir memang akrab dengan kata perang. Salah satu anggota DPR Yaman yang diundang dalam acara Simposium Nasional PPI Yaman tahun 2013 pernah menyatakan kekagumannya akan Indonesia. Sedang Yaman yang terdiri dari dua bagian saja, Utara dan Selatan, sejak unifikasi tahun 1991 sampai sekarang masih gontok-gontokan merebutkan kekuasaan. Selama 32 tahun saat rezim Ali Abdullah Saleh berkuasa, rakyat tidak pernah merasakan persatuan dalam arti yang sebenarnya.

Mr. Muhammad mengomentari dengan nada sedih, “This is weird, here in Yemen, like we see, war is everywhere, every single day a muslem kills muslim.”

Maka saya katakan, ”Indonesia is not an Islamic state, but it’s totally expresses Islam religion.”

Lalu saya susul dengan snapshot yang memotret kerukunan antaragama. Gambar para pecalang Hindu Bali yang gotong royong menertibkan salat Hari Raya Idulfitri. Disusul foto Banser NU yang ikut mengamankan jalannya Hari Natal.

“Slogan kami, rakyat Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika.” Mereka meniru-niru kalimat Jawa Kuno itu sambil tersenyum-senyum. “What the meaning?” tanya mereka.

Saya jawab, “Berbeda-beda, tapi satu jua.” Wow, mereka serta-merta berteriak histeris. “Masyaallah tabarakallah, hebat sekali artinya!”

Kemudian, saya lanjutkan presentasi dengan menampilkan foto-foto budaya Indonesia, seni, serta alat tranportasi. Mulai dari yang tradisional seperti dokar sampai Gojek, transportasi berbasis internet yang marak akhir-akhir ini.

Semua peserta kursus hanyut dalam lena. Mereka tenggelam pada semua kalimat yang saya ucapkan mengenai Indonesia. Mata mereka mengikuti satu per satu gambar yang saya tampilkan sambil mangap. Sebagian dari mereka ada yang tak henti-hentinya menggumamkan subhanallah sejak awal presentasi. Semuanya terkagum-kagum pada keeksotisan alam Indonesia, tak terkecuali si Zaenab. Ya, Zaenab, siswi Yaman tercantik di kelas yang duduk di pojok belakang.

Tak lupa pula saya promosikan situs-situs bersejarah dan tempat-tempat wisata di Nusantara, seperti Candi Borobudur, Monas, Pantai Kuta, Gunung Rinjani, dan sebagainya.

Zaenab adalah salah satu peserta kursus di kelas ini. Namun, dari sebelas siswi itu dia adalah “Ratu Balqisnya”. Saya tahu dia begitu kagum pada penampilan saya sebab mata indahnya tampak berkaca-kaca. Saya tak bisa memungkiri bahwa dari semua wanita yang saya tahu dialah wanita yang memiliki mata paling indah di muka bumi.

Jika Zaenab beradu pandang dengan laki-laki, matanya yang magis itu bisa mencengkram hati lelaki tersebut dalam waktu sedetik, melumatnya, dibungkus, dan dimasukkan ke dalam tas. Lalu, seketika itu juga laki-laki malang itu akan sinting, tak tahu barat tak tahu timur. Duh Gusti, tolong hamba-Mu yang lemah ini!

Saya menutup presentasi dengan mengajak mereka berkunjung ke Indonesia dan mampir ke rumah saya di Pulau Bali. Saat menawarkan hal itu sengaja saya menatap mata Zaenab agar ia paham bahwa ialah yang saya maksud dalam kata-kata saya itu. Asal ia mau, saya siap mengantarkannya keliling Indonesia meski digendong sekalipun.

Zaenab “kejang”, ia seolah terkena penyakit angin duduk. Ia mau muntah. Bola matanya redup. Ia seolah-olah ingin berkata, “Kalau keliling Indonesia yang indah itu harus bersama kamu, Fahmi, mending saya mati dilindes truk!”

Akhirnya 9 menit presentasi Inggris saya berjalan lancar. Meski Zaenab mau muntah, keyakinan saya tak pernah goyah bahwa wanita di mana-mana – nggak di Yaman nggak di Indonesia sama saja. Sekarang ia bergaya tidak mau, tetapi nanti malam ia pasti akan mengigau-ngigau menyebut nama saya. hehehehe [***]

 

Editor: Senja Bagus Ananda

fahmipengelana@gmail.com   Postingan Lainnya

Kepala Bidang Kurikulum Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, asal Denpasar, Bali.