ALTSAQAFAH.ID – Setelah mendengar salah satu ceramah Prof.Dr. K.H. Said Aqil Siroj (Buya Said) tentang kitab Jaa Zaidun, penulis langsung berselancar mencari kitab tersebut. Dengan menggunakan “Mbah Google” ditemukanlah kitab tersebut dengan nama Risalah Muta`alaqah bi Jaa Zaidun (رسالة متعلقة بجاء زيد) yang ditulis oleh Syekh Ahmad Zaeni Dahlan.
Berbicara tentang Syekh Ahmad Zaeni Dahlan, para santri akan terlintas dengan sebuah kitab fenomenal yang berjudul Mukhtasor Jiddan (مختصر جدا). Salah satu kitab yang wajib bagi para santri pemula untuk mempelajari ilmu nahwu. Mukhtasor Jiddan adalah syarah ringkas dari kitab Al-Jurumiah. Namanya juga Mukhtasor Jiddan kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yaitu ringkasan yang ringkas sekali sehingga perlu studi lagi ke tingkatan level kitab selanjutnya.
Sebenarnya banyak sekali karangan Syekh Ahmad Zaeni Dahlan, di antaranya kitab yang berhubungan dengan ilmu matematika khususnya materi aljabar. Nama kitabnya adalah Risalah fi `Ilmi al-Jabr wa al-Muqbalah (رسالة في علم الجبر و المقابلة). Kitab ini dikenalkan kepada penulis oleh Kepala Madrasah Aliyah Al-Tsaqafah, yaitu K.H. Idris Sholeh, Lc. Beliau menyuruh penulis untuk menggantikannya mengajar kitab tersebut. Biarpun kitab pokok yang dikaji adalah Arjuzah Ibnu Yasamin Filjabar wal Muqobalah, hal ini membuktikan bahwa Syekh Ahmad Zaini Dahlan selain terkenal alim dalam ilmu pengetahuan agama, beliau juga alim dalam keilmuan umum.
Kembali ke kitab Jaa Zaidun. Setelah penulis baca, ternyata kitab ini bertujuan agar pembaca bisa mengulang kembali atau mengingat objek permasalahan dan istilah-istilah yang ada di tujuh disiplin ilmu. Adapun ketujuh disiplin ilmu tersebut adalah nahwu, shorof, tajwid, balaghoh, mantiq, `arudh, dan maqulat.
Selanjutnya, mari kita preteli Jaa Zaidun berdasarkan ketujuh disiplin ilmu tersebut menurut Syekh Ahmad Zaeni Dahlan. Biar tidak terlalu panjang, penulis hanya akan membahas sepintas lafaz jaa (جاء) saja. Adapun untuk yang lebih lengkap, silakan baca kitabnya masing-masing.
Pertama, Berdasarkan Ilmu Nahwu
Pengarang kitab memulai membahas lafaz jaa (جاء) dari segi i`rob. Pada pembahasan i`rob jaa (جاء) tidak ada yang beda, namanya juga murajaah.
Lafaz jaa (جاء) adalah fiil Madli mabni fathah yang i`rob-nya tidak mempunyai mahal.
( فعل ماض مبني على فتحة لا محل له من الاعراب)
Kedua, Berdasarkan Ilmu Shorof
Setelah diketahui bahwa lafaz jaa (جاء) adalah fill madli, lantas apa istilah lafaz jaa (جاء) dalam ilmu shorof?
Dalam penjelasannya, lagi-lagi Syekh Ahmad Zaeni menjelaskan secara standar karena memang murajaah. Dalam istilah ilmu shorof, lafaz jaa (جاء) disebut fiil Ajwaf atau dzu tsalatsah karena mu`tal `ain, huruf `ilat terdapat di tengah kata.
Akan tetapi, ada yang menarik ketika pengarang kitab membuat sebuah pertanyaan:
Apakah jaa (جاء) adalah fiil lazim atau mut`aadi? ( هل هذا الفعل أعني جاء لازم أو متعد)
Sempat terpikir di benak penulis bahwa lafaz jaa adalah fiil lazim, tetapi ternyata salah. Syekh Ahmad Zaeni Dahlan menjelaskan bahwa lafaz dalam jaa terdapat fi`il dan maf’ul, bahkan maf’ul-nya bisa dinashabkan dengan sendiri atau tanpa bantuan huruf jar. Bahkan, dalil yang beliau sodorkan, yaitu potongan surat Al-Munafiqun ayat 1:
اذا جاء ك المنافقون
Pernah teman penulis bertanya, “Bagaimana dengan ayat اذاجاء نصر الله والفتح yang pada ayat ini tidak ada maf’ul-nya?
Penulis langsung berselancar ke kitab I`robul al-Qur’an Li Darwisy. Dalam kitab itu disebutkan bahwa maf`ul-nya dibuang (ومفعوله محذوف أي إياك و المؤمنين).
Ketiga, Berdasarkan Ilmu Tajwid
Dalam bidang ilmu tajwid, Syekh Ahmad Zaini Dahlan memulainya dengan sebuah pertanyaan, “Mad apa yang terdapat dalam kata jaa? ( ما هذا المد الموجود في قولك جاء)
Untuk jawabannya, pasti para pembaca sudah mafhum bahwa mad pada lafaz jaa disebut mad wajib muttashil. Kemudian, Syekh Ahmad Zaeni Dahlan membahas tentang pembagian mad menurut para ulama tajwid ada dua macam, yaitu mad thabi`i dan mad ghair thabi`i.
Lantas bagaimana kedudukan lafaz jaa di mata ilmu balaghah, mantiq,`arudh, dan maqulat?
Guru Matematika dan Al-Jabr Wa Al-Muqabalah PPL Al-Tsaqafah (Periode 2013-2020 dan 2022-2024)

