Macam-Macam Najis dan Cara Menyucikannya

ALTSAQAFAH.ID – Secara bahasa, najis berarti segala sesuatu yang dianggap kotor meskipun suci. Apabila berdasarkan arti harfiah ini, apa pun yang dianggap kotor masuk dalam kategori barang najis, seperti ingus, air ludah, air sperma, dan lain sebagainya.

Secara istilah ilmu fikih, najis adalah segala sesuatu yang dianggap kotor yang menjadikan ibadah salat tidak sah.

Melihat tingkatan berat dan ringannya, najis dibagi menjadi tiga macam, yaitu najis mughallazhah (najis berat), najis mutawassithah (najis sedang), dan najis mukhaffafah (najis ringan).

1. Najis Mughallazhah

Najis mughallazhah adalah najis berat. Yang masuk pada najis jenis ini adalah anjing, babi, dan binatang yang lahir dari keduanya (perkawinan silang antara anjing dan babi), atau keturunan silang dengan hewan lain yang suci.

2. Najis Mutawassithah

Najis mutawassithah adalah najis tingkat sedang. Najis jenis ini kurang lebih ada 15 macam:

  1. Setiap benda cair yang memabukkan (arak atau minuman keras).
  2. Air kencing selain kencing bayi laki-laki di bawah dua tahun yang belum makan apa-apa selain air susu ibu.
  3. Madzi, yaitu cairan berwarna putih agak pekat yang keluar dari kemaluan.  Cairan madzi biasanya keluar ketika syahwat sebelum memuncak (ejakulasi).
  4. Wadi, yaitu cairan putih, keruh, dan kental yang keluar dari kemaluan. Wadi biasanya keluar setelah kencing ketika ditahan atau di saat membawa benda berat.
  5. Tinja atau kotoran manusia.
  6. Kotoran hewan, baik yang bisa dimakan dagingnya atau tidak.
  7. Air luka yang berubah baunya.
  8. Nanah, baik kental atau cair.
  9. Darah, baik darah manusia atau lainnya, selain hati dan limpa.
  10. Air empedu.
  11. Muntahan, yakni benda yang keluar dari perut ketika muntah.
  12. Kunyahan hewan yang dikeluarkan dari perutnya.
  13. Air susu hewan yang tidak bisa dimakan dagingnya. Sedangkan air susu manusia dihukumi suci, kecuali jika keluar dari anak perempuan yang belum mencapai umur balig (9 tahun), maka dihukumi najis.
  14. Semua bagian tubuh dari bangkai, kecuali bangkai belalang, ikan, dan jenazah manusia. Yang dimaksud bangkai dalam istilah fikih adalah hewan yang mati tanpa melalui sembelihan secara syara’ seperti mati sendiri, terjepit, ditabrak kendaraan, atau lainnya.
  15. Organ hewan yang dipotong/terpotong ketika masih hidup (kecuali bulu atau rambut hewan yang boleh dimakan dagingnya).

3. Najis Mukhaffafah

Najis mukhaffafah adalah najis yang ringan. Yang masuk dalam kategori mukhaffafah hanyalah kencing bayi laki-laki yang belum makan apa-apa selain air susu ibu (ASI) dan umurnya belum mencapai dua tahun. Adapun kencing bayi perempuan tidak masuk dalam kategori mukhaffafah, melainkan mutawassithah.

Apabila melihat wujud dan tidaknya, najis terbagi menjadi dua, yaitu najis ‘ainiyyah (najis yang memiliki warna, bau, dan rasa) dan najis hukmiyyah (najis yang tidak memiliki warna, bau, dan rasa). Dengan kata lain, najis ‘ainiyyah adalah najis yang masih ada wujudnya, sedangkan najis hukmiyyah adalah najis yang sudah tidak ada wujudnya, tetapi secara hukum masih dihukumi najis.

Langkah-Langkah sebelum Memulai Menyucikan Barang yang Terkena Najis

  1. Dalam menghilangkan atau menyucikan najis, hal pertama yang harus diperhatikan adalah menentukan jenis najisnya, apakah berupa najis mughallazhah, najis mutawassithah, ataukah najis mukhaffafah.
  2. Apabila sudah diketahui jenis najisnya, lihat juga najis tersebut, apakah ada wujudnya/bentuknya, ataukah tidak ada wujudnya/bentuknya.
  3. Apabila sudah diidentifikasi/diketahui semua, kita bisa memulai menghilangkan atau menyucikan barang atau benda yang terkena najis.
  4. Pastikan air yang digunakan untuk menyiram atau menyucikan tersebut adalah air mutlak atau air suci yang menyucikan.
  5. Semua najis yang ada wujudnya atau bentuknya (najis ‘ainiyyah), baik itu najis mughallazhah, mutawassithah, atau mukhaffafah, harus dihilangkan terlebih dahulu bentuk fisik najis tersebut.
  6. Setelah bentuk atau wujud najisnya hilang (baik warna, bau, dan rasanya), benda atau barang tersebut masih dihukumi najis atau najis hukmiyyah.
  7. Kemudian, sucikan barang atau benda yang terkena najis tersebut (setelah menjadi najis hukmiyyah) dengan air yang suci dan menyucikan sesuai dengan tingkatan najisnya (mughallazhah, mutawassithah, mukhaffafah)

Cara Menghilangkan/ Menyucikan Barang/ Benda/ Lantai yang Terkena Najis

1. Najis Mughallazhah

Langkah-langkah menyucikan najis mughallazhah adalah:

  1. Hilangkan terlebih dahulu bentuk atau wujud najisnya dengan benda apa pun yang bisa menghilangkan wujud atau bentuk najisnya, seperti tisu, kertas, serabut kelapa, dan lain-lain.
  2. Jika sudah tidak ada bentuk atau wujudnya, statusnya berubah menjadi najis hukmiyyah dan masih dihukumi najis meskipun sudah tidak ada wujudnya.
  3. Setelah kering, siram atau basuh benda yang terkena najis mughalazhah yang sudah dihilangkan wujudnya tersebut dengan air sebanyak tujuh kali, yang salah satu basuhannya dicampur dengan debu yang suci. Bisa pula dengan lumpur atau pasir yang mengandung debu.
  4. Campuran debu bisa diletakkan dalam basuhan yang mana saja, tetapi yang lebih utama pada saat basuhan pertama.
  5. Jika air yang digunakan adalah air keruh dengan debu, semisal air banjir, maka sudah dianggap cukup tanpa harus mencampurnya dengan debu.

2. Najis Mutawassithah

Langkah-langkah menyucikan najis mutawassithah adalah:

  1. Hilangkan terlebih dahulu bentuk atau wujud najisnya dengan tisu, kertas, serabut kelapa, atau lainnya.
  2. Setelah wujud najisnya sudah tidak ada (berubah menjadi najis hukmiyyah) dan mengering, siram atau basuh benda atau tempat tersebut dengan air sampai merata ke semua bagian yang terkena najis.

3. Najis Mukhaffafah

Cara menyucikan najis mukhaffafah adalah:

  1. Hilangkan dahulu wujud atau bentuk najisnya dengan tisu, kertas, kain lap, serabut kelapa, dan lain-lain.
  2. Setelah tidak ada bentuknya dan sudah kering, percikkan air pada tempat yang terkena najis meskipun tidak mengalir.

Cara Mencuci Pakaian yang Terkena Najis

  1. Jangan memasukkan pakaian yang najis ke dalam ember yang berisi air atau ke mesin cuci dahulu. Akan tetapi, hilangkan dahulu wujud najisnya apabila ada, lalu bilas pakaian yang terkena najis dengan air yang mengalir (air keran atau air bak mandi dengan gayung), sesuai jenis najisnya (pakaian yang terkena najis mughallazhah tentu beda membilasnya dengan pakaian yang terkena najis mukhaffafah).
  2. Setelah dibilas, cuci seperti biasa (baik dengan mesin cuci atau manual/dengan tangan).
  3. Setelah dicuci, bilas lagi untuk antisipasi apabila ada percikan najis yang mengenai pakaian selama proses mencuci.

 

 

Daftar Pustaka
Hasan bin Ahmad bin Muhammad Al-Kâf. 2004. Al-Taqrîrât Al-Sadîdah fî Al-Masâ’il Al-Sadîdah. Surabaya: Dâr Al-‘Ulûm Al-Islâmiyyah.
Tim Penyusun Buku Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien. 2004. Buku Panduan Praktek Ubudiyah. Kediri: MHM.

tashviee@gmail.com   Postingan Lainnya

Guru Fiqh dan Tajwid Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah