Tujuh belas Agustus, sebagaimana kita ketahui, merupakan Hari Kemerdekaan Indonesia yang seharusnya dirayakan dengan penuh sukacita. Namun sayangnya, tujuh belas Agustus kali ini terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Baru-baru ini, dalam pidatonya, Bapak Presiden Prabowo Subianto menyeru masyarakat untuk mengibarkan bendera Merah Putih di mana pun berada; rumah, sekolah, kantor hingga ruang publik. Seruan yang digaungkan dalam rangka menyambut HUT RI ke-80 tersebut mendapat respons yang beragam.
Salah satunya, sebagian masyarakat malah memilih untuk mengibarkan bendera One Piece (yang menceritakan petualangan bajak laut Topi Jerami melawan pemerintahan yang korup, perdagangan manusia, dan kemiskinan) sebagai bentuk protes dan kritik terhadap kondisi Indonesia sekarang.
Menurut mereka, pengibaran bendera One Piece tersebut sejalan dengan apa yang terjadi saat ini di mana banyak pejabat yang korup, angka kemiskinan yang mengenaskan, lapangan pekerjaan yang sedikit serta sistem pemerintahan yang bobrok.
Ditambah lagi, banyak sekali polemik yang juga membuat masyarakat geram, terutama peraturan-peraturan pemerintah yang membebani mereka, seperti peraturan pajak, peraturan tanah yang tidak digunakan selama 2 tahun akan diambil alih oleh negara (tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2021 tentang Penertiban Kawasan dan Tanah Terlantar) dan peraturan pemblokiran kartu ATM yang tidak memiliki transaksi selama tiga bulan.
Di tengah kegentingan situasi ini, bendera mana yang harus kita kibarkan saat Agustusan nanti? Haruskah kita tetap mengibarkan Merah Putih yang melambangkan persatuan atau bendera One Piece yang menyimbolkan kritik dan perlawanan tanpa kekerasan?
Bagi saya, tentu Sang Saka Merah Putih sangatlah sakral untuk tetap dikibarkan. Mengapa demikian? Sebab, bangsa ini lahir dari proses sejarah yang begitu panjang, mulai dari masa kerajaan-kerajaan kuno hingga penjajahan bangsa asing. Butuh perjuangan yang sangat besar untuk menyatukan Indonesia; ada banyak para pahlawan yang gugur saat melawan para penjajah; ada banyak elemen masyarakat yang ikut andil dalam perlawanan tersebut: para raja, para ulama, para santri, para pelajar hingga warga biasa.
Semua dilakukan untuk dapat bebas dari belenggu penjajahan bangsa asing dan hidup tenang di negeri sendiri tanpa tuntutan dan paksaan yang membuat rakyat menderita. Oleh karena itu, mari kita tetap kibarkan bendera Merah Putih sebagai bentuk penghargaan terhadap para pejuang yang telah berkorban demi negara ini dan terus serukan kebenaran dan keadilan demi kesejahteraan bersama.
Pengajar Ilmu Pengetahuan Sosial

