Al-Qur’an Langgam Sunda di Tanah Haram

ALTSAQAFAH.ID – Beberapa tahun yang lalu sempat terjadi kehebohan di negeri tercinta ini, Indonesia. Salah satunya dipicu dengan adanya pembacaan lafaz ayat suci Al-Qur’an dalam kegiatan Isra Mikraj di istana negara.  Ayat Al-Qur’an yang biasa didengar dari bacaan para reciter berbangsa Arab, saat itu berbeda, terdengar dengan cengkok Jawa yang sangat kuat.

Bisa jadi karena ada irisan dengan “sentimen politik” tertentu, isu ini jadi menggelinding dengan derasnya. Tak sedikit tulisan atau konten-konten di media sosial yang melakukan kritik keras, bahkan lebih dari itu sampai pada tudingan sesat. Kritik melebar tidak lagi didasarkan ilmu tajwid.

Mengutip dari salah satu podcast, sang reciter sendiri, yaitu Muhammad Yasser Arafat yang merupakan dosen Sosiologi Agama dari UIN Sunan Kalijaga, beliau menyatakan bahwa sebenarnya ini bukan kali pertama dilakukan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dengan cara seperti ini.  Beliau telah melakukan sebelumnya di istana wapres di acara silaturahmi penutupan Hifdzil Qur’an Asia Pasifik. Di acara tersebut hadir, di antaranya Imam masjid Nabawi, Menteri Agama Kerajaan Arab Saudi, dan para pangeran. Tidak ada sanggahan atau respons negatif dari para syekh yang hadir dan tidak pula ada kehebohan di mana-mana.

Pun beliau telah ditashih untuk koreksi mana yang benar mana yang salah atas bacaannya  terkait ilmu tajwid oleh seorang qari internasional.  Ini semata sebagai upaya agar bacaan tersebut tidak keluar dari koridor qiraat sesuai riwayat baca yang bersambung ke Rasulullah saw.

Selang sembilan tahun kemudian di 2024 ini, penulis mendapat panggilan menjadi duyuf ar-rahman ke tanah suci. Justru di Tanah Haram sendiri, penulis mendengar bacaan imam dengan cengkok yang sangat khas. Sebuah cengkok bacaan yang biasa terdengar di bumi Parahyangan.

Ya, di sebuah masjid yang berjarak cukup dekat atau sekitar 25 menit jalan kaki ke Masjid Al-Haram terdengar bacaan imam dengan langgam Sunda. Pada awalnya memang sempat ragu apakah ini khas langgam Afrika, Asia Tengah, atau beneran dari bumi pertiwi. Keraguan ini tidak lepas mengingat di masjid itu lebih dari setengah jumlah jemaah adalah saudara kita dari ras kulit hitam.  Dari beberapa identitas yang tertera, terlihat ada Senegal, Uganda, Mali, Kamerun, dan sebagainya.

Namun, penasaran ini terkonfirmasi setelah dalam satu kesempatan bisa mengobrol ringan dengan sang imam secara langsung sesaat setelah Magrib seusai tilawah menunggu masuk waktu Isya.

Beliau adalah Syekh Akhmad dari Cisoka, Banten. Lebih dari sepuluh tahun beliau menjadi salah satu imam di masjid ini. Dari pengamatan penulis, utamanya beliau menjadi imam saat Subuh atau Isya.

“Sehat?” dengan aksen  yang masih medhog beliau menyapa kami, bahkan selanjutnya  pembicaraan pun dilakukan secara campuran dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia.

Penulis pun sampaikan ke beliau bahwa di tempat yang cukup jauh ternyata bisa mendengar bacaan dengan irama Sunda yang sudah jarang lagi terdengar.

Selain langgam Sunda tadi, sedikit tentang masjid ini ternyata cukup unik. Tidak hanya adanya bacaan langgam Sunda di Tanah Haram, tetapi juga dari kombinasi petugas salat. Selain Syekh Ahmad yang “urang Sunda” ada lagi imam yang dari India, Arab, dan tentunya saudara Afrika, sedangkan muazin dari Rusia.

Sebagai penutup tulisan yang sederhana ini, kita baca lagi sedikit kutipan dari Imam Jazari:

والأخذ بالتجوبد ختم لازم # من لم يوجد القرأن اثم

Artinya: dan membaca dengan tajwid itu adalah wajib, barang siapa yang tidak bertajwid dalam membaca Al-Qur’an, maka berdosa.

Jadi, apa pun langgam yang dilantunkan selama tidak menyalahi kaidah atau aturan-aturan ilmu tajwid, hendaklah bisa kita terima dengan lapang dada. Seraya terus meningkatkan kemampuan pribadi pada ilmu baca Al-Qur’an kita melalui tahsin.

Wallahu a’lam bish-showab

(Wali Santri Nanang N Fauzi, Makkah Al-Mukarramah 14 Zulhijah 1445 H.)

gnanan.nf@gmail.com   Postingan Lainnya

Ayah dari dua santri Al-Tsaqafah