ALTSAQAFAH.ID – Lafaz Al-Rahman dan Al-Rahim merupakan sifat Allah yang secara pelafazan sudah sangat melekat dengan lisan setiap muslim karena lafaz Al-Rahman dan Al-Rahim selalu disebut oleh umat Islam sebanyak 34 kali dalam sehari semalam. Dalam satu rakaat salat, seseorang akan mengucapkan dua kali lafaz Al-Rahman dan Al-Rahim. Dalam pemaknaannya, lafaz Al-Rahman dan Al-Rahim sering dimaknai dengan Maha Pengasih dan Maha Penyayang, secara tersirat dua lafaz tersebut memiliki perbedaan dan persamaan makna yang sangat menarik untuk dibahas.
Dalam Al-Qur’an, lafaz Al-Rahman terulang sebanyak 57 kali, sedangkan lafaz Al-Rahim terulang sebanyak 95 kali. Adapun mengenai akar kata dua lafaz tersebut, menurut Ibnu Jarir Al-Thabari dalam tafsirnya bahwa Al-Rahman mengikuti wazan fa’lan yang berasal dari kata Rahima/Rahmah, sedangkan lafaz Al-Rahim mengikuti wazan failun dengan akar kata yang sama. Menurut Imam Muhammad Sayyid Thantawi dalam tafsirnya, al-Tafsir al-Wasith menyebutkan bahwa Al-Rahman mengikuti wazan fa’lan hiya al-sifat al-mubalahgah fi katsratis al-syai wa adhamatihi wa yalzamu minhu al-dawam, sifat yang menuntut makna banyak nan agung serta langgeng adanya, sedangkan lafaz Al-Rahim menunjukkan makna daimur rahmah atau langgengnya rahmat.
Adapun terkait pemaknaannya, Imam Arrazi dalam Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib-nya menyebutkan bahwa sifat Al-Rahman merupakan lafaz khusus yang hanya dinisbahkan kepada Allah Swt., sedangkan lafaz Al-Rahim bisa dinisbahkan kepada Allah dan kepada makhluk-Nya. Seperti dalam surah Al-Isra ayat 110, “Quli ud’u Allah aw ud’u al-Rahman, al-ayat …,” sembahlah Allah atau Al-Rahman atau di surah Al-Zukhruf ayat 45, “Wasal man arsalna min qablika min rusulina, ajaalna min duni al-Rahman alihatan yu’badun,” dan tanyakanlah (Muhammad) kepada Rasul Kami yang telah Kami utus sebelum engkau, apakah Kami menentukan Tuhan selain Al-Rahman untuk disembah? Selain dari Al-Qur’an, terdapat juga dalam hadis qudsi, “Ana Allah wa Ana al-Rahman, khalaqtu al-Rahima wa Syaqaqtu laha min Ismi, fa man washalaha washaltu wa man qataaha batattuhu,” Aku adalah Allah dan Aku adalah Al-Rahman, Aku ciptakan Al-Rahim (kasih sayang/silaturrahim) dan akar katanya Aku ambil dari nama-Ku. Siapa yang menyambungkannya (silaturrahim), maka akan-Ku sambung (rahmat-Ku) untuknya dan siapa yang memutusnya, maka akan Kuputuskan (rahmat-Ku baginya).
Lafaz Al-Rahman dalam dua ayat Al-Qur’an dan satu hadis qudsi di atas merupakan sifat yang dinisbahkan kepada Allah semata, sedangkan lafaz Al-Rahim dalam surah Al-Taubah ayat 128 dinisbahkan kepada Nabi Muhammad saw., “Laqod Ja’akum rasulum min anfusikum azizun alaihima a’nittum harisun alaikum bil mu’minina raufur rahim.” Selain itu, ayat lain yang menunjukkan bahwa lafaz Al-Rahim bisa dinisbahkan kepada Allah dan makhluknya seperti dalam surah Yusuf ayat 64 dengan sebutan Wahuwa Arham al-Rahimin atau dalam surah Al-Mukminun ayat 118, menyebut bahwa Allah adalah Khairur Rahimin. Dari ayat pertama, Al-Rahim dinisbahkan kepada Nabi Muhammad dan ayat kedua serta ketiga memperlihatkan bahwa Allah adalah zat yang paling Rahim dari makhluknya yang sama-sama memiliki sifat Al-Rahim.
Dalam perbedaan maknanya, Ibnu Jarir al-Thabari merinci dalam kitab tafsirnya, Jami’ul Bayan fi Ta’wil Al-Qur’an menuliskan hadis yang diriwayatkan oleh al-Sari bin Yahya al-Tamimi, “Qola; al-Rahman, bi jami’i al-khalqi, al-Rahim, Qola; bi al-mu’minin” bahwa rahmat yang terkandung dalam lafaz Al-Rahman itu diperuntukkan untuk seluruh makhluk-Nya, sedangkan Al-Rahim itu diperuntukkan untuk umat Islam semata. Selain itu, menurut riwayat Abi Said al-Khudri, Rasulullah berkata bahwa Nabi Isa bin Maryam berkata, “Al-Rahman, Rahman al-akhirah wa al-dunia, wa al-rahim, rahim al-akhirah,” Al-Rahman merupakan pancaran rahmat yang Allah berikan bagi makhluk-Nya ketika di dunia dan akhirat, sedangkan Al-Rahim merupakan pancaran rahmat yang Allah berikan ketika di akhirat saja. Dari dua hadis tersebut, Ibnu Jarir al-Thabari dalam tafsirnya menyimpulkan bahwa lafaz Al-Rahman merupakan rahmat Allah yang universal diperuntukkan untuk seluruh makhluk-Nya, sedangkan Al-Rahim merupakan rahmat Allah yang parsial yang dikhususkan untuk sebagian makhluk-Nya saja.
Menurut Imam Fakhrudin al-Razi bahwa lafaz Al-Rahman adalah rahmat Allah berupa penciptaan manusia, alam jagat raya, dan seluruh makhluk-Nya, sedangkan Al-Rahim merupakan rahmat Allah yang bersifat kecil, seperti firman Allah Swt. kepada Nabi Musa a.s., “Ya Musa, Salni an milhi qidrik wa alfi syatik,” wahai Musa, mintalah kepada-Ku garam untuk periukmu dan rumput untuk kambingmu. Pemaknaan yang disampaikan oleh Imam Arrazi ini sejalan dengan yang ditulis oleh Imam Muhammad Sayyid Thanthawi dalam tafsirnya, Tafsir al-Washit, “Al-rahman huwa al-munim bi jalail al-niam wa al-rahim huwa al-mun’im bi daqaiqiha” bahwa Al-Rahman merupakan sifat Allah yang memiliki konotasi makna atas-Nya sebagai zat pemberi nikmat atas hal-hal yang bersifat universal dan agung, sedangkan Al-Rahim sebaliknya, yaitu menunjukkan Allah sebagai zat pemberi nikmat atas hal-hal yang bersifat parsial atau khusus. Imam Thanthawi juga melanjutkan bahwa Al-Rahman merupakan “Mabda al-rahmah wa al-ihsan wa al-rahim shifatu fi’lin tadullu ala wushuli al-rahmah wa al-ihsan wa taadihima ila al-mun’am alaih” bahwa Al-Rahman merupakan sifat yang dimiliki Allah sebagai dasar lahirnya rahmat dan kebaikan-kebaikan, sedangkan Al-Rahim adalah sifat dari pekerjaan yang menunjukkan atas sampainya rahmat dan kebaikan kepada hamba-Nya.
Menurut Imam Arrazi bahwa rahmatnya Allah (rahman-rahim) atas hamba-Nya sangatlah luas dan tidak terbatas, sedangkan maksiatnya manusia itu terbatas. Jika maksiatnya seluruh penduduk bumi dikumpulkan dalam satu tempat, lalu dihadap-hadapkan dengan rahmatnya Allah yang tidak terbatas, maksiat itu seperti tetesan air yang dicelupkan di dalam lautan rahmat. Oleh karena itu, seberapa besar pun dosa yang dimiliki jangan pernah kita berputus asa dari rahmatnya Allah, terus berharap atas limpahan rahmatnya Allah. Imam Arrazi kembali mempertegas bahwa jangan terlalu jauh menganalogikan rahman-rahimnya Allah, lihat saja rahim yang dimiliki oleh seorang ibu kepada anaknya, pasti manusia akan dibuat terpukau melihatnya.
Pada masa Rasulullah saw. ada seorang pemuda bernama Alqomah yang sedang dalam kondisi sakratulmaut. Namun, lisannya kaku dan tidak bisa digerakan untuk mengucapkan kalimat syahadat, kemudian para sahabat mendatangi Rasulullah saw. serta melaporkan kejadian tersebut. Setelah mendengarnya, Rasul datang dan mentalkinnya, tetapi ternyata kondisinya tetap tidak berubah, kaku dan sulit untuk mengucapkan kalimat syahadat. Rasul berkata, “Apakah dia salat, apakah dia puasa, apakah dia berzakat?” Semua sahabat menjawabnya, “Iya.” Melihat tidak ada yang aneh, Rasul kemudian mengajukan kembali pertanyaan, “Apakah dia menyakiti orang tuanya?” Sahabat menjawabnya, “Iya, dia telah menyakiti ibunya sampai salah satu mata ibunya menjadi buta.” Rasulullah saw meminta para sahabat mendatangkan ibunya dan kemudian Rasulullah saw. memintakan maaf kepada ibunya atas perbuatan anaknya. Ibunya menjawab, “Saya tidak akan memaafkannya karena dia telah membuatku buta.” Setelah itu Rasulullah saw. memerintahkan sahabatnya untuk mendatangkan kayu bakar, lalu ibu itu bertanya, “Untuk apa kayu bakar itu?” Rasul menjawab, “Untuk membakarnya di depanmu sebagai balasan atas apa yang dia lakukan kepadamu.” Seketika itu juga sang ibu berkata, “Afawtu-afawtu, saya memaafkannya, apakah hanya untuk dibakar di atas api, saya mengandungnya selama sembilan bulan, apakah hanya untuk api saya menyusuinya selama dua tahun, fa aina rahmatul um? Di mana kasih sayang seorang ibu?”
Setelah kejadian itu, mulut Alqomah kemudian bisa ditalkin dan kemudian ia meninggal dunia. Dari cerita ini, kita bisa mengambil titik temu bahwa sifat rahimnya makhluk saja sudah membuat kita terkagum-kagum, apalagi rahimnya Allah dan lebih jauh lagi, rahmannya Allah.
Guru Nahwu dan Iqtishad di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah

