—Juara Harapan II Sayembara Cerpen altsaqafah.id 2026
Belakangan ini, Sari merasa gelisah. Setiap kali ia mengajak Hasan, suaminya, berbicara, Hasan selalu merespons dengan cuek—tidak seperti biasanya. Sari berpikir bahwa Hasan marah kepadanya karena suatu hal yang tidak ia sadari.
Hasan yang biasanya sangat ceria, sekarang seolah kehilangan tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Pada akhirnya, Sari hanya bisa bercerita kepada Zoya, anaknya, tentang keadaan sang suami.
Zoya, anak bungsu Sari yang masih tinggal bersama orang tuanya, menyarankan ibunya untuk meminta maaf kepada Hasan, baik atas kesalahan yang disengaja maupun tidak.
Setelah diingat-ingat, Sari merasa tidak pernah melakukan kesalahan besar. Namun, tiga hari yang lalu ia memang melakukan kecerobohan sepele: lupa menaruh kacamata suaminya. Padahal, saat itu Hasan ingin membaca proposal Maulid Nabi yang diberikan oleh Heru, seorang panitia acara.
Setelah empat hari berlalu, Sari akhirnya memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada Hasan soal sikap suramnya selama empat hari terakhir. Sudah berpuluh tahun mereka hidup bersama, dan Hasan adalah tipe orang yang selalu terbuka tentang apa saja. Jangankan masalah serius, persoalan remeh pun pasti diceritakan tanpa diminta. Namun, kali ini berbeda; Hasan membisu.
“Belakangan ini kamu kenapa, Mas?” tanya Sari.
“Kamu ingat waktu Heru datang ke sini untuk mengantarkan proposal Maulid Nabi?” Hasan balik bertanya dengan raut serius. Sari sempat panik mendengar respons itu.
“Ingat. Apa proposalnya ada masalah?” Sari mencoba menyelidiki.
“Tidak. Proposalnya tidak ada masalah, tapi tenda yang akan digunakan untuk acara Maulid Nabi yang bermasalah,” jawab Hasan dengan nada amat serius.
“Jadi, bukan gara-gara kacamata kamu yang hilang empat hari lalu?”
“Bukan. Ini karena Heru teledor.” Sari semakin bingung dengan jawaban Hasan.
“Memangnya Heru kenapa?”
Hasan kemudian menjelaskan permasalahan yang terjadi. Heru ditugaskan untuk membuat proposal perayaan Maulid Nabi yang akan diadakan di halaman depan masjid. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menggalang dana bagi warga berpunya agar mereka dapat berpartisipasi.
Sebenarnya, keuangan masjid sudah lebih dari cukup untuk acara rutin tahunan itu, tetapi Hasan tidak ingin memonopoli kebaikan.
“Agar semua yang menyumbang untuk acara Maulid Nabi ini mendapat syafaat dan berkah dari Kanjeng Nabi,” begitu ucap Hasan kepada Heru saat itu.
Tanpa menunggu lama, proposal itu selesai dibuat oleh Heru. Masalah baru muncul ketika proposal tersebut sudah tersebar luas. Lucas, perwakilan gereja yang letaknya tidak jauh dari masjid, tiba-tiba datang menemui Hasan.
Ternyata, satu bundel proposal itu telanjur sampai ke tangan pihak gereja. Lucas datang untuk menawarkan bantuan meminjamkan sebagian properti gereja untuk dipakai saat acara maulidan nanti—sebuah gestur yang belum pernah terjadi selama bertahun-tahun mereka hidup berdampingan.
“Pak Hasan, kalau acara ini membutuhkan tenda, kursi, meja, dan peralatan makan, kami bersedia meminjamkan. Kebetulan barang-barang itu tidak dipakai untuk kebaktian selain hari Minggu,” seru Lucas dengan sopan.
Hasan tercekat. Yang berkecamuk di kepalanya hanya satu: bagaimana bisa proposal itu menyasar ke gereja? Ini adalah acara untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad, nabinya umat Islam. Jika mereka menggunakan tenda dari gereja, ia khawatir masyarakat akan salah paham dan memicu gunjingan. Terlebih lagi, ada tanda salib berukuran cukup besar yang tertera pada kain tenda tersebut.
Tawaran Lucas tidak langsung diterima karena Hasan harus bermusyawarah terlebih dahulu dengan seluruh panitia maulidan; keputusan pastinya baru akan disampaikan setelah rapat selesai.
Lucas memaklumi, meski ia menyimpan harapan besar agar tawarannya diterima. Hasan didera kebingungan; jika ia menerima tawaran itu, ia takut nama baik masjid tercoreng. Salah memutuskan sedikit saja, semuanya bisa kacau.
Hasan menyesal karena saat kacamatanya hilang tempo hari, ia tidak sempat memeriksa sendiri isi proposal itu. Ia terlalu memercayai Heru hingga langsung membubuhkan tanda tangan begitu saja. Ia juga menyalahkan kecerobohan Heru yang mendistribusikan proposal ke gereja tanpa persetujuan tertulis darinya.
Hasan bahkan sempat menaruh curiga jangan-jangan ada kalimat mengancam atau keliru di dalam proposal buatan Heru sehingga pihak gereja sampai menawarkan tenda.
Untuk menepis kekhawatiran, Hasan menyuruh Heru membacakan ulang seluruh isi proposal di hadapannya. Namun, setelah diteliti, isinya sudah sesuai dan tidak ada yang janggal.
“Lalu kenapa proposal itu bisa sampai di tangan gereja?” tanya Hasan. Heru sendiri tidak tahu-menahu dan hanya bisa menggelengkan kepala pasrah.
Seluruh panitia pun dikumpulkan secara mendadak malam itu. Ruang rapat sempat diwarnai kasak-kusuk kekecewaan karena tidak ada jadwal pertemuan sebelumnya.
“Siapa yang memberikan proposal Maulid Nabi ini ke gereja?” Rapat dibuka oleh Hasan dengan pertanyaan lugas yang langsung menyengat ruangan. Wajahnya mengeras menahan amarah, membuat seisi ruangan bungkam.
“Pak Lucas bilang dia menerima proposal itu dari kita. Padahal, pihak gereja berniat baik meminjamkan tenda agar jemaah maulidan tidak kepanasan, bahkan mereka juga menawarkan panggung, meja, dan kursi gereja yang biasa dipakai untuk kebaktian kepada kita,” jelas Hasan.
Kemarahan Hasan dipicu oleh proposal Maulid Nabi yang nyasar ke gereja. Masalah menjadi kian pelik karena jika bantuan gereja diterima, semua perlengkapan itu membawa identitas keagamaan yang sangat jelas.
Heru yang ikut emosi bahkan mengancam akan membubarkan kepanitiaan jika tidak ada yang mengaku, namun semua panitia tetap bersikeras tidak tahu-menahu.
“Mungkin saja salah satu proposal yang berada di tangan warga tidak sengaja sampai ke tangan gereja, tetapi Pak Lucas mengira itu langsung dari panitia,” Zoya mencoba melontarkan kemungkinan lain.
Hari pelaksanaan makin mepet, dan Hasan didesak untuk segera memberi jawaban pasti kepada Lucas. Ustaz kondang yang diundang dari televisi memiliki jadwal yang sangat padat dan sudah mengonfirmasi tanggal tersebut.
Jika jadwal diubah mendadak, seluruh rangkaian acara akan berantakan. Keputusan bulat harus diambil malam itu juga.
“Agar tidak timbul salah paham di kalangan warga, saya memutuskan untuk menolak tawaran dan bantuan dari gereja,” ucap Hasan tegas.
Meski beberapa panitia, termasuk Zoya, cenderung ingin menerima bantuan demi kelancaran acara, keputusan akhir Hasan sudah bulat: gereja tidak boleh terlibat. Tanpa menunda waktu, Heru langsung menyampaikan penolakan itu kepada Lucas.
“Tidak apa-apa, saya sangat mengerti. Nanti kalau ada situasi mendesak atau sedang butuh sesuatu, bilang saja kepada kami. Jika kami sanggup, pasti akan kami bantu,” kata Lucas tulus. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.
“Alhamdulillah, semua kebutuhan acara sudah aman, Pak Lucas. Mohon doanya saja agar acara berjalan dengan lancar.”
“Tanpa diminta pun, pasti saya doakan,” jawab Lucas hangat sambil tersenyum.
Ketika Lucas sedang mengantarkan Heru menuju sepeda motor di halaman gereja, ia mengutarakan keinginannya untuk hadir secara langsung di acara Maulid Nabi nanti. Hal itu membuat Heru terkejut, dan ia hanya berjanji akan mengonsultasikannya terlebih dahulu kepada Hasan.
“Wah, tidak bisa!” Hasan menolak keras ketika Heru menyampaikan pesan tersebut. “Dia itu non-Muslim, sementara Maulid Nabi ini acara umat Islam. Nabinya saja beda, Tuhannya juga beda. Tidak bisa.”
“Kalau orang berniat datang sebagai tamu, biarkan saja, Pak. Tidak usah dilarang-larang,” seru Zoya yang tiba-kira muncul sambil membawakan segelas teh untuk Hasan dan Heru. Hasan terdiam. Ia memilih bungkam karena enggan berdebat panjang dengan putrinya sendiri.
“Jadi bagaimana, Pak?” tanya Heru memastikan.
“Ya sudah, kalau memang Pak Lucas dan teman-temannya sangat ingin datang ke acara Maulid Nabi, biarkan saja. Tapi kita tidak usah mengundang mereka secara resmi,” ucap Hasan mengalah.
Dua hari menjelang acara, sebuah kabar buruk mengguncang kepanitiaan. Mobil yang mengangkut tenda pesanan masjid mengalami kecelakaan parah; seluruh besi penyangga dan kain terpalnya hancur total. Heru langsung menginstruksikan panitia perlengkapan untuk mencari vendor pengganti. Namun, hingga H-1 acara, mereka belum berhasil mendapatkan tenda karena pemesanan yang terlalu mendadak.
Hasan didera pusing hebat. Acara dilangsungkan siang hari di bawah terik matahari; tanpa tenda di halaman masjid, jemaah pasti akan kepanasan. Heru mengusulkan agar acara dipindahkan ke dalam bangunan masjid, tetapi kapasitas ruangan jelas tidak akan muat menampung jemaah yang membeludak, apalagi penceramahnya adalah ustaz kondang televisi.
Hingga menjelang Subuh, jalan buntu belum terpecahkan padahal acara tinggal hitungan jam saja. Dalam keputusasaan itu, Hasan mendadak teringat pada tawaran tenda dari Lucas.
“Walaupun kainnya ada tanda salib, tenda itu sendiri tidak salah, Pak,” ujar Zoya menguatkan. Hasan bimbang. Sari pun ikut meyakinkan suaminya.
“Tapi aku khawatir nama baikku akan hancur dan warga salah paham jika kita melakukan itu,” jawab Hasan cemas.
“Tidak usah terlalu memikirkan omongan orang, Pak. Mereka kan tidak tahu daruratnya masalah kita. Niat Bapak murni untuk membuat jemaah nyaman dan tidak kepanasan saat merayakan Maulid Nabi,” bujuk Zoya.
Karena benar-benar terdesak, Hasan akhirnya mengalah dan menyuruh Heru segera mendatangi gereja. Lucas sempat terkejut karena dibangunkan begitu pagi, namun dengan penuh suka cita, ia bahkan turun tangan langsung membantu memasang tenda bersalib itu di halaman depan masjid.
Acara perayaan Maulid Nabi pun dimulai. Jemaah mengalir memadati halaman masjid yang kini dinaungi terpal kokoh pinjaman gereja. Sebelum ustaz kondang memulai tausiahnya, Hasan memimpin jemaah untuk bersama-sama melantunkan riwayat kehidupan Nabi Muhammad saw. dari kitab Al-Barzanji.
Saat momen mahalul qiyam tiba dan seluruh jemaah berdiri tegak melantunkan selawat nabi, sebuah kehebohan pecah. Lucas yang duduk tenang di barisan belakang tiba-tiba meraung keras sebelum akhirnya jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Ruangan seketika gaduh; jemaah dengan sigap membopong Lucas untuk diselamatkan. Tidak ada yang tahu pasti apa yang bergejolak di dalam batin Lucas saat itu, termasuk Hasan sendiri.
“Jangan-jangan Pak Lucas melihat Kanjeng Nabi saw. hadir secara rohani waktu mahalul qiyam tadi,” celetuk salah seorang jemaah berspekulasi.
“Di bawah naungan tenda yang ada tanda salibnya?”
“Iya.”
Seisi masjid terperangah.
Yang pasti, beberapa hari setelah peristiwa menggetarkan tersebut, Lucas memantapkan hati untuk mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Hasan, dengan Heru dan Zoya sebagai saksi perjalanan spiritualnya.
Catatan:
Mahalul qiyam bermakna puji-pujian kepada Nabi Muhammad saw. Diberi nama mahalul qiyam karena pada saat itu terjadi momen di mana para jamaah berdiri seolah-olah mengawal kedatangan Nabi Muhammad saw.
Santri PPL Al-Tsaqafah


