ALTSAQAFAH.ID – Sudah hampir dua tahun pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Semua masyarakat terkejut, tidak ada yang menyangka pandemi ini akan sampai ke Indonesia. Semua terlena, menganggap pandemi akan mudah diatasi. Namun, hingga saat ini pandemi belum juga berlalu. Malah menimbulkan kebingungan apa yang seharusnya dilakukan. Isu-isu bertebaran, banyak pihak saling menyalahkan, tenaga medis berjatuhan, pengusaha gulung tikar, pegawai dirumahkan, anak sekolah kesulitan, pemerintah kebingungan, dan pariwisata diliburkan. Tidak ada yang berjaya di masa ini. Tidak ada yang diuntungkan di masa ini.
Semakin hari, nampaknya masyarakat sudah mulai sadar bahwa tidak ada gunanya lagi untuk saling menyalahkan. Hal yang baik untuk dilakukan sekarang adalah bahu-membahu antarelemen masyarakat maupun pemerintah agar selalu sanggup dan kuat dalam menghadapi hingga mengatasi pandemi ini. Tentunya kita sudah lelah menghadapi peristiwa ini. Namun, mari sama-sama kita berjuang untuk terus menjadi pejuang yang membantu tenaga medis, membantu pemerintah, dan tentunya membantu bangsa ini.
Perjuangan yang dilakukan dapat berupa hal-hal sederhana, tetapi berdampak besar bagi bangsa. Misalnya mematuhi protokol kesehatan, memakai masker setiap keluar rumah, menjaga jarak fisik dengan orang asing, rajin mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer, dan hal-hal lainnya yang tidak hanya menjaga imunitas kita, tetapi juga menjaga keluarga terdekat maupun orang sekitar.
Grand Syekh Al Azhar, yaitu Syekh Ahmad al Tayyeb pernah berkata dalam pidatonya tentang Covid-19 bahwa kepatuhan terhadap protokol kesehatan dan otoritas resmi yang kompeten adalah kewajiban agama yang wajib ditaati dan berdosa bila dilanggar. Melanggar hal tersebut berarti melanggar firman Allah:
ولا تلقوا بايديكم الى التهلكة واحسنوا
“Dan janganlah kamu jatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri dan berbuat baiklah.” (Al-Baqarah: 195)
Melanggar protokol kesehatan berarti membiarkan virus lebih mudah masuk ke dalam tubuh kita. Hal tersebut telah dilarang oleh Allah karena termasuk menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan. Semoga kita bukan termasuk kaum yang jatuh ke dalam kebinasaan.
Aamiin ya Robbal Aalamiin…
Oleh karena itu, peran organisasi kemasyarakatan pada umumnya dan organisasi keagamaan khususnya tentu sangat diperlukan untuk mengarahkan umat agar melaksanakan hal-hal yang bermanfaat serta menyebarkan energi positif agar umat senantiasa aman dan tertib dalam menghadapi pandemi ini. Hal ini penting karena organisasi keagamaan, seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Syarikat Islam, maupun organisasi lainnya memiliki banyak pengikut yang tersebar di Nusantara. Para pengikut tersebut tentunya akan manut atau patuh terhadap arahan-arahan dari organisasi tersebut.
Nabi Muhammad saw. pernah bersabda:
لا تجتمع أمتي على ضلالة
“Umatku tidak akan bersepakat di atas kesesatan.” [HR. Tirmidzi dan Abu Dawud]
Maka seyogianya, organisasi-organisasi ini tentunya tidak akan mengarahkan kita kepada suatu hal yang batil. Setiap organisasi tersebut tentunya memiliki tujuan yang sama-sama baik, yaitu untuk kemaslahatan bersama. Organisasi-organisasi keagamaan yang telah diakui di Indonesia ini memiliki pemimpin yang santun dan bijaksana yang akan mengajak masyarakat untuk senantiasa menjaga kesehatan dan mematuhi otoritas resmi agar mempercepat selesainya pandemi dari negeri ini. Dengan kepercayaan masyarakat yang begitu besar, setiap organisasi ini dapat mengajak masyarakat untuk melakukan berbagai macam kebaikan.
Sudah banyak organisasi yang memiliki peran penting di masa pandemi ini seperti yang dilakukan oleh NU dengan berbagai kegiatan sosial yang telah dilaksanakan. Misalnya mengedukasi bahaya Covid-19 kepada masyarakat, menggerakkan Satgas Peduli Covid-19, menggerakkan Asosiasi Rumah Sakit dan Persatuan Dokter NU, dan masih banyak lagi.
Muhammadiyah juga berperan membentuk Muhammadiyah Covid-19 Command Center, membuat panduan pencegahan Covid-19, bekerja sama dengan BNPB untuk memperluas edukasi, melaksanakan berbagai agendanya secara daring, mengadakan penggalangan dana, dan masih banyak juga peran lainnya. Syarikat Islam juga berperan memberi santunan kepada anak yatim dan duafa yang terdampak Covid-19.
Beberapa hal di atas hanya sebagian kecil dari banyaknya peran organisasi keagamaan dalam menangani wabah ini. Masih banyak organisasi lainnya maupun cabang dari organisasi di atas yang turut berpartisipasi dalam peran ini. Hal ini membuktikan betapa banyak energi positif yang disebarkan oleh organisasi tersebut. Kita patut bersyukur untuk mengetahui hal ini.
Terdapat sebuah kaidah fikih yang berbunyi:
درء المفاسد مقدم على جلب المصالح
“Mencegah kerusakan didahulukan atas mengambil kemaslahatan.” Kaidah ini memberi pemahaman kepada kita bahwa segala hal yang sejatinya membawa kemaslahatan, tetapi memiliki potensi untuk menimbulkan kerusakan pada kondisi tertentu, maka pencegahan terhadap kerusakan tersebut harus lebih diutamakan.
Dalam konteks pandemi seperti ini, banyak hal seperti mengadakan haul, maulid nabi, tasyakuran, pertemuan penting, dan sebagainya yang sejatinya dapat membawa kemaslahatan, tetapi pada masa sekarang akan lebih banyak mudaratnya. Maka untuk mengantisipasi hal tersebut, tetap berusaha melaksanakan maslahat. Kita memiliki banyak alternatif, seperti mengadakannya melalui aplikasi rapat offline, siaran yang ditayangkan secara langsung, atau bisa juga tetap menyelenggarakannya dengan jumlah hadirin yang terbatas yang tidak melanggar protokol kesehatan.
Untuk menyikapi hal ini, tentunya peran organisasi keagamaan sangat penting. Organisasi keagamaan merupakan salah satu forum terbesar yang sering melaksanakan acara besar. Dengan patuhnya sebuah organisasi pada protokol kesehatan, tentunya khalayak juga akan terbawa atmosfer tersebut. Namun, jika suatu organisasi mengadakan acara yang membuka kemungkinan untuk didatangi oleh banyak orang, tentunya masyarakat juga akan berbondong-bondong mendatangi acara tersebut.
Hal-hal di atas menjadi pengingat bagi kita agar selalu menanamkan dalam diri sekaligus mengingatkan orang di sekitar kita akan bahayanya virus ini. Entah apa yang terjadi di luar sana, entah berita yang tersebar valid atau tidak, setidaknya kita harus menanamkan kepercayaan akan adanya virus ini agar menjadi bahan kekuatan kita untuk selalu menjalani hidup sehat dan melindungi keluarga dari berbagai virus dan penyakit. Hal ini juga menjadi pengingat bagi setiap organisasi keagamaan agar senantiasa memberikan pengaruh positif bagi masyarakat.
Editor: Senja Bagus Ananda
Alumnus MA Al-Tsaqafah Angkatan 5. Saat ini sedang menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir.

