Tafsir Entitas dalam Film Mission Impossible

ALTSAQAFAH.ID – Ada hal yang menggelitik di benak saya setelah menonton sebuah film barat yang berjudul “Mission: Impossible – Dead Reckoning Part One”. Film yang diperankan oleh Tom Cruise yang berperan sebagai Ethan Hunt, menceritakan sebuah misi yang sangat berbahaya, yaitu melacak sebuah senjata jenis baru yang dapat mengancam kelangsungan umat manusia sebelum jatuh ke tangan yang salah. Dengan kendali terhadap masa depan dan nasib dunia sebagai taruhannya, Ethan dipaksa untuk menjadikan misi ini sebagai prioritas terpenting, bahkan lebih penting dari nyawa orang-orang terdekatnya.

Nah, bagian menariknya adalah senjata yang diperebutkan merupakan sebuah kunci untuk mengendalikan atau menghancurkan sebuah entitas yang digambarkan seperti AI atau kecerdasan buatan. Pemeran antagonis dalam film itu mencoba untuk mengendalikan entitas agar dapat mengendalikan dunia karena mampu mengendalikan segala sesuatu yang berbasis teknologi, bahkan mampu meretas semua alat komunikasi yang kita gunakan saat ini.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), entitas bermakna satuan yang berwujud atau maujud. Abuya K.H. Said Aqil Siroj pernah mengatakan, “Kita ini sebenarnya tidak ada, tapi kita ini diadakan oleh yang ada. Yang ada sebelum lafaz ada itu ada sudah ada, bahkan kita menggunakan lafaz ada karena ada yang ada atau kita menggunakan lafaz tidak ada karena ada yang ada. Maka yang ada hanyalah yang ada.”

Dalam perkataan Abuya di atas, bisa kita simpulkan bahwa ada sebuah entitas atau keberadaan yang absolut, mampu mengendalikan segala sesuatu, dan bisa dibilang awal perwujudan yang ada atau sebenarnya memang hanya Dia sendirilah yang ada. Umat beragama meyakini itu adalah Tuhan. Namun, orang-orang barat ingin menciptakan sebuah entitas sediri dan mengendalikannya sebagai alat untuk menguasai dunia. Itu berarti secara tidak langsung mereka ingin menciptakan Tuhan kalau kita memaknai entitas itu Tuhan atau Tuhan adalah entitas.

Jika demikian, orang barat jauh lebih mengerikan ketimbang Fir’aun karena Fir’aun membuat piramida menjulang tinggi hanya untuk melihat Tuhannya Nabi Musa. Ketika ia berada di puncaknya, Fir’aun tidak melihat Tuhan yang disembah Nabi Musa, maka ia mengaku dirinya sebagai Tuhan. Namun, mereka ingin menciptakan sebuah entitas yang mampu mengendalikan dunia. Hal ini berbeda dengan berhala atau benda-benda lainnya yang dituhankan sebab berhala-berhala itu dahulu hanya sebatas untuk peribadatan.

Teknologi awalnya dibuat untuk mempermudah kinerja manusia, sekarang menjadi entitas tersendiri yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Lantas sebenarnya kita yang mengatur teknologi sebagai alat atau justru kita yang diprogram sebagai sistem untuk menjalankannya? Sering kali manusia berasumsi dapat mengendalikan serta mengambil semuanya dan semaunya, padahal manusialah yang dikendalikan dan tidak ada yang diambil, kecuali sedikit. Wallahua’lam.

farhansyahkhumaedi98@gmail.com   Postingan Lainnya

Alumnus Al-Tsaqafah 2016, Guru Bahasa Arab dan Hadis MTs Al-Tsaqafah