“Bunda, aku tidak mau sekolah lagi.”
Aku terdiam, tanpa tahu bahwa itu adalah permintaan terakhirnya. Banyak pertanyaan berkecamuk di kepala saat kata-kata itu keluar dari mulutnya. Apakah ada yang merundungnya? Apa beban hafalan di sekolah terlalu berat? Apa ada hal lain yang membuatnya tak nyaman?
Aku masih ingat senyumnya sore itu. Ia menatapku hangat, lalu memasukkan beberapa buku ke dalam tas sekolahnya. Tak lupa, botol minum kesayangannya ia selipkan di sisi kanan tas. Sudah tiga hari ia izin tidak sekolah karena flu. Namun, sore ini ia tampak lebih segar dan mengambil makanan di dapur tanpa kuminta.
Aku tak tahu bahwa hari itu … ia menyantap masakanku untuk terakhir kalinya.
Namanya Ara, putri kedua kami. Rajin, kalem, rendah hati, dan mudah bergaul.
Kalau ia pulang, rumah rasanya terang. Kalau ia tidur, rumah terasa damai.
Dan sekarang … di kamarnya ini, hanya sunyi yang menggema.
Hari itu, pukul 05.15 pagi, suara Ara tercekat, berusaha memanggil, “Ayah.” Tubuhnya kaku—kami menyebutnya kejang. Saat kupegang, suhu tubuhnya normal, tetapi badannya kaku. Mulutnya berusaha berbicara, memberi kami isyarat. Kami bergegas membawanya ke IGD rumah sakit terdekat, menitipkan Arun dan Airin yang masih tidur di kamar kepada tetangga kami.
Langit runtuh, bukan dalam suara guntur, melainkan dalam sunyi ruang IGD yang berbau obat dan deru mesin-mesin yang seolah berpacu dengan detak jantung seorang anak berusia delapan tahun. “Ya Allah, mohon berikan yang terbaik untuk anakku. Sungguh, aku tak sanggup melihatnya kesakitan.” Aku bahkan tak sadar bahwa yang terbaik menurut-Mu adalah membawanya pulang ke sisi-Mu.
Semua terjadi begitu cepat, seolah tak memberi kami jeda walau sejenak. Kini, ia sudah terbungkus kain kafan. Wajahnya damai, air mata mengalir dari sudut matanya.
Aku duduk di sebelahnya. Kakiku lemas. Tanganku menggenggam jemarinya yang masih hangat.
Aku terisak—bukan seperti di film-film, melainkan seperti seseorang yang sedang kehabisan oksigen dan tak punya alasan untuk bernapas lagi.
“Bunda, maafkan aku, ya ….” Suaranya masih jelas di ingatan. Kemarin sore, saat kutanya apakah ada yang suka mengganggunya di sekolah, seharusnya aku memeluknya, tanpa tahu bahwa itu adalah caranya berpamitan selamanya.
Ya Rabb, mengapa bukan aku saja yang Engkau panggil? Berharap doa-doaku bisa membelokkan takdir.
Aku belum berhenti menyalahkan diri sendiri. Setiap malam, aku duduk di ruang tamu, menatap kamarnya yang kosong. Hampa. Seolah kamar itu ikut menyimpan sisa napas terakhir anakku.
Aku tak kuat melihat anak-anak lain seusianya bermain dan bersekolah.
Suara mereka seperti hantaman palu di dadaku.
Setiap tawa anak-anak … membangkitkan luka yang baru saja kukubur.
Namun, hari demi hari, aku mulai menulis surat untuknya di sebuah buku harian kecil. Isinya doa-doa, permintaan maaf, dan cerita tentang makanan yang ia suka. Cerita tentang adik kecil kesayangannya yang sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik seperti dirinya. Juga kabar dari beberapa temannya yang bercerita bahwa mereka bertemu Ara dalam mimpi.
Aku belajar berdamai.
Dengan tatapan yang selalu kosong.
Dengan rindu yang tak dapat kuantar.
Dengan kamar kosong yang selalu bersih karena tak ada lagi tawa yang membuatnya berantakan.
Sesekali, aku mencoba naik motor sendiri. Menatap awan, menikmati udara yang menyapa wajah. Bukan untuk menikmati jalan, melainkan untuk merasa seolah ia masih kubonceng di belakang, bersandar di punggungku.
Dan sesekali … aku pura-pura mendengar suaranya.
“Bun, tahu tidak? Tadi di sekolah seru, lho, Bun ….”
Ternyata, rindu itu bukan soal jarak.
Terkadang, rindu adalah soal waktu yang tak akan pernah kembali.
“Anak-anak bukan milik kita. Mereka adalah titipan yang terkadang hanya singgah sebentar. Maka, jangan biarkan dunia merebutnya sebelum kita cukup memeluknya.”
Wali santri Arundaya Ihsan NS (kelas 8.1), ibu dari tiga anak—Arun, Ara, dan Airin—dan seorang wirausahawan rumahan.

