ALTSAQAFAH.ID – Di sebuah desa kecil bernama Desa Karangjati, berdiri sebuah pesantren tua yang telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Namanya Pondok Pesantren Al-Hidayah. Pesantren ini berada di pinggiran desa, dikelilingi hamparan sawah yang hijau di musim tanam, dan menguning keemasan di musim panen. Pohon-pohon jati yang tinggi menjulang tumbuh di sekitar pesantren, seolah menjadi penjaga setia tempat itu. Suara burung-burung gereja dan desir angin di dedaunan sering menjadi latar belakang alami bagi kehidupan di pesantren.
Kiai Hasyim, yang sudah memimpin pesantren itu selama lebih dari tiga dekade, tinggal di sebuah rumah sederhana di samping masjid utama pesantren. Rumah itu bercat putih, tetapi di beberapa tempat catnya mulai memudar, dindingnya sedikit retak, dan pintunya sudah berderik jika dibuka. Di ruang tamu rumah itu tergantung sebuah lukisan tua yang selalu menarik perhatian siapa saja yang berkunjung.
Lukisan itu tidak besar, hanya berukuran sekitar 50 x 70 cm. Namun, ada sesuatu yang istimewa dari lukisan tersebut, terutama karena kondisinya yang sudah tua dan berjamur di beberapa bagian. Lukisan itu menggambarkan seorang lelaki tua bersorban, berdiri di tengah padang rumput, dengan senyum lembut di wajahnya. Sosoknya tampak penuh wibawa dan ketenangan.
Santri-santri di pesantren itu sering membicarakan lukisan tersebut. Namun, Kiai Hasyim tidak pernah secara terbuka menjelaskan asal-usul lukisan itu sehingga semakin membuat para santri penasaran. Malik, salah satu santri senior di pesantren itu adalah yang paling penasaran. Sejak pertama kali datang ke pesantren tiga tahun lalu, dia selalu merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik lukisan tersebut.
Suatu malam, Malik bersama tiga sahabatnya, Hasan, Fatih, dan Ridwan, berkumpul di teras asrama setelah salat Isya. Angin malam berhembus sejuk dan langit malam bertabur bintang. Mereka duduk melingkar di atas tikar, membahas banyak hal.
“Kalian pernah nanya nggak ke Kiai soal lukisan itu? Aku penasaran sekali, siapa orang dalam lukisan itu,” kata Malik sambil memandang rumah sang Kiai yang berjarak beberapa meter dari asrama.
Hasan, yang berpostur tubuh kecil, tetapi cerdas dan kritis, mengangguk. “Aku pernah dengar desas-desus dari para senior. Katanya, itu lukisan gurunya Kiai Hasyim. Tapi nggak tahu juga benar apa nggak.”
Fatih, yang biasanya lebih pendiam, menimpali. “Aku pernah coba tanya, tapi Kiai cuma tersenyum dan bilang nanti akan ada waktunya. Aku rasa ada cerita besar di balik itu.”
Ridwan, yang dikenal sebagai santri humoris, tetapi cerdas dalam memahami ilmu agama, tertawa kecil. “Ah, mungkin itu hanya kenangan lama yang Kiai gak mau ungkap. Kita, anak muda ini, terlalu banyak kepo!”
Malik, meskipun sering kali ikut tertawa dengan candaan Ridwan, kali ini tetap serius. “Aku rasa bukan cuma kenangan, Ridwan. Lihat saja bagaimana Kiai menatap lukisan itu setiap kali beliau selesai mengaji. Ada makna dalam sorot matanya.”
Ketiga temannya terdiam sejenak. Mereka tahu Malik punya ketajaman dalam merasakan sesuatu yang tak biasa. Di pesantren ini, Malik dikenal tidak hanya pintar dalam ilmu agama, tetapi juga peka terhadap hal-hal yang lebih dalam.
Keesokan harinya, saat suasana pagi masih segar dan para santri baru selesai tadarus, Malik memberanikan diri untuk menemui Kiai Hasyim. Dengan penuh hormat, ia mengetuk pintu rumah sang Kiai. Pintu itu berderit pelan saat Kiai Hasyim membukanya. Wajah sang Kiai terlihat teduh meski kerutan di wajahnya semakin memperlihatkan usia tuanya.
“Assalamu’alaikum, Kiai,” sapa Malik.
“Wa’alaikumussalam, Malik. Masuklah, Nak,” jawab Kiai Hasyim ramah.
Malik melangkah masuk ke dalam rumah yang sederhana itu. Bau khas rumah tua yang menyimpan banyak kenangan langsung terasa. Malik duduk di atas tikar yang telah dihamparkan di ruang tamu. Di depannya, tergantung lukisan berjamur yang selama ini menjadi pertanyaan di benaknya.
“Kiai, maaf kalau aku mengganggu waktu panjenengan,” Malik memulai dengan hati-hati.
Kiai Hasyim duduk di depannya, tersenyum lembut. “Tidak mengapa, Nak. Ada yang ingin kamu bicarakan?”
Malik menghela napas sejenak. “Kiai, selama ini aku sering melihat lukisan itu dan aku merasa ada sesuatu yang mendalam di baliknya. Apakah Kiai bisa menceritakan siapa orang dalam lukisan itu?”
Kiai Hasyim diam sejenak, matanya mengarah pada lukisan tua itu. Ada kesedihan yang samar-samar tergambar di wajahnya, seolah mengingat sesuatu yang jauh dari masa lalu. Malik menunggu dengan sabar meskipun hatinya berdebar-debar menanti jawaban. Setelah beberapa saat, Kiai Hasyim memulai ceritanya.
“Nak Malik, orang yang ada di dalam lukisan ini adalah guruku, Kiai Zainuddin. Beliau adalah sosok yang paling berjasa dalam hidupku, terutama dalam membentuk pandanganku tentang kehidupan dan agama. Beliau bukan orang yang terkenal, tidak seperti kiai-kiai besar lainnya. Tapi ilmunya, akhlaknya, dan ketulusannya dalam menyebarkan kebaikan membuat beliau sangat istimewa.”
Kiai Hasyim menghela napas, seolah sedang menahan gejolak emosi yang muncul tiba-tiba. “Dulu, ketika aku masih muda, aku sering mengikuti beliau ke mana pun beliau pergi. Beliau selalu mengajarkan kami, murid-muridnya, untuk tidak hanya belajar ilmu agama, tapi juga menghayati maknanya dalam kehidupan sehari-hari. Beliau sangat sederhana dan tidak pernah mengejar pujian atau ketenaran. Suatu hari, ketika aku sedang berada di pesantren lain untuk mengaji, kabar mengejutkan datang. Kiai Zainuddin menghilang, tanpa jejak.”
Malik terkejut. “Menghilang, Kiai?”
“Ya,” jawab Kiai Hasyim sambil menundukkan kepalanya. “Beliau pergi begitu saja. Tidak ada pesan, tidak ada tanda-tanda. Hanya lukisan ini yang beliau tinggalkan untukku, bersama sebuah pesan singkat yang tertulis di belakangnya: ‘Jangan cari aku, teruskan perjuanganmu’.”
Malik merasa seolah dunia di sekitarnya menjadi hening. Ia tidak menyangka bahwa di balik lukisan berjamur itu ada cerita kehilangan yang begitu dalam. Mata Kiai Hasyim terlihat berkaca-kaca meskipun bibirnya tetap tersenyum.
“Aku sudah mencari beliau ke banyak tempat,” lanjut Kiai Hasyim. “Tapi tak pernah kutemukan jejaknya. Sampai akhirnya aku menerima kenyataan bahwa mungkin Allah telah menakdirkan beliau untuk pergi meninggalkan dunia ini dengan caranya sendiri. Sejak saat itu, aku menjaga pesantren ini, melanjutkan perjuangan beliau. Dan lukisan ini, meskipun kini berjamur, tetap menjadi pengingat bagiku akan ketulusan dan kebijaksanaan beliau.”
Malik terdiam, terhanyut dalam cerita itu. Kini ia mengerti mengapa Kiai Hasyim membiarkan lukisan itu berjamur. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena jamur itu sendiri adalah bagian dari perjalanan waktu, bagian dari kenangan yang tidak perlu diperbarui. Kiai Hasyim menerima bahwa segala sesuatu di dunia ini akan pudar, tetapi nilai-nilai kebaikan yang diajarkan oleh Kiai Zainuddin akan terus hidup dalam hatinya dan hati para santri.
Matahari mulai naik, cahayanya menembus jendela-jendela kecil di rumah Kiai Hasyim. Suara aktivitas santri di luar mulai terdengar, menandakan pagi yang sibuk di pesantren.
“Terima kasih, Kiai, atas ceritanya. Aku akan selalu mengingat pesan ini,” kata Malik sambil menundukkan kepala penuh hormat.
Kiai Hasyim tersenyum lembut. “Jangan lupa, Nak Malik, dalam hidup ini, yang paling penting bukanlah nama besar atau pujian. Yang terpenting adalah apa yang kita tinggalkan di hati orang-orang. Itulah yang akan abadi meskipun kita sendiri sudah lama tiada.”
Malik mengangguk penuh pemahaman. Ia bangkit dari tempat duduknya dan pamit. Saat melangkah keluar dari rumah Kiai Hasyim, pandangannya kembali tertuju pada lukisan tua itu. Kini, ia melihat lukisan itu bukan lagi sebagai benda berjamur yang usang, melainkan sebagai simbol ketulusan, perjuangan, dan keabadian nilai-nilai kebaikan.
Hari itu, langit Desa Karangjati cerah dan di hati Malik, cahaya kebenaran mulai bersinar lebih terang. Ia tahu bahwa hidup ini bukan tentang seberapa lama kita tinggal di dunia, tetapi tentang seberapa dalam jejak yang kita tinggalkan di hati orang lain.
Kepala Perpustakaan Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah

