Pada tanggal 6-8 Agustus 2019 bertempat di Kantor Litbang Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) diadakan pertemuan Guru-guru Korea (Selatan) setingkat SD, SMP dan SMA dengan guru-guru di Indonesia. Dari Indonesia hanya dipilih 20 Guru untuk mengikuti acara tersebut. Diantara beberapa guru yang mengikuti acara tersebut, Guru Sejarah dari MA Luhur Al-Tsaqafah terpilih untuk menjadi bagian dari kegiatan tersebut.
Pada acara tersebut guru Korea Selatan menceritakan awal mula kebangkitan Korea Selatan sebelum seperti sekarang ini. 50 tahun silam, seorang petinggi militer AS yang terlibat dalam Perang Korea (1952- ) menyebut dengan pesimis bahwa Korea Selatan baru akan bangkit–mungkin—100 tahun kemudian. Sebab ia melihat kondisi kemiskinan dan kemunduran ilmu pengetahuan disana. Namun tidak disangka, baru 50 tahun Korea Selatan sudah menjadi Negara paling maju di Asia bahkan menjadi Negara pengimpor teknologi paling ternama. Selain dibidang ekonomi dan teknologi, Korea Selatan kini dikenal sebagai pusat Kebudayaan populer karena berhasil menghipnotis jutaan remaja di dunia untuk meniru semua produk budaya korea dari lifestyle, musik, film hingga drama. Semua itu dikenal sebagai K-Pop, atau Korean Populer. Dalam kajian budaya disebut budaya populer.
Sebenarnya, Kebudayaan Korea lebih kaya daripada itu. Diakui sudah ada kebudayaan Korea sejak 5000 tahun yang lalu. Sebelumnya di Korea hanya dikenal aksara Cina yang diperkenalkan agama Budha. Namun ilmu pengetahuan Korea baru dimulai pada abad ke-15 saat Kaisar mereka menciptakan angka dan huruf sendiri yang berbeda dengan aksara Cina. Demi terciptanya proses saling mengenal antara guru Indonesia dan Korea, peserta diajarkan beberapa bahasa, benda dan lokasi kebudayaan Korea.
Selama tiga hari, Peserta yang notabennya adalah Guru di Indonesia diperkenalkan dengan pembelajaran Digital. Uniknya, para guru Korea tidak memperkenalkan rumus-rumus yang sulit, tetapi mengubahnya dengan memperkenalkan beberapa website permainan yang bisa dibentuk sendiri oleh para guru. Selain itu diperkenalkan beberapa robot yang bisa membuat para Guru membentuk sistem perintahnya sendiri. Seperti robot Albert yang mengutamakan fungsi sensorik, lalu robot line tracer dimana guru mempelajari membuat robot dari tahap dasar hingga menyusun komponennya sendiri. Terakhir para guru diajarkan menggunakan drone. Kemudian bagaimana drone dapat digunakan dalam pembelajaran di sekolah.
Coding, pemograman dan Pembelajaran Digital
Pada satu sesi Tanya jawab, seorang peserta menanyakan sejak kapan siswa Korea mendapatkan pembelajaran teknologi seperti dasar-dasar coding dan pemograman. Ternyata siswa di Korea sudah diperkenalkan cara berfikir coding dan pemograman sejak tingkat Sekolah Dasar atau Primary School. Hal ini tidak dimulai dengan menghafal rumus-rumus seperti dalam pelajaran TIK di Indonesia. Namun pemograman dan coding diajarkan secara menyenangkan melalui kegiatan-kegiatan disekolah.
Sebagai contoh, Pemerintah Korea memberikan subsidi agar siswa mendapatkan makan siang secara gratis. Siswa dianjurkan untuk memahami aktivitas yang berulang-ulang tersebut lalu diberikan tugas untuk ambil bagian menjadi petugas dapur umum (menyajikan makan siang). Kemudian mereka membuat konsep yang disebut Simple of control structures. Pada tahap ini siswa harus memahami garis besar dari aktivitas tersebut. Sebagai contoh, dalam aktivitas makan siang, siswa harus memahami tahapan yang harus dilakukan ketika aktivitas makan dimulai, proses dan hasil akhirnya. Ini hanyalah tahapan dalam gambaran besar.
Kemudian tahap selanjutnya adalah repetition atau pengulangan. Siswa diajarkan untuk memahami pengulangan-pengulangan yang seringkali muncul dalam aktivitas makan siang seperti memberikan piring, menyendoki makan hingga membereskan piring. Pengulangan ini harus menjadi konsep dasar dalam membuat program. Pada tahap akhir, siswa diajarkan untuk memahami untuk Selection structures yang terdiri dari if (jika), then (kemudian) dan Else (lainnya). Pada tahap ini siswa merangkum kemungkinan kegiatan yang mungkin, lalu memperkirakan apa perintah yang akan muncul kemudian (akibat) dan memberikan pilihan lain dari kegiatan tersebut.
Bila diperhatikan secara seksama, proses berfikir seperti ini adalah konsep dasar dari semua teknologi yang kita nikmati selama ini dari Telepon pintar, mobil, alat-alat otomatis, dan semua teknologi yang menguasai kehidupan kita sekarang. Maka wajar apabila Korea sudah menghasilkan teknologi yang amat dikenal di Indonesia seperti Mobil Hyundai dan Mobile Samsung.
Artificial Intelejent bagi Pondok Pesantren
Pada sesi akhir, Guru Korea memaparkan bahwa cara kerja pemograman sudah sedemikian canggih sehingga seakan-akan teknologi yang kita ciptakan bisa ‘berfikir sendiri’. Kesan seperti itu muncul karena kerumitan sistem perintah sudah sedemikian rumit dan canggih. Kini kita menyebutnya artificial intelejent (AI). Sebenarnya AI sudah memasuki kehidupan kita. AI yang kini selalu merekomendasikan kita jenis makanan, pilihan informasi hingga sekedar pemesanan kamar hotel. Hal itu tidak dikerjakan oleh manusia secara langsung. Mesin pencari digital dan sosial media sudah bekerja sendiri.
Tentu saja, diantara mata pelajaran lain, Pelajaran sejarah paling menantang untuk mulai menggunakan media digital dan pemograman. Dalam hal ini Sejarah hanya menjadi konten, bukan cara berfikir itu sendiri. Hal ini sangat baik diterapkan disekolah-sekolah di Indonesia. Generasi baru kita, para siswa lebih sering mencari jawaban instan melalui mesin pencari daripada pergi ke perpustakaan. Namun hal ini merupakan tantangan tambahan, terutama bagi Guru Sejarah yang mengajar di MA Luhur Al-Tsaqafah.
Pada pakemnya, santri yang belajar di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah tidak diijinkan untuk membawa gadget, laptop dan sejenisnya. Secara kasat mata hal ini bisa menjadi hambatan besar dalam pembelajaran Sejarah menggunakan teknologi digital. Namun Pengertian penggunaan teknlogi digital tidak selalu bahwa siswa harus difasilitasi teknologi digital secara personal atau individual. Model pembelajaran yang mungkin bisa dilakukan adalah menggunakan fasilitas lab Komputer di MA Al-Tsaqafah. Kelemahan akses seluas-luasnya bagi siswa dalam menggunakan internet dan teknologi digital adalah lemahnya batasan antara penggunaan konvensional dan penggunaan yang fokus pada pembelajaran.
Pembatasan teknologi digital di Pondok Pesantren justru menjadi peluang terciptanya sebuah Teknologi informasi dan komunikasi internal yang terkoneksi secara terbatas. Artinya siswa mendapatkan akses informasi yang terpadu dan terawasi. Sebenarnya hal ini hampir mirip yang dilakukan Pemerintah Cina ketika ingin mengembangkan dunia digital dan internetnya sendiri. Internet dirubah menjadi Intranet. Kini kita melihat bagaimana Cina secara mandiri memiliki perusahaan bidang teknologi informasi yang mendunia dan mandiri, justru karena mereka berhasil mengembangkan sendiri sosial media tandingan untuk masyarakatnya sendiri.
Pembelajaran Sejarah di Pondok Pesantren yang sangat jelas membatasi hubungan informasi dari luar secara langsung menjadi peluang diciptakannya sistem informasi terpadu bagi para santri di pondok pesantren. Bila mengaca pada sejarah facebook yang sekarang menjadi raksasa perusahaan sosial media didunia, sebenarnya Facebook pada awalnya diciptakan didalam sebuah sistem informasi tertutup bagi para mahasiswa di Harvard. Tentu tidak ada salahnya mengembangkan sistem informasi yang memacu para santri untuk memanfaatkan teknologi digital didalam Pondok Pesantren. Pertemuan dengan Guru-guru Korea tersebut membuka peluang para guru di Indonesia secara umum dan guru di Pondok Pesantren secara khusus untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan teknologi informasinya sendiri. Kita tidak harus menirunya, justru kita bisa menciptakan Simple of control Structures yang sesuai dan cocok bagi kebutuhan para santri dan sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.
Guru Sejarah di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Sarjana Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta. Kepala Bidang Advokasi Guru Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G)

