Santri Post-Milenial dalam Pandangan Kiai Said

ALTSAQAFAH.ID – Era revolusi 4.0 merupakan babak baru dari perkembangan revolusi industri yang masyarakatnya dikategorikan sebagai generasi post-milenial, generasi yang beda satu strip di atas milenial. Generasi yang hidup dalam perkembangan informasi, komunikasi, dan teknologi, serta generasi yang dituntut untuk lebih cepat dalam merespons setiap perkembangan zaman. Era revolusi industri keempat ini ditandai dengan dimulainya proses digitalisasi, salah satunya terbentuknya artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Selain artificial intelligence, revolusi industri yang keempat ini juga ditandai dengan lahirnya internet of things (IoT), human machine interface (HMI), penggunaan robotik dan sensor. Perkembangan teknologi ini menandai bahwa kehidupan akan memasuki era baru, yaitu era virtual.

Baca juga: Al-Tsaqafah Gelar Upacara Hari Santri Nasional 2022

Di tengah perkembangan teknologi dan industri yang sangat pesat dan masif, dunia pesantren dan santrinya dituntut untuk bisa merespons setiap perkembangan yang telah ada dengan sebijak mungkin. Mengenai hal ini, Kiai Said menyampaikan lima prinsip dasar untuk menjadi santri yang berkualitas di tengah gempuran industri dan teknologi.

1. Akhlak al-Karimah

Nabi Muhammad saw merupakan sosok insan kamil secara penciptaannya, ia tampan, pintar, bijak, dan segala kesempurnaan lainnya melekat kepadanya. Namun, Allah memuji Nabi Muhammad bukan terhadap rupanya, fisiknya, ataupun kelebihan lainnya, melainkan akhlaknya, wa Innaka laala khuluqin adzim. Akhlak ini merupakan perangai, karakter, dan tindakan yang baik kepada sesama umat manusia, lintas suku, lintas ras, bahkan lintas agama. Oleh karena itu, untuk bergaul dengan siapa pun yang sangat diutamakan adalah akhlaknya, lebih baik bergaul dengan kawan yang nonmuslim berakhlak mulia daripada kawan muslim, tetapi tidak berakhlak. Hal ini seperti yang Rasulullah contohkan, ia lebih senang bergaul dengan teman yang muysrik, tetapi berakhlak, yaitu seperti Mut’im bin Addiy karena kejujuran dan sikap baiknya.

Selain itu, akhlak juga merupakan tolok ukur atas martabat bangsa, Kiai Said sering menyitir syiir dari Imam Syauqi Bik, wa Innama al-umamul al-akhlaku ma baqiyat, Fainhumu dzahabat akhlakuhum dzahabu, martabat sebuah bangsa itu tergantung dengan akhlak dan budayanya, jika budayanya rapuh, akhlaknya runtuh, hancurlah bangsa tersebut. Syiir yang disitir oleh Kiai Said ini merupakan pelajaran penting bagi seorang santri untuk selalu memperhatikan bagaimana dia bersikap dengan sesama santri, masyarakat, dan terhadap bangsanya. Salah satu contoh yang sangat nyata adalah kehancuran negeri Timur Tengah yang hancur lebur karena pertikaian saudara dan belum berakhir sampai sekarang, hal ini terjadi bukan karena mereka tidak memiliki agama, tetapi tepatnya karena mereka tidak memiliki karakter budi yang menyatukan semua elemen bangsa, yaitu akhlak al-karimah.

2. Al-Takaful Wa-Taahhul

Prinsip yang kedua, santri harus memiliki kesetiakawanan dan bersikap profesional, memiliki soft skill ataupun hard skill yang mumpuni, dan disertai dengan kepedulian atas sesama. Santri harus menjadi ilmuan yang profesional, dokter yang profesional, kiai yang profesional karena Al-Qur’an menyampaikan bahwa wa la taqfu ma laisa laka bihi ilm, inna al-sam’a wal bashara wal fuada kullu ulaika kana anhu masula, janganlah kamu ikut campur terhadap sesuatu yang belum kamu ketahui karena pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban.

Santri di tengah gempuran era globalisasi dan digitalisasi harus mampu menerima dan mempelajari setiap perkembangan dan kemajuan yang begitu menakjubkan, santri harus mempelajari sumbangsih artificial intelligence terhadap dunia pesantren, santri harus memanfaatkan sumbangsih internet of things, human machine interface (HMI) untuk membawa pesantren ke era yang baru, yaitu era virtual.

3. Al-Infitah

Prinsip selanjutnya adalah pemikiran yang terbuka (open minded), pemikiran untuk siap bekerja sama dengan siapa saja dan mempelajari apa saja demi kemajuan agama. Kunci sukses dalam bekerja sama adalah al-I’timad ala al-nafs, percaya diri untuk siap bekerja sama dengan siapa pun sekalipun dengan pejabat, birokrat, akademisi, budayawan, dan elemen bangsa lainnya.

Selain diartikan untuk siap bekerja sama, al-infitah juga diartikan siap untuk mempelajari apa saja karena menurut Imam Hasan al-Bashri, kebangkitan Islam akan terjadi bukan karena kekuasaan dan materi duniawi, melainkan karena ilmu pengetahuan. Kemajuan dalam berpikir, berbudaya, dan berilmu pengetahuan dibutuhkan untuk kemajuan umat Islam. Keberhasilan Islam untuk mencapai masa keemasannya (al-ashr al-nahdhah) adalah ketika umat Islam bergelut dan mengembangkan ilmu pengetahuan, seperti penerjemahan besar-besaran yang terjadi pada masa dinasti Abbasiyah. Pada masa itu, kita mengenal bahwa Barat masih tenggelam pada masa kegelapannya (al-ashr al-dhulam).

Pada masa keemasan ini kita mengenal nama-nama besar ilmuan Islam, seperti Syaikh Jabir al-Hayyan al-Azdi (pencipta ilmu matematika), Syaikh Abu Bakar al-Razi (penggagas ilmu kedokteran pertama), Abu Yusuf al-Khawarizmi (penemu angka latin), Imam Ahmad bin Majid (pembuat kompas/alat nafigasi pertama), dan Abdurrahman Ibnu Nafis (penemu ilmu tentang peredaran darah). Realitas yang mengagumkan ini merupakan tali pelecut santri untuk terus bersikap terbuka atas perkembangan ilmu pengetahuan.

4. Al-Ta’awun

Prinsip yang selanjutnya adalah saling membantu setiap orang yang membutuhkan bantuan atau membantu teman sejawat untuk saling berkembang lebih cepat dan menggapai sukses secara kuat. Santri dalam menghadapi era disrupsi ini harus membuat team work yang siap untuk bekerja sama dalam menyukseskan misi dakwahnya dengan tetap berselancar di era revolusi industri yang keempat ini.

5. Al-Masuliyyah

Prinsip yang terakhir yang harus dimiliki oleh santri adalah bertanggung jawab, santri yang memiliki jiwa kesatria adalah santri yang siap bertanggung jawab atas setiap perbuatan yang ia lakukan. Hal ini seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw ketika dibujuk, dirayu, dan diminta oleh orang Quraisy untuk mundur dari dakwahnya. Rasulullah saw menjawab rayuan tersebut dengan tegas, dengan sebuah pernyataan, “Demi Allah, jika saja matahari itu diletakkan di tangan kananku dan rembulan diletakkan di tangan kiriku agar aku meninggalkan agama ini, tidak akan aku lakukan.” Oleh karena itu, santri harus berani bertanggung jawab dalam memperjuangkan setiap prinsip dan cita-cita besarnya. Harus bertanggung jawab dengan segala yang telah dilakukan sekalipun risikonya sangat besar, seperti Nabi Muhammad saw.
Oleh karena itu, untuk menjadi santri yang berkualitas di tengah revolusi industri dan di era disrupsi ini, santri harus memiliki lima prinsip dasar, yaitu akhlak al-karimah, al-takaful wa taahul, al-taawun, al-infitah, dan al-masuliyah.

neizerdakhil@gmail.com   Postingan Lainnya

Guru Nahwu dan Iqtishad di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah